Selasa, 20 Februari 2018, 14:45 WIB

Pra-rekonstruksi Pembunuhan Gadis Demak

Sempat Tolak Minum Apotas, Dicekik Sebelum Mati

Pewarta : Gatot Aribowo
Gatot Aribowo Edi Sumarsono, alias Sondong, mempraktikkan pencekikan leher sesaat sebelum Ida meregang nyawa.

BLORA (wartablora.com)—Polisi menggelar pra-rekonstruksi pembunuhan Ida Lestyaningrum, seorang gadis warga Demak berusia 27 tahun, Selasa, 20 Februari 2018. Dari pra-rekonstruksi ini terungkap, Ida sempat menolak saat ditawari minum apotas. Untuk memaksa Ida minum apotas, Sondong, pelaku pembunuhan, mencekik leher Ida. Namun Ida tetap menolaknya.

"Ya sudah kalau tidak mau minum. Kita pulang," begitu kata Sondong kepada Ida.

Perkataan Sondong kepada Ida ini dipraktikkan dalam pra-rekonstruksi yang digelar Satreskrim Polres Blora. Pra-rekonstruksi ini digelar untuk memastikan kejadian yang sebenarnya saat terjadinya peristiwa pembunuhan Ida di Monumen Korban PKI di Desa Wulung, Kecamatan Randublatung.

Saat dibonceng untuk pulang ke Demak—mengoreksi berita sebelumnya yang menyebutkan usai disetubuhi, Sondong mengajak Ida ke rumahnya di Pedukuhan Pojok, Kelurahan Randublatung, Kecamatan Randublatung—Ida meminum apotas yang dicampur dalam botolan teh fresh tea. Ida berpikir untuk mencegah kehamilannya, seperti yang dikatakan Sondong padanya.

"Ini diminum," perintah Sondong kepada Ida sebelum dibonceng pulang dari Monumen Korban PKI.

"Ini untuk apa?" tanya Ida.

"Biar tidak hamil."

"Tidak mau. Saya minta tanggung jawabmu."

Kesal, Sondong mencekik leher Ida untuk dipaksa minum. Namun Ida tetap bersikukuh tidak mau.

"Ya sudah kalau tidak mau minum. Kalau kamu hamil, ya sudah. Tanggung sendiri. Kita pulang."

Setelah minum, tak sampai jarak 300 meter dari monumen ke arah utara menuju Blora, Ida terjatuh. Sondong pun menghentikan sepeda motornya. Melihat Ida megap-megap, Sondong lantas mencekik leher Ida dan menekan dada Ida dengan tangan satunya, berniat mengakhiri hidup Ida.

Setelah dirasa telah tak bernyawa, Sondong menggendongnya bermaksud membuangnya jauh dari pandangan orang yang melintas. Usai menjauhkan mayat Ida, Sondong lalu menstarter sepeda motornya, putar balik ke Randublatung. Tas Ida yang terjatuh disautnya, lalu dibawa. Sesampainya di monumen, ia pun membuang tas Ida di sana.

Kasatreskrim Polres Blora AKP Dwi Heri Utomo menyatakan, pra-rekonsruksi dilakukan dalam rangka melengkapi berkas penyidikan.

"Jadi kita ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya itu seperti apa," katanya kepada wartawan usai pra-rekonstruksi.

Pra-rekonstruksi dilakukan dengan detail, termasuk proses persetubuhan pelaku dengan korban yang paksakan pelaku dilakukan di monumen pada Kamis sore, 15 Februari 2018. (*)



Jumat, 22 Desember 2017

Anggota Bhabinkamtibmas Polsek Jiken memelopori peternak sapi di desanya untuk mengembangkan alat giling pakan ternak. Sebagai bentuk kepedulian polisi terhadap masyarakat yang dibinanya.


Rabu, 03 Mei 2017

Sudah sering donor darah, tapi masih takut lihat jarum suntik dan darahnya sendiri. Selalu berdebar saat jarum hendak menusuk lengannya.


Juni 2017

Gencarnya polisi merazia pemakai kendaraan baiknya disikapi lebih arif dari warga negara. Tak perlu curiga bahwa polisi sedang mencari-cari kesalahan.


Back to Top
copyright © wartablora dotcom 2026
All right reserved