wartaEdukasia Napak Tilas News Features

Menengok Rumah Masa Kecil Pram (Bagian 4/Habis)

Dapur Itupun Jadi Perpustakaan

Senin, 13 Februari 2017, 20:43 bbwi
Oleh : Gatot Aribowo
Foto: Gatot Aribowo/wartablora.com

Mahasiswa dan mahasiswi UGM tengah ngobrol dengan Soesilo Toer di kunjungan mereka, Sabtu (14/1/2017).


Bekas dapur itu kini jadi perpustakaan. Tempat bertamunya pengagum Pram, untuk sekedar mendengar kisah Pram di masa silam.

Bagian Sebelumnya
Menengok Rumah Masa Kecil Pram (Bagian 1)
Menengok Rumah Masa Kecil Pram (Bagian 2)
Menengok Rumah Masa Kecil Pram (Bagian 3)

SUATU siang di medio JanuariTiga mahasiswi dan 1 mahasiswa sedang tak ada kegiatan di hari mereka dapat tugas magang. Mereka berempat kuliah di UGM. Tidak sefakultas atau sejurusan, mereka kebetulan magang di tempat yang sama, di Pertamina EP Cepu. Nur Fatiha Sartika, salah satu dari mereka tiba-tiba saja menyatakan keinginannya pada 3 temannya.

"Kita ke Pataba," cetusnya di suatu siang itu.

Ajakan Fatiha disambut teman-temannya. Bersepeda motor mereka menempuh jarak lebih 34 kilometer ke Blora. Tak sulit mereka menemukan Pataba, perpustakaan yang dibuat tak lama setelah meninggalnya Pramoedya Ananta Toer di akhir April 2006.

Fatiha, dan 3 temannya adalah 4 dari sekian ratus tamu luar Blora yang berkunjung ke Pataba setiap tahunnya. Mereka yang datang dari mahasiswa, wartawan, penulis, pelajar, pejabat pemerintah, juga pekerja swasta. Mereka telah mengenal Pram, mengaguminya, dan sebagian pembaca tekun buku-buku karya Pram.

"Oh kalau itu saya punya, tapi belum habis bacanya," kata Fatiha dalam obrolannya dengan Soesilo Toer. Mereka tengah membicarakan Gadis Pantai, salah satu karya cerita bersambung dari Pram.

Dari Wikipedia, Gadis Pantai merupakan satu dari lebih 50 karya buku yang dibuat Pramoedya sejak 1946. Karya pertama Pram adalah Sepoeloeh Kepala Nica, dan karya terakhir di 2005 berjudul Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.

"Ada lebih 50 buku yang ditulis sama Pram," sebut Soesilo Toer, adik ke-6 Pramoedya yang mencetuskan nama Pataba untuk perpustakaan yang dibuatnya 11 tahun silam.

Dari lebih 50 buku yang ditulis Pram, perpustakaan Pataba baru menyimpan 40-an buku. Sebagian hilang, dipinjam tak kembali. Karenanya, Soesilo kapok untuk meminjamkan buku-buku karya Pram yang ia miliki ke pengunjung Pataba. Soesilo akan lebih memilih untuk mem-fotocopy-kannya ketimbang meminjamkan buku. Apalagi sangat susah mencari buku-bukunya Pram. 

"Pram tidak pernah memberi buku-bukunya ke saya. Sejak dulu saya disuruh cari sendiri, disuruh beli sendiri. Buku Pram pertama yang saya koleksi judulnya Subuh. Lalu buku-buku lainnya, ditambah pemberian tamu atau teman yang berkunjung, jumlahnya jadi sekitar 40-an buku," kata Soesilo.

Total, Soesilo menyebut koleksi perpustakaan Pataba hingga kini telah mencapai 7 ribuan buku. Sebagian koleksinya sendiri, sebagian lagi pemberian teman. Pram sendiri menyumbang buku-buku hasil terjemahannya. Namun bukan ke Pataba tapi ke adiknya secara pribadi.

