Pesan Untuk Penonton Film G30S/PKI: Be Smart!
Jumat, 29 September 2017, 02:53 bbwi
SAYA baru saja tuntas membaca bukunya John Roosa berjudul Dalih Pembunuhan Massal—bisa diunduh di sini. Buku ini merupakan hasil disertasi di tahun 2004-2005. Karena disertasi, buku ini ditulis dengan standar yang ketat untuk bisa menampilkan fakta-fakta dan argumen-argumen yang teruji. Namun demikian, gelapnya sumber diakui penulisnya membuat sejarawan sulit memastikan siapa dalang G30S.
Buku ini merupakan buku kedua dari di luar sumber resmi pemerintah yang saya baca. Sementara dari sumber resmi pemerintah, saya membaca dari buku 35 Tahun Indonesia Merdeka yang diterbitkan beberapa jilid, serta dari film G30S/PKI yang saya tonton semasa saya SD.
Referensi saya serasa memang belum cukup. Begitu banyak buku-buku, terutama yang ditulis bukan orang Indonesia yang diterbitkan dalam bahasa Inggris, yang belum saya kuasai. Ada juga buku yang diterbitkan beberapa kalangan yang menurut versinya masing-masing, yang juga belum saya baca; termasuk yang terbitan dari NU.
Namun sedikit banyak saya telah memiliki gambaran tentang apa yang sebenarnya terjadi di masa-masa itu. Kiranya telah cukup jadi bekal sebagai anak-anak bangsa untuk mengetahui peristiwa bersejarah dari bangsanya, tanpa perlu berkutat dengan banyaknya referensi. Dari bekal ini, saya bisa mengambil sikap dan berjaga jarak ketika ada tuding-tudingan siapa yang harus dipersalahkan dalam perjalanan bangsa ini.
Sesuai dengan kaidah pengetahuan, semakin banyak referensi yang teruji semakin berkualitas pengetahuan yang dimiliki seseorang tentang suatu hal. Begitu pula pengetahuan tentang sejarah terjadinya peristiwa Gerakan 30 September di tahun 1965, baik sebelum dan sesudahnya. Pengetahuan tentang sebelum terjadinya peristiwa dapat memberikan gambaran secara luas mengenai keadaan sosial dan politiknya. Pengetahuan tentang ini jadi penting untuk menjawab mengapa hal itu bisa terjadi. Sementara pengetahuan tentang sesudahnya dapat menyusun jawaban-jawaban atas pertanyaan apa sebenarnya terjadi.
Sejauh 52 tahun perjalanan bangsa ini sejak peristiwa 30 September 1965, kejelasan tentang peristiwa tersebut masih kabur. Ini disebabkan adanya monopoli pengetahuan yang telah dijejalkan dalam buku-buku sejarah resmi yang dikeluarkan pemerintah. Ditambah lagi, di tahun ini semenjak 18 tahun silam dihentikan, film yang diklaim sebagai film sejarah G30S diputar kembali.
Dalam film yang disponsori pemerintahan Presiden Suharto sangat jelas tudingannya siapa dalang G30S. Celakanya, ketika orang-orang desa yang dimobilisasi tentara untuk menonton film ini tak memilik akses berkecukupan buat mencari, mengumpulkan, dan membaca banyak referensi; orang-orang tersebut akan selalu menciptakan musuh dalam kehidupan sosial dan politiknya, yakni: PKI.
Benarkah PKI musuh bersama? Bagaimana dengan ketidakadilan sosial? Bagaimana dengan perilaku suap, korup, dan tak jujur dari penyelenggara-penyelenggara negara? Tidakkah lebih baik musuh bersama itu dialihkan dari PKI ke hal-hal yang saya sebutkan belakangan?
Kekhawatiran saya pada penonton film G30S/PKI adalah merasa sudah cukup bekal pengetahuan tentang sejarah bangsanya, lalu main tuding-tudingan saat ada yang memprovokasi. Saya teringat ketika ada orang yang memakai kaos gambar palu arit dihajar ramai-ramai. Atau peristiwa terbaru, ketika LBH sedang memfasilitasi seminar pelurusan sejarah 1965, ditudingnya tengah membangkitkan komunisme.
Saya juga membaca komentar-komentar di berita-berita yang terkait dengan PKI, betapa sadisnya komentar-komentar yang menuding PKI. Sesadis inikah manusia Indonesia?
Mungkin kesadisan ini dibentuk untuk dalih agar paham komunisme tidak menyeruak. Atau mungkin sengaja dipelihara untuk sewaktu-waktu digunakan untuk kepentingan politik. Bisa juga diciptakan untuk bangsa ini agar mudah dipecah, disibukkan dengan urusan-urusan yang harusnya telah selesai, supaya tak maju-maju dalam bersaing dengan negara-negara maju.
Saya teringat dengan adanya penyerahan daftar nama 5.000 orang PKI dari badan intelejen Amerika Serikat (CIA) kepada Angkatan Darat. Inilah pembantaian yang mendapat sponsor dari negara yang mengklaim dirinya sebagai penegak hak asasi manusia. Bukti-bukti adanya sponsor Amerika Serikat telah banyak, setelah dibukanya dokumen intelejen CIA.
Komunisme yang dulunya musuh besarnya Amerika Serikat dengan kapitalismenya, kini jadi musuh bebuyutannya orang Indonesia. Musuh yang tidak jelas keberadaannya, dan musuh yang entah masih ada atau diada-adakan. Musuh yang telah tiada, namun diciptakan semacam ketakutan yang membahana. Lalu ketakutan itupun jadi komoditas politik kelompok tertentu.
Saking berkaratnya memusuhi PKI, kita melupakan adanya peran PKI dalam melawan penjajahan Belanda. Ingatan akan PKI hanya sebatas meletusnya peristiwa 1948, yang kemudian jadi pembenaran untuk mendiamkan adanya pembantaian orang-orang PKI mulai minggu pertama Oktober 1965. Pantaslah untuk kita orang Indonesia disebut dengan manusia pendendam.
Memutar film G30S/PKI tanpa memberikan penyeimbang sumber-sumber sejarah, akan terus menyalakan api dendam tanpa berkesudahan. Selain itu ketidak-seimbangan akan menghalangi kita untuk mengambil sikap yang adil. Untuk menyeimbangkan, memperbanyak referensi sumber-sumber sejarah sudah seharusnya dilakukan dengan pikiran yang lapang dan terbuka.
Bukankah Allah sendiri telah berpesan dalam Al-Maa’idah: 8, "Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan." (*)
*) Penulis adalah pemerhati sosial politik, tinggal di Blora