Melihat Persiapan 410 Satgas ke Papua
Malaria Jadi Musuh Selain Separatis Bersenjata
Jumat, 07 April 2017, 19:59 bbwiOleh : Gatot Aribowo
Pasukan Yonif 410/Alugoro digelar untuk diperiksa kesiapannya sebelum diberangkatkan tugas pengamanan perbatasan Papua-Papua Nugini.
Papua terkenal dengan malarianya. Pernah suatu ketika di 2006 satgas yang baru tiba, prajuritnya banyak yang kena malaria. Lalu bagaimana persiapan prajurit 410 menghadapi malaria?
SEORANG tentara berpangkat prajurit dua tengah berjongkok. Dibukanya tas loreng yang menyimpan perlengkapan. Cekatan ia membongkar isi tas. Dicarinya botol yang diminta dikeluarkan sama sang jenderal. Setelah ketemu, iapun bergegas berdiri.
"Siap," pekiknya sambil memberikan botol berbungkus plastik yang di-pres ke Jenderal berbintang dua itu.
"Ini bagaimana cara pakainya?" tanya sang Jenderal.
"Siap, dioleskan ke seluruh tubuh," jawab si prajurit.
"Muka diolesi tidak?" tanya sang Jenderal lagi.
"Siap," pekik si prajurit.
Si prajurit itu adalah salah satu dari 450 prajurit TNI AD yang bermarkas di Batalyon Infanteri (Yonif) 410/Alugoro. Sementara jenderal itu berbintang dua. Dia adalah Asisten operasional Panglima TNI Mayjen TNI Lodewyk Pusung. Didampingi Wakil Kepala Pusat Kesehatan (Wakapuskes) TNI Laksamana Pertama Drg. Andriani, Sp.Ort dan Kepala Staf Kodam IV/Diponegoro Brigjen Sabrar Fadhilah beserta jajaran Kodam IV/Diponegoro, Jumat (7/4/2017), Mayjen Lodewyk berkesempatan memeriksa pasukan 410/Alugoro yang tengah gelar pasukan untuk persiapan Satgas (satuan tugas) pengamanan perbatasan Papua-Papua Nugini.
Salah satu yang menjadi perhatian Asops saat memeriksa pasukan adalah pencegahan malaria. Penyakit yang satu ini menjadi momok bagi siapa saja yang belum pernah ke Papua. Karena itu Asops ingin benar-benar tahu jika masing-masing prajurit telah dibekali lotion untuk mencegah nyamuk penyebab malaria singgah di tubuh prajurit. Lotion itulah yang diminta Sang Jenderal pada si Prajurit tadi.
"Setiap pulang dari penugasan pasti ada saja yang terkena malaria," kata Asops saat memberikan pesan kepada prajurit 410.
Saking seringnya kejadian, Asops akan mengusulkan salah satu keberhasilan tugas pengamanan di Papua adalah sedikitnya personil yang kena malaria.
Sebagai persiapan melawan malaria, setiap prajurit dibekali sebanyak 6 botol lotion. Botol itu panjang seperti botol shampo. Warnanya loreng. Diplastik dengan pres-presan. Ada logo Mabes TNI di sisi depan atas, yang di bawahnya ada tulisan huruf besar TNI. Di bawahnya ada tulisan semacam nama produk: Losion Anti Serangga (Insect Repellent). Isinya 100 mililiter.
Di bagian belakang botol ada bacaan aturan pakainya dan perhatiannya. Secara aturan pakai, losion ini harus diusapkan ke bagian-bagian tubuh yang tak tertutup pelindung. Seperti muka, leher, lengan, atau kaki. Sementara perhatiannya adalah jangan sampai terkena mata dan bagian tubuh yang terluka. Losion ini punya masa berlaku yang cukup panjang, yakni hingga 2 tahun mendatang. Ini sudah cukup untuk penugasan selama di Papua.
Prajurit 410 ini nantinya akan menggantikan Satgas 516/Branjangan yang telah bertugas selama 9 bulan di perbatasan Papua-Papua Nugini. Tempat penugasannya masuk di Kabupaten Keerom, Papua. Ini sekitar 2 jam jarak tempuh dari Jayapura, kota Provinsi Papua.
Komandan Yonif 410/Alugoro Letkol (inf) Heri Amrulloh mengatakan, pemberangkatan satgas adalah pekan depan. Ini adalah kali kedua 410 bertugas ke Papua. Sebelumnya di 2013, saat Danyonifnya Letkol (inf) Heri Purnomo, 410 ditugaskan di perbatasan yang ada di Merauke.
"Pekan depan berangkatnya," katanya.
Menariknya dalam pemberangkatan ini ada 8 prajurit TNI yang berdarah asli bumi Cenderawasih. Dua diantaranya bernama Lucy Y Matuan dan Wilhelmus. Nama yang terakhir itu berasal dari Merauke.
Dalam pemeriksaan pasukan tersebut, Asops Mayjen TNI Lodewyk juga mengecek helm perang yang hendak dibawa prajurit. Asops sempat kecewa dengan helm tersebut yang tidak bisa dikancingkan.
Sebagai penutup, Asops berpesan untuk menjauhkan perangkat telepon genggam saat bertugas.
"Kalau sudah pegang hape, lupa segalanya. Bisa-bisa musuh ambil kalian punya senjata. Pesan yang terakhir, kalian berangkat dengan selamat, pulang harus dengan selamat pula," instruksi Asops Mayjen TNI Lodewyk. (*)