Menanti Nasib Kurnia Dwi Wahyuni
Senin, 10 Oktober 2016, 18:04 bbwi
Suparmin, ayah Kurnia Dwi Wahyuni mendatangi pos pencarian, menunggu kejelasan nasib anaknya.
SEMARANG (wartablora.com)—Kurnia Dwi Wahyuni, warga Desa Balong, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, yang baru masuk Universitas Negeri Semarang (Unnes) hingga Senin petang (10/10/2016) masih belum jelas nasibnya. Kurnia dikabarkan hanyut di Sungai Curug, Banaran, Gunungpati, Minggu (9/10/2016), saat mengikuti pra pendidikan dasar yang dilakukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mapala (Mahasiswa pecinta alam) jurusan Matematika Fakultas Matematika dan IPA (MIPA) Unnes di Sungai Segoro. Kurnia hanyut bersama 2 temannya. Dua teman Kurnia sudah ditemukan dalam keadaan selamat, sementara Kurnia masih belum jelas keberadaannya.
Dalam foto yang diunggah jateng.tribunnews.com, tampak ayah Kurnia yang datang di pos pencarian sambil menunggu nasib anaknya. Sementara tim gabungan dari Brimob Polda Jateng, Tim Badan SAR Nasional Kota Semarang, Polrestabes Semarang dan Koramil Gunung Pati terus melakukan pencarian hingga Senin petang.
Kepada dikutip dari jateng.tribunnews.com, Humas Basarnas Kantor SAR Semarang, Maulana Affandi, mengatakan, pihaknya menerjunkan tim penyelam untuk menemukan keberadaan Kurnia.
"Ada satu tim beranggotakan empat orang penyelam kami terjunkan. Penyelam kami fokuskan di aliran curug dan palung sungai segoro Banaran," kata Affandi, Senin (10/10/2016), dikutip wartablora.com dari jateng.tribunnews.com.
Selain fokus di lokasi sekitar jatuhnya korban, tim gabungan juga menyisir sepanjang sungai hingga ke muara di Banjir Kanal Barat.
Tidak Sesuai Protap
Sementara itu terkait dengan kegiatan ini, Affandi menyebut UKM Mapala Jurusan Matematika MIPA Unnes tidak melakukannya sesuai prosedur tetap. Pihak SAR Kota Semarang sama sekali tidak diberitahukan adanya kegiatan ini. Padahal, Affandi menegaskan, dengan memberitahukan kegiatan tersebut, SAR Kota Semarang dapat melakukan pengawalan agar sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi.
"Kegiatannya tidak sesuai protap, mereka tidak memberikan pemberitahuan," kata Affandi, seperti dilansir wartablora.com dari jateng.tribunnews.com.
"Bersurat secara resmi minimal memberitahukan secara lisan. Tujuannya agar kami bisa bantu memantau atau menjaga. Kalau ada pemberitahuan, kami bisa memantau kondisi cuaca. Kalau kasus ini kami bisa pantau kondisi cuaca di bagian atas sungai (Ungaran) agar ada antisipasi. Ini tidak, pemberitahuan lisan pun tidak ada," katanya.
Hanya Tas yang Ditemukan
Minggu malam (9/10/2016), tim SAR hanya menemukan tas milik Kurnia. Dalam tas berwarna coklat tersebut, terdapat tenda, baju, peralatan mandi dan makan.
"Kami temukan tas itu terbawa arus sungai kawasan Kalialang. Kami kejar hingga Pleret," kata Affandi.
Kampus Akan Perketat Ijin
Fathur Rokhman, Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengatakan, akan memperketat ijin untuk kegiatan kampus yang dilakukan di alam bebas.
"Kedepan memang kami perlu meminta ke fakultas untuk meninjau kegiatan-kegiatan mahasiswa yang berisiko, dan lebih harus hati-hati untuk memberikan ijin terutama saat kondisi alam sedang tidak menentu seperti sekarang ini," kata Fathur, seperti dikutip dari jateng.tribunnews.com.
Fathur menyebut lokasi yang digunakan pra pendidikan dasar tersebut sebenarnya sudah jauh dari resiko.
"Sebenarnya mahasiswa juga sudah memilih tempat dengan meminimalisir risiko, mereka pilih di pinggir parit saya sebut parit karena lebarnya hanya tiga meter, dalamnya hanya 30 sentimeter," katanya.
Polisi Akan Selidiki
Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abioso Seno Aji menyebutkan akan melakukan pemeriksaan terhadap penanggung jawab kegiatan yang menyebabkan Kurnia hilang. Kombes Seno Aji akan melakukan pengecekan apakah kegiatan tersebut sudah sesuai protap ataukah belum.
"Akan kami cek, apakah betul kegiatannya sesuai protap atau tidak," katanya.
Kombes Seno Aji menyanyangkan kegiatan yang tidak memperhatikan faktor cuaca itu.
"Harusnya cuaca jadi pertimbangan, jangan dipaksakan. Cari waktu yang memang lebih aman," katanya. (*)