wartaTANI Hortikultura News Features

Menggali Potensi Pembudidayaan Labu Oranye

Minggu, 11 September 2016, 18:14 bbwi
Oleh : Umbaran Wibowo
Foto: Umbaran Wibowo

Kuwat Murjito, petani dari Desa Tempuran, Kecamatan Blora tengah menunjukkan puding, produk hasil olahan dari Labu Kabocha. Di depannya adalah Labu Kabocha yang berwarna oranye. Labu ini disebut-sebut bisa menjadi makanan pendamping ASI terbaik untuk anak yang sedang menyusui.


Baru satu tahun terakhir ini labu oranye dibudidayakan salah seorang petani dari Desa Tempuran, Kecamatan Blora. Sejauh mana potensinya?

RUMAH Kuwat Murjito terletak tak jauh dari Kantor Desa Tempuran. Ada lapak yang dipenuhi labu berwarna oranye di depannya. Labu ini baru beberapa hari yang lalu dipanen. Sudah lima kali ini petani lulusan SMA 1 Blora tahun 1994 itu panen labu yang sering disebut dengan labu kabocha, dalam satu tahun terakhir.

"Labu ini kaya akan manfaat," klaim Kuwat Murjito saat dikunjungi wartablora.com, Minggu sore (11/9/2016).

Kuwat menyebut salah satunya.

"Untuk makanan pendamping ASI buat anak balita, itu baik sekali," sebut Kuwat.

Labu ini dijual Kuwat Rp15 ribu per kilonya.

"Untuk orang awam memang sangat mahal. Sebab labu biasa, harganya ratusan rupiah per kilonya. Tapi bagi yang sudah tahu atau sudah pernah mengkonsumsinya, harga segitu ya sangat murah. Seorang teman dari Jakarta yang biasa mengkonsumsi labu ini saja berdecak keheranan saat saya menyebut harga segitu," cerita Kuwat.

Pasar labu ini, kata Kuwat, memang segmen khusus.

"Tapi," sambung Kuwat, "saya tak akan lelah untuk mengenalkannya di pasar lokal. Saya ingin mengembangkannya untuk pasar lokal."

Keinginan Kuwat untuk memasarkan labunya ini di pasar lokal pun tak setengah-setengah.

"Ada yang datang ke saya memberikan penawaran harga Rp30 ribu per kilogramnya, untuk dikirim ke Jakarta. Ongkos kirim, dia yang tanggung. Dengan ongkos kirim Rp4 ribu per kilogramnya, harga yang dia dapat dari saya Rp34 ribu. Tapi tahukah anda berapa harga jual labu ini di pasar-pasar modern di kota besar?" tanya Kuwat.

Kuwat pun menjawabnya sendiri.

"Di Gelael, harga labu ini bisa mencapai Rp50 ribu per kilogramnya. Bahkan bisa lebih."

Namun, Kuwat mendaku tak tergiur dengan keuntungan besar.

"Apalagi hasil dari panen saya tidak banyak-banyak juga. Saya hanya membudidayakan sekitar 300-an benih. Hasilnya berkisar antara setengah ton setiap panen. Yang panen terakhir ini hanya 400-an kilo lebih," kata Kuwat.

Untuk mengenalkan ke pasar lokal, Kuwat pun menggunakan hari-hari tertentu, seperti car free day, untuk memboyong hasil panennya ke alun-alun Kota Blora.

"Ternyata diterima oleh pasar lokal. Cukup banyak yang membelinya," kata Kuwat.

Tak butuh waktu lebih dari sebulan Kuwat bisa menjual habis labunya ini di pasar lokal.

"Sudah lebih dari sekali saya memanen, dan tak butuh waktu lama untuk bisa terjual habis. Ya kalaupun sebulan lebih sedikit," kata Kuwat.

Awal Mula

Kuwat tak sengaja membudidayakan labu oranye ini. Saat itu ada formulator yang sedang promo produk pertanian ke petani-petani yang ada di Desa Tempuran, Kecamatan Blora.

Formulator adalah marketing dari produk pertanian, khususnya obat-obat pertanian. Ia pun sempat berbincang dengan formulator tersebut.

"Saya ditawari. Lalu saya mengambil keputusan, saya mau mengembangkan budidaya tanaman tersebut. Tapi saya berkata ke mereka, saya jangan diduakan. Artinya, " berkisah Kuwat, "jangan ada petani lain yang mengembangkan ini kecuali nantinya dari saya."

Dengan kesepakatan tersebut, petani hortikultura di Blora yang hendak membudidayakan Labu Kabocha membeli benihnya dari dirinya, termasuk produk-produk perawatannya.

Setelah diberi kepercayaan, Kuwat pun mengembangkan budidaya tanaman ini.

"Saya belum berani mengenalkan ke key farmer saya sebelum saya mencobanya terlebih dulu," kata Kuwat.

Key farmer adalah istilah Kuwat untuk menyebut petani binaannya yang bisa menjadi pintu masuk ke petani lain.

"Biasanya petani itu mau membudidayakan setelah ada bukti. Nah, saya punya key farmer di berbagai tempat untuk saya kembangkan budidaya labu ini. Key farmer itu petani yang dipercaya petani lainnya di kawasan pertanian tertentu," sambung Kuwat.

Setelah panen pertama berhasil, ia pun lalu mengenalkan penanaman labu ini ke petani-petani kunci binaannya.

"Banyaklah jumlahnya. Lebih dari dua puluh," kata Kuwat setelah didesak berapa jumlah petani binaannya yang telah menanam labu ini.

"Tapi," lanjut Kuwat, "nantinya akan saya pusatkan di Ngantulan."

Ngantulan adalah pedukuhan di Desa Nglangitan, Kecamatan Tunjungan.

"Hasil panen ini," sambungnya sambil menunjuk buah-buah labu berwarna oranye yang digelar di teras rumahnya, "dari sana."

Menanam labu ini, kata Kuwat, susah-susah gampang.

"Lahan yang dibutuhkan tidak luas. Bagi petani sangat menguntungkan. Masa penanaman hingga panen tak lebih 80 hari. Paling cepat 70 hari sudah bisa dipetik. Lahan yang telah dipakai, jangan langsung ditanam lagi. Saya biasanya berpindah ke lahan lain. Kalaupun lahan yang sama, saya beri jarak waktu sebulanan. Biar gak sulit perawatannya. Karena kalau lahan yang sama, serangan hama akan lebih banyak," jelas Kuwat.

Dari budidaya labu oranye ini, Kuwat punya cita-cita tersendiri. Yakni: membuat produk-produk olahan dari labu tersebut.

"Ini puding buatan saya dari labu ini," kata Kuwat sambil menawari wartablora.com untuk mencicipinya.

Rasa puding itu ya seperti pada umumnya labu.

"Baru puding produk olahan yang saya buat. Namun jika tak mau repot," kata Kuwat sambil mengambil satu buah labu itu, "cukup anda kupas bagian atasnya ini. Dilubangi kayak mengupas kelapa yang hendak anda minum airnya. Ambil biji-bijinya, setelah bersih dari biji, beri santan dan gula merah. Lalu kukus." (*)



Warta Features

Dia yang Terselamatkan
Selasa, 11 Oktober 2016 | 16:41 bbwi

Mengenal Jamaah Maiyah
Minggu, 30 Oktober 2016 | 02:21 bbwi

Rabu, 30 November 2016 | 12:59 bbwi

Seluk Beluk Ujian SIM C
Kamis, 08 Desember 2016 | 20:31 bbwi

Rosidi, Kades Terpilih Desa Sendangmulyo
Jumat, 06 September 2013 | 07:27 bbwi