Menengok Rumah Masa Kecil Pram (Bagian 1)
Lambang Kebangkitan Blora yang Sekedar Cita-cita
Sabtu, 14 Januari 2017, 18:22 bbwiOleh : Gatot Aribowo
Soesilo Toer, duduk di teras rumah masa kecil Pramoedya Ananta Toer. Rumah masa kecil Pram ini pernah dicita-citakan hendak dikelilingi bangunan tinggi.
Pram pernah bekeinginan membangun rumah masa kecilnya menjadi bangunan tertinggi di Blora. Bangunan yang menjadi simbol kebangkitan Kota Blora.
RUMAH itu terletak di sudut Jalan Sumbawa, berpintu gerbang pagar kayu setinggi setengah kaki orang dewasa yang menutupnya cukup dengan ditali. Di ujung depan yang menghadap jalan ada pos kamling yang tak terawat lagi. Saat kaki melangkah masuk, alang-alang tumbuh subur di pelataran sisi kanan rumah. Ada seekor kambing di sana yang diikat di sebatang pohon jambu.
Di rumah itulah Pramoedya Ananta Toer hampir seabad silam dilahirkan. Rumah itu sekarang ditinggali Soesilo Toer, adik Pramoedya nomor 6. Pak Sus, demikian Soesilo Toer biasa disapa, tinggal bersama istri dan anak tunggalnya yang usianya baru seperempat abad.
"Saya tinggal bersama istri dan anak saya satu-satunya. Kalau hari Sabtu gini, istri pulang ke rumah orang tuanya," kata Pak Sus saat wartablora.com berkunjung di akhir pekan ini, Sabtu (14/1/2017).
Mereka 8 bersaudara. Sepuluh, sebenarnya. "Tapi yang pertama, ibu keguguran. Kemudian yang bungsu, Soesanti, meninggal saat usia 7 bulan. Meninggalnya berbarengan dengan ibu di tahun 1942," kenang Pak Sus.
Pram lalu jadi sulung dari keluarga Toer, seorang guru yang pernah mendirikan Instituut Boedi Oetama, yang letaknya sekarang ditempati SMP Negeri 5 Blora. Toer sendiri sebelumnya seorang guru di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Rembang. HIS adalah sekolah yang didirikan Belanda untuk pribumi.
"Di tahun 1922 Bapak pindah ke Blora. Ketika itu ada penawaran dari Bupati Blora saat itu untuk siapa saja yang mau meneruskan sekolahan Boedi Oetomo akan didukung secara materiil," kisah Pak Sus.
Toer tertarik saat mendengar adanya tawaran itu. Pindahlah ia ke Blora di tahun 1922 untuk meneruskan sekolahan Boedi Oetama, walaupun kelak ia akhirnya terpaksa membiayai sekolah tersebut dikarenakan Bupati yang menjanjikannya keburu tutup usia.
Sekolah Boedi Oetomo menurut Soesilo Toer didirikan oleh Dr. Seotomo, seorang tokoh pergerakan nasional yang mendirikan Boedi Oetomo pada 1908. "Dr. Seotomo pernah di Blora di tahun 1917, mendirikan sekolahan Boedi Oetomo hanya dua kelas, sampai kelas 2. Hanya setahun Dokter Soetomo di Blora, lalu pindah. Kemudian oleh Bapak (Toer) dilanjutkan dengan menambahi istituut di depannya. Istituut, u-nya dobel. Itu bahasa Belanda. Sama Bapak ditambah jadi 7 kelas," tutur Soesilo.
Di sekolahan yang didirikan ayahnya itulah Pram merampungkan 7 tahun sekolahnya, sebelum memutuskan merantau ke Surabaya di usia belia.
"Pram sempat sakit hati sama Bapaknya waktu ia hendak memutuskan keluar dari sekolah sebelum masanya dan ingin merantau. Pram dibilang bodoh sama Bapaknya dan disuruhnya sekolah lagi. Sakit hati itu yang ia bawa sampai masa tua. Sakit hati itu pula yang membuat ia ingin lebih besar dari Bapaknya untuk bisa mendirikan bangunan tertinggi di Blora," cerita Soesilo.
Jika ayahnya mendirikan sekolah Instituut Boedi Oetama, Pram ingin mendirikan bangunan berlantai 3 di area rumah masa kecilnya.
"Bangunan yang ingin dijadikan lambang kebangkitan Kota Blora," ujar Soesilo.
Bangunan itu direncanakan Pram tidak dengan merobohkan rumah tua yang ada sekarang. Namun, kata Soesilo, bangunan rumah tua tetap ada di dalamnya.
"Di atasnya," kata Soesilo, "dibangun lantai 2 dan 3. Jadi rumah tetap, dikelilingi bangunan bertembok. Itu keinginan jauh sebelum ada bangunan gereja Bethany yang tertinggi di Blora. Tapi baru akan diwujudkan 3 tahun sebelum meninggalnya Pram."
Sayang, bangunan yang dicita-citakan itu tak jadi diwujudkan. Penyebabnya Pram ngambek gara-gara adiknya pas, yakni Prawito atau dikenal juga dengan Waluyo Adi Toer marah-marah.
"Prawito dulu yang menempati kamar tengah itu," cerita Soesilo sambil menunjukkan letaknya dari samping rumah.
Prawito marah, sebabnya sepele. Kamar Prawito kebanjiran setelah galian pondasi dipenuhi dengan air. Saat itu niat mendirikan bangunan sudah mau diwujudkan. Soesilo yang masih tinggal di Bekasi, dipasrahi Pram untuk membangun pondasinya terlebih dulu. Di tahun 2003, Soesilo bolak-balik dari Bekasi ke Blora untuk mengerjakan pondasi bangunan, sebelum akhirnya setahun kemudian memutuskan pindah dan menetap di Blora setelah rumahnya di Bekasi kena gusur.
"Setelah kena marah dari Prawito, Pram memutuskan menghentikan kucuran dananya untuk membangun bangunan yang dicita-citakan itu," kisah Soesilo. (bersambung)