wartaBerita Peristiwa News Features

Dia yang Terselamatkan

Kisah Dua Jam Aditya Bertahan dari Ancaman Maut

Selasa, 11 Oktober 2016, 16:41 bbwi
Foto: wartablora.com

Aditya Ravelino, korban selamat dalam tragedi Pra Pendidikan Dasar Mapala Unnes. Masih nampak bekas luka di pelipis kanannya.


Pengalaman siang itu mungkin tak akan pernah hilang dalam ingatan Aditya Ravelino. Betapa tidak. Ia yang terseret arus air bah itu masih bisa selamat. Sementara, Kurnia Dwi Wahyuni, bernasib malang. Yuni ditemukan dalam keadaan tak bernyawa setelah lebih dari 24 jam tenggelam diseret arus air bah.

ADITYA Ravelino, adalah satu dari 2 orang yang selamat dari tragedi pra Pendidikan Dasar Mapala Unnes. Ia bersama Dian Candra bernasib baik ketimbang Yuni—panggilan akrab Kurnia Dwi Wahyuni. Aditya adalah satu dari 3 mahasiswa Unnes yang tenggelam terseret arus bah dalam tragedi Pra Pendidikan Dasar Mapala Matematika Unnes.

Aditya hadir dalam acara pemakaman Yuni di Desa Balong, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada Selasa siang (11/10/2016). Dalam kesempatan itu, Aditya bercerita pengalaman traumatis ini.

Siang itu, Minggu, 9 Oktober, Aditya, Dian Candra, dan Yuni, juga 8 kawan mahasiswa lainnya yang sejurusan dengan mereka di Matematika MIPA Unnes tengah mengikuti serangkaian acara penutupan pra pendidikan dasar yang digelar senior-seniornya di Mapala Matematika Unnes. Acara dilangsungkan tak jauh dari air terjun yang ada di Sungai Segoro. 

"Kami berdiri di bebatuan yang ada di bagian dangkal sungai itu," kisah Aditya.

Cuaca dalam keadaan cerah. Tidak ada mendung, apalagi hujan yang akan turun. Aditya berdiri di antara bebatuan. Ada 13 mahasiswa dan mahasiswi baru jurusan Matematika Fakultas MIPA Unnes yang ikut unit kegiatan mahasiswa ini.

"Adam dan Hafis datangnya terlambat."

Adam Febrian Santoso dan Hafis Ardian inilah yang berlari dari kejauhan untuk memperingatkan ada air bah yang datang menuju tempat berdirinya Aditya dan kawan-kawan.

"Kami melihat mereka dan beberapa kakak senior yang datang terlambat berlarian ke arah kami," kenang Aditya.

Suara air terjun yang cukup bising di telinga mereka, tak mampu menangkap apa yang diteriakkan Adam dan Hafis. Secepat gelombang suara, secepat itu pula air bah itu datang tiba-tiba. 

"Kami coba bertahan dengan saling berpegangan tangan," tersengal Aditya bercerita kejadian ini.

Antara doa dan tenaga untuk bertahan agar tak terseret arus yang kencang itu, Aditya, Dian, Yuni, dan teman-temannya berusaha untuk bererat kuat memegang tangan di kanan kirinya. Di tepian, senior mereka juga sekuat tenaga untuk mengambil mereka dari tengah sungai.

Tiba-tiba saja, satu di antara mereka, terpeleset. Jatuh.

Teman yang terdekat berusaha meraihnya, namun jatuh pula. Ranting yang dipeganginya tak kuat menahan beban. Berjatuhanlah mereka.

Aditya, Dian, dan Yuni terseret.

Di tengah gelombang air bah, Aditya masih berusaha meraih apa saja yang bisa diraih untuk menghentikan dirinya terseret jauh. 

Byur, dua kali Aditya jatuh di kedalaman sungai yang curam.

"Jurang," demikian Aditya bercerita.

Aditya sudah tak lagi mampu melihat ke mana Yuni dan Dian terseret. Entah di depannya atau di belakangnya. Di antara hidup atau mati, Aditya terus dan terus berusaha untuk melihat apa yang bisa dia raih buat pegangan hidup.

Ada batu besar. Ia berusaha menujunya. Berhasil. Ia terengah, dalam keadaan lemas setelah mengarungi selama 2 jam terseret arus.

Aditya pun dijemput seniornya, mengangkatnya dari balik batu besar itu. (*)



Warta Features

Mengenal Jamaah Maiyah
Minggu, 30 Oktober 2016 | 02:21 bbwi

Rabu, 30 November 2016 | 12:59 bbwi

Seluk Beluk Ujian SIM C
Kamis, 08 Desember 2016 | 20:31 bbwi

Menengok Pos Pengamanan Natal dan Tahun Baru
Senin, 26 Desember 2016 | 14:47 bbwi

Minggu, 11 September 2016 | 18:14 bbwi