Bagi Jenny Yudiana, rangking di kelas itu penting. Bermula dari rangking itulah ia akhirnya menyabet juara I Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan tingkat provinsi Jawa Tengah.
USIA Jenny belum genap 18 tahun. Jika dihitung dari akta kelahiran, usianya baru 16 tahun lewat 4 bulan. Namun jika dihitung dari kelahiran sebenarnya, baru 16 tahun 9 bulan. Ia duduk di kelas XII Keperawatan 2, SMK Bhakti Husada PGRI Blora, jurusan program studi Keperawatan.
Jenny belum lama ini dinobatkan sebagai peraih juara pertama Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK se-Jawa Tengah 2016. Jenny menyingkirkan 17 siswa yang jadi pesaingnya. Di sekolahnya sendiri, ia menyisihkan 7 anak sebelum dimajukan untuk ikut lomba tingkat provinsi.
Ini adalah kali pertama Jenny ikut dalam lomba. Ia sebelumnya tak pernah ikut dalam lomba-perlombaan apapun. Bahkan lomba LKS yang dijuarainya ini, ia tak pernah sama sekali untuk ikut serta. Kebetulan saja ia diikutkan sekolahnya, karena rangking di kelasnya.
"Jadi awalnya ya di bulan September ini, di minggu pertama. Sekolah mengumumkan ada lomba LKS. Lalu sekolah melakukan seleksi dari rangking," cerita Jenny ke wartablora.com, Senin siang (26/9/2016), usai ujian tengah semester.
Gadis penyuka warna ungu ini di kelas XI lalu menempati rangking 2. Turun rangking dari setahun sebelumnya di kelas X yang rangking 1. Sekolah mengambil 4 anak di tiap kelas yang menempati rangking 1 hingga 4. Jenny otomatis masuk dalam seleksi awal di sekolah. Ada 2 kelas XII di jurusan keperawatan. Sekolah mengambil 8 anak dari 2 kelas tersebut.
"Mengujinya spontan. Kami ditanya-tanya sama Bu Yuni Wulan Utami, Kepala Progdi tentang teori-teori. Lalu setelah itu praktek di lab," kata pemilik tinggi badan 152 sentimeter ini.
Seleksi di sekolah meloloskan 3 anak, untuk disaring lagi. Jenny masuk. Dari 3 anak yang diuji, loloslah Jenny untuk diberangkatkan ke Solo, ikut LKS tingkat Provinsi Jawa Tengah.
"Berangkatnya ke Solo tanggal 13 September," kata anak pasangan Gunadi dan Karmilah ini.
Menyaksikan lawan-lawannya, Jenny sempat down. Namun bangkit lagi sewaktu ngobrol-ngobrol dengan beberapa anak yang jadi lawannya dalam perlombaan itu.
"Saat ngobrol-ngobrol itu ternyata ada yang tidak paham tentang satu teori. Dari situ kepercayaan diri saya bangkit lagi," ujar pemilik Bintang Capricorn ini.
Zodiak Jenny bukan Taurus, tapi Capricorn. Taurus dimiliki mereka yang lahir 21 April – Mei 20, sedang Capricorn dimiliki mereka yang lahir 22 Desember – 19 Januari.
"Kata ibu saya, saya lahirnya 13 Januari, tapi di akta dicatatkan 13 Mei," kata dara yang ditinggal merantau kedua orang tuanya ke Jakarta ini.
Ayah-ibu Jenny pergi merantau ketika Jenny masuk masa sekolah menengah atas. Di Blora, Jenny tinggal sama nenek dari ayahnya di Growong. Seminggu, atau paling lama dua minggu sekali dia pulang kampung ke Desa Galuk, Kecamatan Kedungtuban, bersepeda motor sendirian. Masih ada adik kandungnya di Galuk, yang tinggal sama nenek dari ibunya.
"Saya anak sulung, ada satu adik cowok, sekolah di MTs di Galuk," kata Jenny yang mengaku telah bisa bersepeda motor sejak kelas 5 SD.
Di kelas 5 SD di SDN 1 Galuk, Jenny masuk rangking 3 besar. Sejak kelas 1 SD, Jenny memang sudah mendapatkan rangking, walaupun usia masuk sekolahnya tergolong lebih awal. Usia belum genap 6 tahun, Jenny telah masuk SD. Di kelas 1 ia mendapat rangking pertama. Sesudahnya sempat turun ke rangking 3 saat menginjak kelas-kelas berikutnya, lalu naik lagi ke rangking 2 dan 1.
Menginjak SMP di SMP Negeri 1 Kedungtuban, Jenny pun selalu mendapat rangking pertama dan kedua.
"Saat SMP saya tidak pernah membayangkan mau masuk SMK Kesehatan. Bayangan saya dulu di SMA 1 Cepu atau SMA 2 Cepu. Atas saran dari ayah, saya masuk ke SMK Kesehatan ini," kata gadis berkacamata ini.
Di SMK Kesehatan, lagi-lagi ia mendapatkan rangking. Di kelas X ia rangking 1, baik semester awal maupun akhir. Di kelas XI, turun jadi rangking 2. Dari rangking inilah, Jenny akhirnya punya kesempatan ikut dalam LKS.
"Saya tidak pernah membayangkan dapat juara. Walaupun saya punya motivasi, tapi saya jalani mengalir saja," kata Jenny.
Saat pengumuman pemenang di tanggal 15 sore, ia sudah sempat pupus harapan ketika pengumuman juara 3 dan 2 diperdengarkan. Jenny sebelumnya berharap ia bisa masuk 3 besar, seperti rangking-rangking yang ia dapat di kelas yang tak pernah tidak masuk 3 besar. Namun di lomba, ia tak pernah memimpikan untuk bisa juara pertama.
Berdebar, ia pun mendengarkan siapa yang juara pertama. Bergemuruh dadanya, dan pecah isak tangisnya saat mendengar namanya adalah juara pertama LKS itu.
"Saya hampir tak percaya," kata gadis penyuka musik pop ini.
Kini, usai meraih juara, ia berharap dapat menjadi tambahan modal buatnya untuk diterima di Jurusan Analis Kesehatan di Poltekkes Surabaya.
"Saya memilih ke Analis Kesehatan, tidak di Keperawatannya. Lebih berpeluang. Kalau keperawatan sudah terlalu banyak. Yang banyak dicari sekarang analis kesehatan, radiologi, dan gizi," kata gadis berjilbab ini.
"Tapi saya mau lihat dulu akreditasinya. Saya belum cek Analis Kesehatan di Poltekkes Surabaya itu akreditasinya A atau tidak. Saya inginnya A. Kemarin saya rencanakan ke Unair, tapi setelah saya cek, akreditasinya tidak A," tutup gadis yang mengaku telah punya teman dekat cowok ini. (*)