Seluk Beluk Ujian SIM C
Susahnya Melintas di Persimpangan 8
Kamis, 08 Desember 2016, 20:31 bbwi
Seorang peserta ujian saat melalui persimpangan 2 lingkaran berbentuk angka 8. Di titik persimpangan inilah aksi akrobatik anda akan muncul.
Tak lagi mudah, tapi mengajarkan tantangan. Tak hanya tangkas dalam teori, namun harus tangkas dalam praktik. Itulah yang akan anda alami saat mengikuti ujian SIM C. Bagaimana seluk beluk ujiannya? Wartawan kami, Gatot Aribowo menuliskannya untuk anda.
EDI Riyanto, warga Desa Kamolan RT. 01/RW. 07 itu baru seminggu lalu pulang dari Bekasi. Ia minta ijin ke tempatnya bekerja untuk mengambil cuti seminggu. Ada satu urusan penting yang harus ia tuntaskan di kota Blora, kota tempat ia tercatat sebagai pemegang KTP. Urusan itu adalah untuk mendapatkan ijin mengemudi kendaraan roda dua, yakni Surat Ijin Mengemudi (SIM) C.
"Saya sebelumnya sudah pegang SIM C. Tapi telat perpanjang jadinya buat baru," katanya, Kamis (8/12/2016), usai mengikuti ujian praktek di pelataran kantor Satlantas Polres Blora.
Pemuda usia 23 tahun ini tak mengira jika waktu seminggu ternyata tak cukup untuk mendapatkan SIM yang ingin ia pegang. Pasalnya ujian kali kedua ini gagal lagi. Edi tak mampu melintas di lingkaran 8. Kakinya tak sanggup dipertahankan untuk tetap berada di pijakan (footpeg) sepeda motor Yupiter bercat Satlantas. Keseimbangannya goyah. Kaki kirinya pun jatuh dari footpeg, menjejak bumi, menjaga dari jatuhnya sepeda motor.
"Sudah 2 kali gagal terus di lingkaran 8," keluh Edi.
Dua lingkaran berbentuk angka 8 adalah soal ke-4 dalam ujian praktek di pelataran Kantor Satlantas Polres Blora. Tiga soal sebelumnya adalah zig-zag, berbalik kanan dengan jalan memutar berbentuk U, dan teknik pengereman.
Ujian praktek ini merupakan tahapan kedua yang harus dilalui pemohon ijin mengemudi roda 2. Tahapan sebelumnya adalah ujian teori. Anda akan dites oleh Bripka Sukamto dengan layar monitor komputer sebagai penyaji soal. Ada 30 soal yang akan diujikan ke anda, dan waktu yang diberikan hanya 10 menit. Soal berbentuk 2 pilihan: salah/benar, dengan jawabannya menggunakan tetikus (mouse) komputer, klik kanan atau klik kiri. Soal bukan dalam bentuk tulisan, namun dalam video grafis yang menampilkan praktik-praktik dalam berlalu-lintas.
Soal ujian teori antara lain menampilkan bagaimana ketika ada 3 pengendara dari 3 arah berbeda yang akan bertemu dalam titik lingkaran. Anda cukup dituntut menggunakan nalar logis menjaga keselamatan diri sendiri dan keselamatan orang lain saat memberikan jawaban benar atau salah tentang apa yang dilakukan salah 1 dari 3 pengendara tersebut.
"Dulu saya mendapatkan SIM ini saat usia 18 tahun, hanya dengan ujian teori saja," kenang Edi 5 tahun silam.
Dulu memang mudah. Kita hanya dituntut tangkas dalam hal teori. Namun praktiknya?
"Saya harus mengulang lagi tanggal 22 Desember nanti. Besok kembali ke Bekasi dulu. Cutinya habis. Nanti minta ijin lagi kalau mau mengulang," kata Edi.
Tanggal 22 Desember berarti 2 minggu lagi. Baur SIM Satlantas Polres Blora Aiptu Juremi mengatakan, pemohon punya kesempatan mengulang sampai 3 kali. Waktu mengulangnya berperiode seminggu, dua minggu, dan satu bulan.
"Jika hari ini gagal, satu minggu kemudian bisa mengulang. Jika minggu depan gagal, 2 minggu kemudian bisa mengulang. Kalau masih juga gagal, masih punya satu kesempatan mengulang satu bulan kemudian," kata Aiptu Juremi.
Itu artinya jika Edi tanggal 22 Desember mendatang gagal, dia masih punya satu kali kesempatan lagi di tanggal 22 Januari untuk mengulang ujian. Lalu bagaimana kalau gagal lagi?
"Tunggu 6 bulan baru bisa mengulang," tandas Aiptu Juremi.