"Pram tidak pernah mencetuskan ide untuk mendirikan perpustakaan, apalagi perpustakaan di Blora. Pram hanya pernah mencetuskan ide akan membuat rumah kebangkitan Blora yang tidak jadi dibikin itu. Perpustakaan sepenuhnya ide saya, untuk mengenang Pram," kata Soesilo.

Jauh sebelum mencetuskan ide Pataba, Soesilo telah memiliki perpustakaan pribadi. Buku-buku ia koleksi sejak dekade 1980-an ketika ia jadi dosen di Untag Jakarta. Separo gaji dari dosen ia belanjakan untuk beli buku-buku. Mulanya, selain sebagai koleksi pribadi, juga untuk menarik minat mahasiswa-mahasiswanya untuk berkunjung ke rumahnya dan menemaninya. Maklum, ia sendirian saat itu.

"Terakhir jumlah yang saya koleksi mencapai 500-an buku, dan saat saya pindah ke Blora tahun 2004 saya bawa semua," kata Soesilo.

Ide Soesilo membuat perpustakaan muncul beberapa minggu setelah kematian Pram. Ide itu semula hanya untuk menyediakan bahan-bahan bacaan di lingkungan RT-nya. Kelak, tak satupun warga di lingkungan RT-nya yang meminjam buku.

Nama Pataba pertama dicetuskan Soesilo untuk membawa nama Blora di belakang popularitas nama Pram. Pataba di awal oleh Soesilo merupakan singkatan dari Pramoedya Ananta Toer Anak Blora. Lalu dipertegas Blora-nya untuk embel-embel Pram.

"Jadinya Pramoedya Ananta Toer Anak Blora Asli. Belakangan kok terkesan tak enak. Lalu jadilah Pramoedya Ananta Toer Anak semua Bangsa," cerita Soesilo.

Setelah ide membuat perpustakaan muncul, ruangan bekas dapur yang telah dijadikan ruang tamu dan kamar dipakai untuk menaruh rak-rak buku. Berderet foto dan lukisan Pram pemberian dari pengunjung dipajang.

"Dulu ini dapur," kenang Soesilo, "memanjang sampai ke pohon jambu itu," katanya sambil menunjuk pohon jambu di depan ruang perpusatakaan itu.

Letaknya di sisi kanan rumah utama, dibongkar di 2003 atas biaya Pram. Saat dibongkar, tiang-tiangnya sudah rapuh. Namun Pram membongkarnya bukan untuk dijadikan perpustakaan tapi jadi ruang tersendiri yang memiliki kamar tidur dan toilet sendiri dengan pintu terpisah dari rumah utama. Jadinya bisa dijangkau dari samping rumah tanpa perlu masuk ke rumah utama, agak menjorok ke dalam.

Di tempat ini pula Soesilo menemui tamu-tamunya yang berkunjung. Jika buku tamu masih tersedia baris-baris kosongnya, tamu diminta untuk menulis nama, alamat, dan tanda tangan. Buku tamu itu sudah penuh di akhir Januari 2017. Ratusan pengunjung telah tercatat di buku tamu itu sejak tahun lalu. Ada dari Jakarta, Semarang, Solo, Jogja, dan luar pulau.

Anda sudah mencatatkan nama di buku tamu Pataba? (habis)



Warta Lainnya

Selasa, 12 Juni 2018 | 20:34 bbwi

Lomba-Lomba Literasi di DPK Blora
Senin, 18 Desember 2017 | 20:52 bbwi

Giat Literasi di Sekolah
Jumat, 15 Desember 2017 | 13:25 bbwi

Dari Sarasehan Kamaba Peringati HUT Blora ke-268
Minggu, 10 Desember 2017 | 06:28 bbwi

Selasa, 07 Februari 2017 | 18:19 bbwi