Rabu, 03 Mei 2017, 21:44 WIB

Yogha Aditya Ruswanto, Kalapas Blora

Pendonor Darah yang Takut Jarum Suntik

wartablora.com Yogha Aditya Ruswanto, Kalapas Blora. Donor darah karena terpaksa.

Sudah sering donor darah, tapi masih takut lihat jarum suntik dan darahnya sendiri. Selalu berdebar saat jarum hendak menusuk lengannya.

BULAN April dan bulan Oktober adalah bulan-bulan bagi Yogha Aditya Ruswanto untuk bersiap-siap donor darah. Di bulan-bulan itu di setiap tahunnya ada hari-hari penting di dalam pekerjaannya. Di bulan April ada Hari Bhakti Pemasyarakatan. Sedangkan di bulan Oktober ada Hari Dharma Karyadhika yang merupakan hari bhakti kementerian hukum dan hak asasi manusia. Ini adalah hari penting bagi mereka yang bertugas di lembaga-lembaga pemasyarakatan, atau lazim juga disebut rumah tahanan, di seluruh Indonesia. Biasanya di bulan ini banyak kegiatan, salah satunya adalah bakti sosial dengan mendonorkan darah.

Yogha termasuk salah satu dari mereka yang bertugas di lembaga pemasyarakatan. Menjabat Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Blora sejak 2016, Yogha mau tak mau harus memberi contoh apa yang harus digiati di bulan penuh kegiatan itu.

"Ya masak saya ajak-ajak donor darah tapi saya sendiri tidak donor, kan lucu," kelakarnya saat berjumpa dengan wartablora.com, akhir April 2017.

"Padahal saya itu takut dengan jarum. Lihat darah juga. Jadi kalau pas donor begitu ya saya mengalihkan pandangan dari saat jarum itu ditusukkan ke lengan saya. Nanti kalau pas sudah selesai donor, ya saya tidak pernah lihat darah saya yang ada di kantong," kata alumnus Akademi Ilmu Pemasyarakatan—sekarang Politeknik Ilmu Pemasyarakatan—tahun 1999 ini.

 

Bagi Yogha donor darah adalah keterpaksaan. Sewaktu kuliah, ia lebih memilih gelut ketimbang disuruh donor darah.

"Bener lho. Dulu seorang senior saya tantang berantem di lapangan. Lha saya dipaksa-paksa untuk donor. Ya saya memilih berantem saja. Orang saya takutnya minta ampun sama jarum. Berobat saja saya tidak mau disuntik," kisahnya.

Bukan tanpa alasan ia jadi phobia dengan jarum suntik. Ia trauma semasa sekolahnya, seperti traumanya ia melihat darah.

"Kalau phobia jarum suntik itu semasa sekolah. Tapi kalau trauma lihat darah sewaktu kecil lihat tetangga saya kecelakaan, dan itu membekas di ingatan," ceritanya.

Lalu bagaimana ceritanya kok tiba-tiba berani donor darah?

"Nah ini karena terpaksa. Jadi ceritanya sewaktu di Yogya. Kan saya begitu selesai pendidikan ditugaskan di Yogya selama 13 tahun. Di sana saya menikah dan punya anak. Awalnya saat anak saya sakit dan butuh darah. Karena darah saya O, dan itu demi anak, ya harus dong diberani-beranikan," cerita ayah 3 anak ini, sebentar lagi ayah 4 anak.

Itupun ia tak langsung ikut donor darah bila ada kegiatan donor darah di institusinya. Berdonor darah lagi saat pindah tugas di Magetan.

"Itu sekitar 2012, saya pindah ke Magetan. Dari situ lalu setiap tahun rutin 2 kali donor. Tapi meski sudah rutin, ya tetap saja selalu berdebar saat jarum mau menusuk. Padahal ya setelah itu biasa saja. Tapi sesaat sebelum ditusuk, rasanya gimana gitu," katanya setelah beberapa saat lalu berdonor darah di PMI Blora.

Bagaimana sih hasilnya di badan setelah berdonor darah?

"Berat badan saya tambah lho. Padahal pola makan saya tetap," kisahnya mengakhiri.

Jadi buat anda yang ingin menambah berat badan, cobalah berdonor darah. (*)



Jumat, 22 Desember 2017

Anggota Bhabinkamtibmas Polsek Jiken memelopori peternak sapi di desanya untuk mengembangkan alat giling pakan ternak. Sebagai bentuk kepedulian polisi terhadap masyarakat yang dibinanya.


Senin, 26 September 2016

Bagi Jenny Yudiana, rangking di kelas itu penting. Bermula dari rangking itulah ia akhirnya menyabet juara I Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan tingkat provinsi Jawa Tengah.


Juni 2017

Gencarnya polisi merazia pemakai kendaraan baiknya disikapi lebih arif dari warga negara. Tak perlu curiga bahwa polisi sedang mencari-cari kesalahan.


Back to Top
copyright © wartablora dotcom 2026
All right reserved