Rumah susun sederhana sewa, atau disingkat Rusunawa, di belakang SMP Negeri 1 Cepu telah dibuka untuk penghuninya sejak Rabu (15/2/2017). Sejumlah 38 keluarga sudah mulai menghuni. Bagaimana dan apa saja fasilitasnya?
Oleh : Gatot Aribowo
EKAWATI sedang bersih-bersih di lantai meja dapur berukuran tak lebih 1 kali 2,5 meter. Belum ada perabot di sana. Sementara di sebelahnya, di dalam kamar berukuran kurang dari 3 kali 2 setengah meter, suaminya tengah bermain dengan si kecil berumur 4 tahunan. Ada kemenakannya yang belum genap 2 tahun terlelap, ditidurkan sama mertuanya.
Kamar juga masih kosong. Hari itu, sehari setelah ia terima kunci kamar di lantai 2 Rusunawa, ia bersama Pramodo, suaminya, memang berniat membersihkan hunian barunya terlebih dulu sebelum membawa tempat tidur dan perabot rumah tangga dari rumah mertuanya. Sejak ada kabar dibangunnya Rusunawa pertama di Cepu 2 tahun silam, ia dan suami ambil keputusan untuk mengambilnya. ia ingin hidup mandiri, tak serumah lagi dengan mertuanya.
Sejak menikah, ibu satu anak itu tinggal bersama mertuanya di Dukuhan Putuk Tangsi, Kelurahan Cepu. Ada 4 kamar di rumah Jumariah, mertua Ekawati, ditinggali 3 keluarga: Jumariah dan suaminya, Ekawati dan suaminya, serta adik iparnya yang juga sudah berkeluarga.
"Setelah ada kabar dibangunnya Rusunawa, saya segera cari informasi bagaimana bisa mengambil," kata Ekawati sembari bersih-bersih lantai.
Tak sulit bagi warga Kota Cepu yang ingin mendapatkan hunian di rusunawa berlantai 5 ini. Apalagi Ekawati yang sudah berkeluarga.
Sunarko, Staf Dinas Perumahan, Permukiman, dan Perhubungan Kabupaten Blora yang merupakan penanggung jawab pengelolaan rusunawa tersebut menyebutkan syarat-syarat untuk bisa mengambil hunian di rusunawa itu.
"Satu yang pasti harus sudah berkeluarga dan tidak nikah siri. Sebab syarat pertama yang akan kita tanyakan adalah sudah punya surat nikah belum," katanya.
Syarat berikutnya adalah jika bergaji, maka tak boleh lebih dari Rp2 juta.
"Sebab rusunawa ini memang dikhususkan untuk keluarga berpenghasilan rendah, tak lebih dari Rp2 juta. Agar tepat sasaran, setiap pendaftar yang ingin sewa akan kami lakukan verifikasi penghasilannya jika bergaji. Kami akan datangi tempat kerjanya untuk mengecek kebenaran, termasuk meminta slip gajinya," ujar Sunarko.
Bagi Ekawati dan suaminya yang kesehariannya jejualan di angkringan di dekat Hotel Cepu Indah, penghasilannya tentu termasuk golongan rendah.
(*)
EKAWATI bersama suaminya adalah 1 dari 24 keluarga yang di Rabu (15/2/2017) telah membuka pintu hunian rusunawa di lantai 2. Inilah kali pertama rusunawa yang telah jadi beberapa waktu lalu ditempati. Ada 38 keluarga yang telah terdaftar sebagai penghuninya, dengan 24 keluarga menempati di lantai 2, dan 14 keluarga tersebar di lantai lainnya.
Rusunawa itu dibangun memanjang dengan lebar tak lebih 20 meter. Dengan panjang lebih dari 60 meter, rusunawa bersusun 5 lantai itu terletak di areal luas di persawahan belakang SMP N 1 Cepu. Menjangkaunya tak kurang 1 kilometer dari Jalan Raya Cepu-Kedungtuban, masuk di jalan berpintu gerbang SMP 1 Cepu di depan pusat perbelanjaan Bravo.
Rusunawa dibangun sejak pertengahan 2015 oleh Kementerian Pekerjaan Umum, dengan menelan dana Rp15,8 miliar, diambilkan dari anggaran negara (APBN). Total ada 98 hunian disediakan di rusunawa tersebut, dengan 2 hunian di lantai bawah untuk difabel.
"Mulai lantai 2 ke atas, setiap lantainya ada 24 hunian," kata Sunarko, staf pemerintah yang ditugaskan sebagai penanggung jawab rusunawa tersebut.
Hunian itu luasannya 5x5 meter. Setiap hunian didesain dengan ruangan yang sama. Ada kamar mandi dan toilet seukuran tak lebih 1x1 setengah meter, dapur seluas tak lebih 1 kali 2,5 meter, dan ruang jemuran seukuran tak lebih 1x1 meter. Ada juga kamarnya yang luasnya tak lebih 3x3 meter, dan ruang depan seluas tak lebih 2x3 meter.
Untuk menjaga kebersihan, setiap lantai disediakan terowongan pembuangan sampah yang letaknya di ujung hunian. Di bawah terowongan telah ada pengangkut sampah yang setiap saat bisa diambil oleh petugas. Selain itu pengelola juga telah memiliki 2 petugas kebersihan yang bertugas setiap pagi hingga siang.
"Penghuni tidak lagi ditarik iuran untuk petugas kebersihan. Biaya tambahan untuk penghuni hanya listrik dan air PDAM. Itupun tergantung pemakaian nantinya. Setiap kamar sudah ada meterannya masing-masing," kata Sunarko.
Biaya sewa hunian setiap lantainya berbeda, tergantung lantai mana yang ditempati. Semakin di atas, semakin murah biaya sewa per bulannya. Untuk lantai paling atas, yakni di lantai 5, biaya sewanya Rp50 ribu. Biaya sewa ini sama dengan 2 hunian di lantai bawah yang dikhususkan difabel.
Biaya sewa akan ditarik secara bulanan. Di awal, penghuni akan dikenakan tambahan jaminan sejumlah 2 bulan sewa. Jaminan ini akan dikembalikan manakala penghuni pindah, keluar dari rusunawa.
"Untuk hunian di lantai 2 biaya sewanya Rp125 ribu, lantai 3 Rp100 ribu, dan lantai 4 Rp75 ribu," sebut Sunarko.
Selain petugas kebersihan, pengelola rusunawa juga menyediakan 3 petugas keamanan yang setiap malam bergiliran berjaga. Penjagaan diperlukan sebabnya di lantai bawah ada ruangan terbuka untuk parkir kendaraan. Ada 2 lokasi parkir yang cukup luas, yang bisa menampung ratusan kendaraan roda 2.
Tak hanya parkir, di lantai bawah juga ada musholla, aula pertemuan, dan kantor administrasi. "Dan di sana itu," kata Sunarko sambil menunjuk ke satu ruangan terbuka, "adalah tempat untuk usaha para penghuni." Tempat usaha itu nantinya bisa digunakan untuk berjualan bagi para penghuninya.
Untuk bisa mendapatkan rusunawa ini, Sunarko meminta para peminat untuk mendatangi kelurahan setempat untuk pengambilan formulir.
"Kita sudah sebar formulir ke kelurahan-kelurahan yang ada di Kota Cepu. Saat ini masih ada 46 sisa yang tersedia, sebab 14 hunian sudah kita alokasikan untuk warga yang akan direlokasi dari bantaran sungai yang ada di Cepu sini," tutup Sunarko. (*)
wartablora.com