wartaBerita Peristiwa News Features

Ini Kisah Parsidan Tentang Telepon Hipnotis

Rabu, 16 Januari 2013, 15:55 bbwi
Oleh : Gatot Aribowo
Foto: Gatot Aribowo
Parsidan, Kades Karangtawang, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah berkisah tentang dirinya yang terhipnotis.

Seorang Kepala Desa dihipnotis melalui sambungan telepon. Atas perintah dari orang yang meneleponnya, Kades tersebut melakukan ritual dengan melukai dirinya.

GURATAN-guratan masih nampak jelas, merata di raut wajahnya. Mulai dari kening, pipi kanan dan kiri, hingga dahi. Sementara di pangkal lengan kirinya masih terbalut perban sepanjang tak kurang 15 sentimeter.

Guratan dan luka di lengan itu milik Parsidan, Kades Karangtawang, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sudah mengering. Namun bekasnya sangat nampak jelas, seperti bekas guratan luka di wajah preman. Sekilas memandang, mungkin orang akan merasa seram.

Parsidan mendapatkan luka itu setelah diperintahkan seseorang mengatas-namakan Sutikno Slamet, Sekda Kabupaten Blora.

"Jam dua itu (Minggu siang, 13 Januari 2013) saya mendapatkan telepon," cerita Parsidan mengawali kisahnya, lebih banyak menggunakan bahasa Jawa.

Siang itu Parsidan sedang berbincang dengan Musiran, Kamituo Karangtawang. Kamituo itu sebutan untuk kepala dusun/dukuh. Perbincangannya lebih banyak soal pelayanan ke warga. Tiba-tiba nada dering telpon genggamnya berbunyi.

"Assalamualaikum," sapa Parsidan saat mengangkat telepon.

"Walaikumsalam. Ini Pak Parsidan?" sahut seseorang di seberang sana sambil bertanya.

"Nggih, Pak."

"Kades Karangtawang?"

"Nggih, Pak. Nuwun sewu, niki sinten?"

"Saya Sutikno Slamet, Sekda Blora," sahut orang tersebut dengan nada tegas.

"Lhoh, nggih Pak. Dawuh!? Badhe pareng dawuh nopo, Pak?"

Seketika setelah mengetahui orang yang meneleponnya 'Sekda Kabupaten Blora', Parsidan segera tanggap tanpa bertanya-tanya dalam hatinya. Sepanjang ia menjadi Kades Karangtawang, sama sekali belum pernah mengobrol dengan Sekda yang asli. Sehingga suaranya pun sama sekali tak mengenal. Apalagi nomor hapenya. Apakah belakangnya 800, seperti yang tertera dalam panggilan masuk, atau bukan, Parsidan tak tahu sama sekali.

Parsidan tak menyadari, ketika dirinya telah bilang "ada perintah apa, Pak?" itu pikirannya langsung terkonsentrasi ke apa-apa saja perkataan orang tersebut untuk sedapatnya ia jalani.

"Dia bilang, dia mendapatkan perintah dari Bupati, bahwa Bupati akan melakukan sebuah ruwatan atau ritual untuk nanti malam (Minggu malam) akan mengubur kepala kerbau di pendopo kabupaten," Parsidan melanjutkan kisahnya.

"Bahwa jenengan termasuk kepala desa yang ditunjuk untuk ndereke Pak Bupati. Sebelum ritual dimulai, Pak Bupati menghendaki agar ada ritual celeng (babi hutan) jadi-jadian. Ini tadi Pak (Kades) Wonosemi sudah dikerangkeng di pendopo. Pak Wonosemi (pada Sabtu malam) sudah jadi celeng jantan. Sementara jenengan yang ditunjuk untuk jadi celeng jadi-jadian yang betina," kata Parsidan menirukan perintah orang di seberang sana.

"Nah kalau celeng itu yang angon (menggembala) mestinya yang dekat dengan jenenangan," lanjut orang tersebut.

Seketika Parsidan menyalakan pengeras suara di telepon genggamnya agar Musiran yang di depannya turut mendengar.

"Yang angon dua lho, Pak!" perintah orang itu.

"Nggih, saget!" timpal Parsidan sambil memberi isyarat ke Musiran untuk memanggil Tiyono, Kamituo Pagesik.

Parsidan semakin teperdaya ketika seseorang itu berkata, "nanti setelah ritual, jenengan akan diberi hadiah Pak Bupati, satu sepeda motor Tiger untuk jenengan atau putrane jenengan, terserah. Terus Bu Kokok (istri Bupati Blora) juga akan memberikan hadiah kalung emas murnis seberat 19 gram. Bu Kokok sendiri yang akan mengalungkannya ke jenengan nanti di pendopo kabupaten."

"Ya saya cuma bilang siap-siap-siap saja," kata Parsidan ke wartablora.com.

"Kalau sudah siap, Pak, celeng itu kan tempatnya di oro-oro. Saya carikan lahan kosong yang jauh dari pemukiman," perintah orang itu.

Terlintas dalam pikiran Mursidan untuk menggunakan tanah lapang di belakang perumahan di Pos Ngancar, Kecamatan Tunjungan.

