Kurnia Dwi Wahyuni Dimakamkan
Selasa, 11 Oktober 2016, 18:00 bbwi
Suparmin, berbaju biru (kanan dalam foto), ayah Kurnia Dwi Wahyuni mengiringi jenasah anak perempuannya ke pemakaman tak jauh dari belakang rumahnya.
BLORA (wartablora.com)—Kurnia Dwi Wahyuni, mahasiswi Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang meninggal dalam tragedi pra Pendidikan Dasar Mapala dimakamkan Selasa siang (11/10/2016). Yuni—panggilan akrab gadis belasan tahun ini—diberangkatkan ke pemakaman yang tak jauh dari rumahnya sebelum tengah hari. Jenasah Yuni tiba Selasa dinihari.
Suparmin, ayah Yuni, tampak mengiringi jenasah anaknya ke pemakaman. Sementara ibunya, Surani, tak turut serta. Hadir dalam pemakaman Yuni, beberapa civitas Unnes, Ketua Pengadilan Negeri Blora, dan rekan-rekan kerja dari Suparmin yang merupakan pegawai di PN Blora, juga beberapa jaksa dari Kejaksaan Negeri Blora.
Teman-teman Yuni yang seangkatan dengannya di SMA 1 Tunjungan juga nampak dalam penghormatan terakhir untuk Yuni. Tak ketinggalan adik-adik kelasnya di SMA 1 Tunjungan.
Yuni, Senin malam ditemukan jenasahnya dalam keadaan mengapung sejauh 7 kilometer dari tempat dia jatuh tergelincir terseret arus. Yuni ditemukan setelah tenggelam dari Minggu siang hingga Senin malam. Harapan untuk Yuni selamat sempat dipanjatkan dalam doa di rumah orang tua Yuni di Desa Balong, Kecamatan Jepon, Senin malam.
Namun malang bagi keluarga Suparmin ini. Anak perempuan satu-satunya itu meninggal setelah mengikuti pra pendidikan dasar mahasiswa pecinta alam di kampusnya pada Minggu siang (9/10/2016).
"Yuni memang suka petualangan. Wajar jika dia ikut di Mapala" kenang salah seorang teman sepermainan Yuni di SMA 1 Tunjungan.
Teman sepermainan Yuni juga kuliah di Semarang, namun tak sekampus dengan Yuni. Bersama teman-teman seangkatan, ia menyempatkan diri untuk hadir dalam pemakaman Yuni.
Selain teman-teman semasa SMA Yuni, tampak pula teman-teman Yuni yang turut dalam pra pendidikan dasar tersebut. Ada Dian Candra dan Aditya Ravelino. Dua teman Yuni ini adalah mereka yang ikut jatuh terseret arus, tapi bernasib baik dapat diselamatkan.
Salah seorang dari mereka, yakni Aditya Ravelino, menceritakan pengalaman traumatis ini. Bagaimana kisahnya? Ikuti kisahnya di sini. (*)