Lain Edi, lain ketangkasan Muhammad Ahmadi, seorang pemuda 20 tahun dari Desa Talokwohmojo, Kecamatan Ngawen. Ahmadi sukses melewati ujian praktik di pelataran yang diujikan Aiptu Antok Sukoco.
"Untuk zig-zag," kata Aiptu Sukoco, "anda tidak boleh lewat waktu 6 detik. Jika lewat, gagal. Pengereman tidak diijinkan. Menjatuhkan pembatas, atau menyerempetnya hingga pembatas roboh, gagal."
Ada 3 pembatas yang harus anda lewati dengan zig-zag. Jarak antar pembatas, satu setengah panjang sepeda motor, atau 9 tapak kaki orang dewasa berukuran sepatu 40.
"Kuncinya jangan jauh-jauh dari pembatas, apalagi terlalu melambung," kata Aiptu Sukoco.
Tak susah sebenarnya untuk lulus dalam soal ujian zig-zag ini. Butuh ketenangan dan keseimbangan untuk bisa melaluinya. Yang agak berat adalah soal ujian berbalik arah dengan jalan berbentuk huruf U. Sebabnya, lebar jalan berbaliknya hanya selebar 5 tapak kaki orang dewasa berukuran sepatu 40, atau separo lebih sedikit lebar jalan untuk zig-zag. Di lingkaran berbalik ini anda juga tidak diijinkan melakukan pengereman. Anda juga tidak boleh menyerempet pembatas hingga roboh.
Tak sedikit yang gagal di soal ujian berbalik arah ini. Mereka gagal dengan menjatuhkan pembatas di ujung jalan berbalik arah, atau tak sanggup menahan kaki agar tak jatuh dari footpeg.
"Ambil haluan kiri jauh. Saat berbelok, agak condongkan badan ke kiri (untuk jaga keseimbangan)," saran Aiptu Sukoco kepada wartablora.com yang mencoba soal ujian berbalik arah jalan berhuruf U tersebut.
Jika lolos dalam soal ujian ini, berikutnya adalah ujian teknik pengereman. Ini relatif mudah. Anda cukup memacu kendaraan sejauh tak lebih dari 15 meter lalu rem mendadak, dan mengupayakan agar ban belakang tidak selip.
"Tiga puluh persen pengereman belakang, sisanya pengereman depan," nasihat Aiptu Sukoco.
Jika anda dinyatakan lulus dalam teknik pengereman, Aiptu Sukoco akan berteriak, "lanjut ke 8. Waktu bebas, boleh pengereman. Tiga kali putaran ya!"
Inilah soal ujian terakhir praktik di pelataran. Jika anda lulus, selanjutnya anda akan bertemu dengan Brigadir Polisi Khairul yang menggelar ujian praktik di jalan raya. Tahapan ini adalah tahapan terakhir sebelum anda dinyatakan sah untuk memegang ijin mengemudi.
"Siang ini baru 2 yang akan ujian," kata Brigadir Khairul.
Brigadir Khairul tak bisa memastikan apakah langsung akan menguji 2 yang lulus di Kamis siang itu (8/12/2016) di jalan raya.
Di soal ujian praktik di jalan raya ini anda tidak lagi diuji ketangkasan, namun lebih pada pergaulan sosial di jalan raya, termasuk di dalamnya pemahaman akan rambu-rambu lalu lintas.
Lebih pada sikap, tata cara berlalu lintas, dan etika di jalan raya," ujar Brigadir Khairul.
Sebagai contoh adalah ketika anda keluar dari gang atau lorong untuk masuk di jalan raya. Di sinilah Brigadir Khairul akan menilai anda lulus atau tak lulus.
"Keluar gang sudah pasti menyalakan lampu sign. Berhenti atau tidak, bagaimana tata cara penglihatan untuk mendapatkan situasi aman untuk masuk ke jalan raya. Di situ kami akan menilai," kata Brigadir Khairul.
Jika tak lulus, anda akan mengulang lagi: seminggu, atau 2 minggu, atau sebulan, atau 6 bulan, tergantung berapa kali anda gagal dalam ujian.
Salah satu yang akan diuji Brigadir Khairul adalah Muhammad Ahmadi. Pemuda pekerja bangunan ini lolos melewati putaran 8 dengan mulus. Padahal lebar jalan yang harus dilalui hanya selebar 3 tapak kaki orang dewasa berukuran sepatu 40. Itu belum lagi di persimpangan titik temu 2 lingkaran yang nyaris sulit ditembus kecuali terbiasa dengan akrobatik sepeda motor berdiri tanpa jalan dan tanpa standar.
Saat mencobanya, wartablora.com menemui kegagalan di titik temu tersebut saat hendak berbelok ke kiri. Tampaknya memang perlu berlatih di rumah terlebih dulu untuk bisa lolos ujian di soal berjalan di 2 lingkaran berbentuk angka 8. (*)