Rebutan Samin dalam Pabrik Semen
Antara Membela Beras dan Membela Semen
Senin, 19 Desember 2016, 20:00 bbwi
Lasiyo, salah seorang tokoh Samin di Blora yang memiliki padepokan Sedulur Sikep Samin. Lasiyo tinggal di Dukuh Karangpace, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora.
Fokus Berita Ijin Baru Pabrik Semen Rembang
Untuk "melawan" opini publik yang dibangun film dokumenter Samin vs Semen, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendatangkan 20-an orang-orang Samin. Tujuh di antaranya didatangkan dari Blora.
BLORA (wartablora.com)—Kamis pekan lalu (15/12/2016) sejumlah tokoh Samin dari 4 daerah (Kudus, Pati, Blora, dan Bojonegoro) diberitakan mendatangi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk menyampaikan pendapatnya soal pro kontra pembangunan pabrik semen. Dari Blora sendiri berangkat 7 orang, termasuk Lasiyo. Mereka diberangkatkan dengan menyewa kendaraan.
Lasiyo yang bertempat tinggal di padepokan Sedulur Sikep Samin di Dukuh Karangpace, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora mengaku jika dirinya tidak tahu akan dimintai pendapat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo soal pro kontra berdirinya pabrik semen di Rembang. Lasiyo bahkan menegaskan tidak akan datang jika dirinya tahu akan dimintai pendapat soal pro kontra tersebut.
"Tidak (akan datang). Sebab saya tidak ingin membuat permusuhan dengan siapapun, termasuk yang menolak pabrik semen," tegasnya dalam bahasa Jawa saat ditemui wartablora.com, Senin (19/12/2016).
"Sebelumnya saya ditelpon sama Pak Anton," tutur Lasiyo masih dalam bahasa Jawa.
Anton bukanlah utusan Gubernur Jawa Tengah. Setahu Lasiyo, Anton aktif berkegiatan kebudayaan di Semarang. Sudah 4 tahun Lasiyo berhubungan dengan Anton. Lasiyo bersama beberapa tokoh Samin dari Blora sering diajak Anton berkunjung ke kyai.
"Pak Anton menyampaikan ke kami jika Gubernur ingin ketemu. Tapi katanya untuk urusan nguri-uri kabudayan (melestarikan budaya). Saya tidak diberitahu kalau akan membahas soal pabrik semen," kata Lasiyo tetap dalam bahasa Jawa.
Walau begitu Lasiyo mengaku tidak merasa sedang "diperalat" Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk bermusuhan dengan Gunretno, salah seorang tokoh Samin dari Pati yang getol membela sebagian petani di Pati dan Rembang yang melakukan penolakan berdirinya pabrik semen.
"Dalam ajaran Sikep tidak boleh bermusuhan dengan siapapun. Saya tidak mau bermusuhan dengan Gunretno, saya juga tidak ingin bermusuhan dengan sedulur pabrik semen," tandas Lasiyo.
Kegigihan Gunretno dalam membela pangan ini tidak mendapat dukungan dari tokoh Samin lainnya, termasuk Lasiyo. Padahal, "Kami semua adalah petani. Saya menggarap lahan di milik Perhutani," kata Lasiyo.
Gunretno, kata Lasiyo, pernah dua kali datang ke Blora mengajaknya untuk melakukan penolakan pabrik semen. Namun, "Saya tidak mau. Saya tidak ada urusan dengan itu. Itu wilayah mereka. Lagi pula saya sibuk urus diri sendiri untuk menyambung hidup," tandas Lasiyo.
Jika di sesama penganut ajaran Samin Gunretno tidak mendapat dukungan solidaritas perlawanan dalam pembelaan pangan, lain halnya dari kalangan jurnalis. Dandhi Dwi Laksono, jurnalis pembuat film dokumenter, tahun lalu membuat liputan penolakan petani terhadap berdirinya pabrik semen. Liputan yang dikemas dalam film dokumenter sepanjang lebih 39 menit tersebut diberi judul Samin vs Semen. Judul inilah yang memicu Ganjar Pranowo untuk mengundang tokoh-tokoh Samin (selain Gunretno) ke Semarang pekan lalu.
"Kulo ndeleng (saya lihat) video Samin lawan (vs) Semen. Nopo leres onten cerios niku (apa betul ada cerita itu)?" begitulah pembuka Ganjar Pranowo saat berdialog dengan tokoh-tokoh Samin tersebut, seperti dikutip wartablora.com dari situs Merdeka.
Mendatangkan tokoh-tokoh Samin ini ditengarai Dandhy sebagai upaya rebutan (ajaran) Samin dalam pro kontra pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng. Dalam akun facebooknya, Dandhy memposting foto-foto yang memuat simbol-simbol tradisi vs modern yang memancing berpikir kemurnian ajaran Samin.
Dandhy juga memposting adanya perlawanan di ajaran Samin Surosentiko dalam hal kolonialisme. Posting ini untuk menanggapi adanya sikap tidak mendukung dan tidak menolak adanya pembangunan pabrik semen di Rembang yang dilontarkan beberapa tokoh Samin yang diundang Ganjar Pranowo, termasuk Lasiyo. Walaupun dalam wawancaranya dengan wartablora.com Lasiyo nampak cenderung mendukung pembangunan pabrik semen.
"Pertanian sekarang sudah tidak bisa diandalkan. Kalau saya punya sawah satu hektar dan memiliki 4 anak, itu lahan akan berkurang. Jadi gak bisa semua bekerja di pertanian. Kalau ada pabrik semen kan mengurangi pengangguran, dan bisa menyambung hidup," Lasiyo coba membangun argumen. (*)