"Nggih, Pak. Wonten," sahut Parsidan menimpali perintah orang tersebut.

"Setelah siap, segera persiapkan pula keperluan-keperluan yang harus dibawa. Siapkan botol temulawak atau bir, sebanyak 44 botol. Setelah itu cari air dari sendang, 1 liter taruh di botol aqua. Lalu ambil kertas, buat tulisan: Djoko Nugroho (Kokok), bawahnya Bupati Blora, kemudian strip, lalu tulis Parsidan, bawahnya Kades Karangtawang. Masukkan ke dalam botol itu."

Parsidan lagi-lagi memberi isyarat ke Musiran untuk menyiapkan keperluan-keperluan yang diminta itu.

Sesudahnya, orang tersebut memerintahkan Parsidan untuk menenggak bir terlebih dulu di rumah. Campuran bir hitam dan bir bintang dioplos dan diminum Parsidan. Sisanya diberikan ke pemuda sekitar.

Selama 3 jam telepon tanpa terputus, orang tersebut memandu Parsidan dan dua kamituonya. Tiba saatnya ke lokasi ritual celeng jadi-jadian. Tak lupa membawa arang untuk melaburi tubuh Parsidan, sesuai perintah orang tersebut.

"Tepat jam 5 sore kurang 10 saya bersama Musiran dan Tiyono berangkat ke lokasi yang telah saya pikirkan," kata Parsidan.

Setibanya di lokasi, orang tersebut telepon lagi. Lalu dipandu kembali ritual-ritual apa yang perlu dilakukan.

"Saya disuruh lepas pakaian. Kemudian saya laburi tubuh saya dengan arang, sampai tidak terlihat rupa manusia lagi. Masih melalui telepon, saya lalu disuruh telanjang dan melaburi (maaf) kemaluan saya dengan arang. Kemudian saya disuruh memecahkan botol-botol itu dengan tangan atau dihantamkan ke tubuh saya atau kepala saya. Sebanyak 44 botol saya pecahkan. Anehnya, saya tidak merasa kesakitan. Kemudian saya disuruh mengambil pecahan botol yang tajam-tajam itu untuk dibuatkan guratan-guratan di seluruh muka saya. Yang paling panjang dan cukup dalam ya di pangkal lengan kiri saya ini. Saya ambil yang paling besar dan tajam, lalu saya goreskan ke lengan saya ini."

Lagi-lagi, Parsidan sama sekali tak mengalami perih dan sakit. Darah menetes bercampur hitamnya arang. Namun tak terlihat karena hari sudah gelap. Selama 7 jam melakukan ritual dan dipandu melalui telepon, Musiran dan Tiyono sempat mendapatkan kesadaran.

"Dia memandunya sempat menghentikan telepon. Saat telepon tertutup itu, dua kamituo saya sempat terlontar secara sadar, "iki maksude opo." Namun ketika telepon kembali, secara spontan gantian dua kamituo itu mengangkatnya untuk menirukan perintah-perintah. Dan mereka tak lagi bertanya-tanya lagi."

Beberapa kali putus nyambung, beberapa kai pula kesadaran mereka muncul dengan bertanya-tanya soal maksud ritual-ritual itu. Namun beberapa kali pula kesadaran mereka bertiga kembali hilang saat telepon orang tersebut masuk.

Jelang tengah malam, kesadaran mereka secara penuh kembali. Mereka sadar tengah dipermainkan.

"Begitu telepon terakhir, saya langsung sahut: sudah Pak."

"Sudah gimana?"

"Ya sudah."

Orang tersebut langsung menutup telepon. Saat dihubungi lagi, nomor itu sudah tidak aktif lagi.

"Itu sudah lewat jam 12 malam. Akhirnya kami setelah terputus telepon itu, hanya terduduk diam dan lesu di tanah lapang itu. Kami hanya menunggu pagi, yang kata orang itu Pak Bupati akan menjemput saya."

Terduduk berjam-jam menunggu pagi, tanpa berpikiran untuk pulang, dilakukan tiga orang itu dengan masih menyakini bahwa jam 7 pagi Bupati Blora akan menjemput mereka. Namun kenyataannya hingga pagi, hanya Kades Kalangan yang datang.

"Jelang jam enam pagi memang saya perintahkan seorang kamituo saya untuk ke rumah Kades Kalangan buat konsultasi. Akhirnya saya pagi dijemput Kades Kalangan, dan diantar bertemu Sekda, yang kemudian perintahkan saya untuk dirawat di rumah sakit," pungkas Parsidan menutup kisahnya. (*)



Warta Features

Rosidi, Kades Terpilih Desa Sendangmulyo
Jumat, 06 September 2013 | 07:27 bbwi

Minggu, 11 September 2016 | 18:14 bbwi

Dia yang Terselamatkan
Selasa, 11 Oktober 2016 | 16:41 bbwi

Mengenal Jamaah Maiyah
Minggu, 30 Oktober 2016 | 02:21 bbwi

Mengenal Ajaran Sedulur Sikep di Kelopo Duwur
Sabtu, 29 Oktober 2011 | 20:52 bbwi