Rosidi, Kades Terpilih Desa Sendangmulyo
Bermodal Keikhlasan Untuk Meraih Kemenangan
Jumat, 06 September 2013, 07:27 bbwiOleh : Yudi Nur Hadiyanto
Rosidi, Kades Sendangmulyo terpilih saat mendatangi rumah warganya.
Ada yang menarik dalam pelaksanaan pemilihan kepala desa di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, pada 25 Agustus 2013 lalu. Seorang calon yang menang, sempat mendapat sumbangan dari warga untuk menggelar “jamuan” kepada tamu. Seperti apakah ceritanya?
SUASANA kemenangan Rosidi, kepala desa Sidomulyo terpilih siang itu masih terasa. Warga silih berganti mendatangi rumahnya yang letaknya terbilang pelosok dari warga lainnya. Rumah yang berhimpitan dengan hutan itu ukurannya tak luas, sekira 12 kali 15 meter. Dindingnya triplek. Tak ada barang yang umum dimiliki oleh orang banyak di situ. Jangankan sepeda motor, televisi saja tak terlihat ada di rumah yang ia huni bersama saudaranya itu.
Rosidi termasuk bulok, alias bujang lokal. Istrinya hidup nun jauh di Malaysia, jadi TKW di sana. Sedangkan anak semata wayangnya merantau di Semarang, bekerja sebagai penjaja kue ulang tahun.
Meski hidup tergolong miskin, Rosidi nyaris tak pernah mengeluh pada tetangganya. Mungkin lantaran ia menjadi kamituwo (kepala dusun) di salah satu dari 7 dusun yang ada di Sidomulyo.Merasa jadi pemimpin dusun, Rosidi perlu menunjukkan ketegarannya dalam menghadapi beban keuangan dalam hidupnya.
“Selama jadi kamituwo tiap punya rejeki ada tetangga yang meminta selalu diberikan dengan ikhlas. Atas dasar hal itulah kemudian dia disokong oleh tokoh masyarakat dengan bahu membahu mendukung dia sepenuh hati supaya menjadi Kades Sidomulyo,” kata Supriyanto, tetangga Rosidi.
Walau hidupnya bisa dikatakan miskin, Rosidi bukanlah sosok kurus macam Jokowi, Gubernur Jakarta. Tubuhnya termasuk ukuran gendut. Perawakannya cukup tinggi. Kumisnya tidaklah terlalu tipis.
Awal kisah Rosidi maju jadi calon Kades cukup unik. Ia yang tak memiliki keinginan untuk jadi petinggi di desanya, malah ditunjuk beberapa tokoh masyarakat di desanya untuk mendaftar.
“Awalnya rapat bersama 20 tokoh masyarakat. Kepala desa sebelumnya memang sudah baik. Namun rupanya masyarakat ingin memiliki lurah yang lebih baik lagi. Atas dasar itu saya ditunjuk oleh tokoh masyarakat supaya maju mencalonkan lurah,” cerita Rosidi.
Penjukkan tokoh-tokoh masyarakat itu bersambut di warga desa. Berbondong-bondong, warga membawa beras, gula, minyak goreng, dan bahan-bahan makanan untuk menjamu setiap tamu yang datang.
Perjamuan ini hal yang lumrah terjadi di desa-desa jelang pesta demokrasi tingkat desa. Perjamuan menjadi ongkos tersendiri dalam biaya berpolitik seseorang yang berkeinginan jadi kepala desa. Namun, ternyata tidak bagi Rosidi.
“Lha saya daftar saja tak punya uang, dan diongkosi warga, bagaimana saya bisa menjamu tamu atau warga yang datang,” kata Rosidi.
Dukungan warga tersebut membuahkan hasil. Dalam penghitungan suara, Rosidi meraih hampir 70 persen. Selisihnya dua kali lipat dari perolehan lawan. Peraihan suaran Rosidi menyentuh angka 2.500 suara, sementara lawannya hanya 1.100 suara.
Desa Sidomulyo memang termasuk berpenduduk banyak. Dengan wilayah 7 pedusunan, jumlah warga yang memiliki hak pilih ada tak kurang 4690 orang.
“Saya sebenarnya sudah bangkrut semuanya tidak punya apa-apa.Tapi entah mengapa masyarakat memilih mencoblos saya,” tuturnya.
Kendati sudah jadi kepala desa, Rosidi berjanji akan menjalani hidup seperti sebelum ia menjadi petinggi di desa tersebut. (*)