Budaya Komunitas News Features

Mengenal Jamaah Maiyah

Organisme, Bukan Organisasi

Minggu, 30 Oktober 2016, 02:21 bbwi
Foto: wartablora.com

Pemuda yang mengenakan peci duwur ini datang dari Purwodadi untuk mengikuti acaranya Cak Nun di Blora, Jumat (28/10/2016). Mereka yang rutin ikut dalam acara-acaranya Cak Nun sering menyebut dirinya Jamaah Maiyah.


Blora akhirnya didatangi Cak Nun, setelah terakhir Cak Nun pernah datang ke Blora 16 tahun silam. Kedatangan Cak Nun ke Blora ini juga menjadi tempat bertamu Jamaah Maiyah dari luar Blora ke Jamaah Maiyah di Blora. Apa dan bagaimana Jamaah Maiyah itu?

MUSLIM, warga Tuban itu menyeruak dari kerumunan sebelah kiri panggung. Ia mencoba mencapai posisi tepat di depan panggung, pojok kiri. Ada tempat kosong di situ yang masih muat diduduki satu orang.

"Saya bersama 3 orang," kata Muslim seraya menyebut kendaraan roda empat yang mereka tumpangi.

Tak hanya dengan 3 teman semobil, Muslim menyebut ada banyak warga dari Tuban yang bertandang ke Blora untuk mengikuti acara Cak Nun di Blora, Jumat malam (28/10/2016).

"Mereka berangkatnya sendiri-sendiri. Ada yang kendaraan roda dua, ada yang empat," sebut Muslim.

Muslim tak lagi muda. Ia sudah berkeluarga. Sudah hampir 20 tahun ia mengikuti acaranya Cak Nun, saat pertama kali kala ia kuliah di Yogya sebelum tahun 2000. Ketika ia pindah ke Gresik dan terakhir menetap di Tuban, ia sering ikut acara-acaranya Cak Nun. Ia sengaja datang ke Blora karena tidak terlalu jauh dari jangkauan rumah tinggalnya. Sebelumnya, ia mengikuti acara Cak Nun di Rembang, Minggu (23/10/2016).

"Kalau maiyahan di Jawa Timur saya datangi. Kalau di Jawa Tengah, seperti di Temanggung kemarin (Kamis, 27/10/2016) tidak. Jauh," kata Muslim.

Maiyahan adalah sebutan Muslim dan mereka yang rutin mengikuti acara Cak Nun yang bisa dijangkau dari kota asal. Muhammad Khoiruddin, warga Blora, mengatakan, Maiyahan memiliki arti kebersamaan.

"Maiyahan itu organisme, bukan organisasi, memiliki arti kebersamaan. Tujuannya adalah cinta segitiga antara Allah, Muhammad, dan umat manusia," kata Cak Irud, sapaan Muhammad Khoiruddin, yang malam acara Cak Nun di Blora itu juga tampil duduk di atas panggung.

Cak Irud bukan orang baru bagi Cak Nun.

"Saya mulai bersinggungan dengan beliau (Cak Nun) saat pentas teater Lautan Jilbab di Surabaya tahun 1991. Sebelumnya telah mengenal beliau dari tulisan-tulisannya," kata Cak Irud yang dulunya berkuliah di Surabaya.

Cak Irud termasuk yang mendirikan Bang-bang Wetan di Surabaya. Bang-bang Wetan ini adalah maiyahan yang diadakan di Surabaya. Selain di Surabaya, Maiyahan ada di Jombang, tempat kelahiran Cak Nun. Di Jombang ini disebut Padhangbulan. Ada juga Mocopat Syafaat, yakni Maiyahan yang ada di Yogyakarta, kota tempat tinggal Cak Nun.

"Saya rutinnya ikut di Padhangbulan dan Bang-bang Wetan. Kalau Gambang Syafaat, jarang," kata Cak Irud.

Gambang Syafaat adalah Maiyahan yang ada di Semarang. Ada juga Kenduri Cinta di Jakarta, dan Jamparing Asih di Bandung. Di kota-kota kecil juga banyak bermunculan. Helmi, salah seorang terdekat dari Cak Nun yang turut menyertai acara di Blora menyebut Waro Kaprawiran di Madiun.

"Besok (Sabtu, 29/10/2016), saya ke sana sama Mas Haryanto saja, tidak sama Mbah," kata Helmi yang ditemui wartablora.com di sela jamuan makan di Makodim 0721/Blora, Jumat malam (28/10/2016).

Helmi, dan sebagian mereka yang rutin mengikuti Maiyahan, menyebut Cak Nun dengan sebutan Mbah. Sementara Haryanto termasuk salah satu penghubung forum-forum Maiyahan di berbagai daerah dengan yang di Yogya, tempat tinggal dari Cak Nun.

Di situs caknun.com, tercatat berbagai daerah telah ada forum-forum Maiyahan. Apakah di Blora akan muncul forum yang sama?

"Banyak yang menghubungi saya untuk mengadakan ini, terutama adik-adik mahasiswa yang di Yogya atau Semarang atau lainnya yang sering ikut dalam forum yang sama di kota tempat mereka kuliah," kata Cak Irud.

Bahkan, kata Cak Irud, ada yang sudah menyusun keorganisasian, ingin diteruskan ke Yogya.

"Saya katakan ke mereka, ini bukan organisasi lho. Beda. Ini itu organisme. Kalau organisasi ada kepengurusan, tapi di Maiyah tak ada kepengurusan. Jadi saya katakan, ayo kita kumpul-kumpul dulu," kata Cak Irud sambil menyatakan kesanggupannya menyediakan rumahnya sebagai tempat berkumpul.

Lantas, apa yang sering menjadi tema bahasan dalam perkumpulan?

"Banyak kok. Tak hanya soal pemerintahan atau negara, tapi kehidupan secara luas," katanya.

Kusno Winoto, salah seorang panitia Pengajian Cak Nun menyatakan keinginannya untuk mengadakan forum Maiyahan di Blora yang rutin diadakan.

"Saya menyampaikan ke Cak Irud, bagaimana kalau tiap Kamis Kliwon, setelah kita mendatangkan Cak Nun ini," katanya.

Namun, lanjut Kusno, Cak Irud berpesan untuk tak berharap dulu didatangi Cak Nun.

"Katanya yang penting berkumpul dulu. Nanti bergantian tempatnya. Saya juga siap menyediakan rumah sebagai tempat berkumpul," kata Kusno.

Namun, baik Muslim maupun Cak Irud mengatakan hal yang sama, yakni jika tak ingin putus dalam ikut di Maiyahan, kuncinya tanpa membawa kepentingan apapun.

"Biasanya mereka yang membawa kepentingan, entah ekonomi mapun politik, akan terhenti," kata Cak irud.

"Selain itu," sambung Muslim, "dasarnya adalah cinta." (*) 



Warta Features

Rabu, 30 November 2016 | 12:59 bbwi

Seluk Beluk Ujian SIM C
Kamis, 08 Desember 2016 | 20:31 bbwi

Menengok Pos Pengamanan Natal dan Tahun Baru
Senin, 26 Desember 2016 | 14:47 bbwi

Menengok Rumah Masa Kecil Pram (Bagian 1)
Sabtu, 14 Januari 2017 | 18:22 bbwi

Dia yang Terselamatkan
Selasa, 11 Oktober 2016 | 16:41 bbwi