Rabu, 16 Agustus 2017, 17:28 WIB

Apel Pembentangan Bendera 10x6 Meter di Goa Terawang

Gatot Aribowo Penurunan bendera selebar 10x6 meter di dalam Goa Terawang, Todanan, Rabu (16/8/2017).

Bendera merah putih berukuran lebar 10 meter dan tinggi 6 meter itu terbentang di dalam goa Terawang, Todanan. Akan tetap berada di situ menunggu lusuh, sebelum diturunkan.

Oleh : Gatot Aribowo

TIGA pemuda bergelayutan di tali yang terulur ke bawah sepanjang tak kurang 15 meter. Ada 3 tali yang terulur, berjarak 5 meter antara satu dengan lainnya. Di atas, tali terikat pada pada batang pohon. Tali akan dipakai untuk menurunkan bendera berukuran 10x6 meter yang atas bawahnya terpasang bambu.

Tali yang akan dituruni ini khusus untuk olahraga panjat tebing. Tiga pemuda tersebut tergabung dalam Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Blora. Mereka bertiga terpilih untuk menurunkan bendera. Mereka adalah Izzulhaq Maulana, pelajar SMK Negeri Tunjungan, berada di sisi kanan. Di tengah ada Iman, pemuda yang baru lulus sekolah. Di sisi kiri ada Krisbiantoro, pelajar dari SMK Kristen.

Saat mereka bersiap turun, di bawah seorang dirigen menanti aba-aba dari mereka bertiga sebelum memandu paduan suara menyanyikan Indonesia Raya. Lagu akan dinyanyikan setelah inspektur apel memimpin penghormatan bendera.

"Penurunan bendera telah siap," teriak salah seorang dari 3 pemuda tersebut, memberikan aba-aba untuk memulai penghormatan bendera dan menyanyikan Indonesia Raya.

Video penurunan bendera.

Apel pembentangan bendera selebar 10x6 meter di dalam Goa Terawang itu berlangsung Rabu siang jelang sore, sehari sebelum 17 Agustus 2017. Inspektur apel adalah Rukman Supriatna, Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KKPH) Blora—biasa juga disebut dengan Administratur, disingkat Adm. Peserta apel berasal dari polisi hutan, termasuk dari polisi teritorial dan polisi mobil; pramuka, aparat pemerintah, TNI, dan Polri.

Pembentangan bendera besar ini kerja sama antara KPH Blora dengan FPTI. Persiapannya singkat, hanya seminggu. Ide muncul saat Rukman berbincang dengan Arief Rohman, Wakil Bupati Blora.

"Idenya mencuat, mengapa tak dilakukan pembentangan bendera di dalam perut bumi," kata Rukman saat diberi kesempatan memberikan amanat dalam apel tersebut.

Perut bumi yang dimaksud adalah di dalam goa.

Bergegas Rukman pun menghubungi Fatoni, salah seorang instruktur di FPTI Kabupaten Blora. Disanggupi. Anggota FPTI pun dikerahkan. Tak ingin ada kecelakaan saat acara, sehari sebelum digelarnya pembentangan bendera dilakukan persiapan matang. Uji coba dilakukan.

"Kami ingin kegiatan-kegiatan ini setiap tahunnya diadakan di tempat berbeda," kata Rukman.

Idenya tahun depan Rukman ingin diadakan pengibaran bendera besar di Gunung Manggir, Todanan. (*)



Senin, 26 Desember 2016

Kepolisian Resort Blora membuat 4 pos pengamanan (pospam) untuk mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru 2017. Dua ada di Kota Blora, dan 2 lagi ada di Kota Cepu.


Rabu, 03 Mei 2017

Sudah sering donor darah, tapi masih takut lihat jarum suntik dan darahnya sendiri. Selalu berdebar saat jarum hendak menusuk lengannya.


Juni 2017

Gencarnya polisi merazia pemakai kendaraan baiknya disikapi lebih arif dari warga negara. Tak perlu curiga bahwa polisi sedang mencari-cari kesalahan.


Back to Top
copyright © wartablora dotcom 2026
All right reserved