Rabu, 28 Desember 2011, 14:55 WIB

Buku Ditolak, Demo "Bayaran" Bertindak

Pewarta : Gatot Aribowo
Gatot Aribowo Sejumlah anak-anak dikerahkan untuk mendemo Dinas Pendidikan Kabupaten Blora. Demo ini sebagai upaya untuk mendesak Pemkab Blora menerima pengiriman buku DAK.

BLORA (wartablora.com)—Ditolaknya pengiriman buku perpustakaan SMP se-Blora yang anggarannya diambilkan dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2011 berbuntut demo di depan kantor Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga di Jalan Ahmad Yani Blora pada Rabu siang, 28 Desember 2011. Demo yang turut menyertakan anak-anak tersebut sempat menyoroti kinerja pemerintahan kabupaten Blora sebelum bergeser ke pengiriman buku dari konsorsium CV Lima Marito-PT Multazam Mulia Utama. Pendemo menganggap, Pemerintah Blora tak memperhatikan aspirasi masyarakat tentang buku-buku sekolah.

Demo yang diikuti tak lebih dari 50 orang tersebut ditengarai sebagai demo bayaran. Ini terlihat dari peserta demo yang diantaranya ada kenek angkutan umum, beberapa perempuan, dan anak-anak kecil.

Selain itu, sumber wartablora.com menyebut, pada malam sebelumnya telah ada pertemuan antara pihak CV Lima Marito dengan beberapa aktivis LSM. Disinyalir, dalam pertemuan tersebut ada kesepakatan untuk melakukan aksi demo ke Disdikpora Kabupaten Blora.

Beberapa aktivis LSM di Blora yang nampak turun di lapangan turut menyertai aksi demo tersebut. Beberapa diantaranya yang tak mengetahui duduk persoalan ikut dalam tanya jawab antara perwakilan pendemo dengan Wakil Bupati Blora Abu Nafi dan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Blora Slamet Pamuji.

Tanya jawab dengan Abu Nafi dan Slamet Pamuji ini dilakukan setelah pendemo sempat melempari papan nama Disdikpora dengan telur. Ramai-ramai, termasuk anak-anak ikut melemparkan telur ke papan nama tersebut. Selain itu, gelas air minum dalam kemasan juga turut dilemparkan.

Pendemo juga sempat membawa spanduk bertuliskan, "Bubarkan Pemkab Karena Tidak Pro Rakyat." Sementara aktivis dari Lembaga Kajian Budaya dan Lingkungan Pasang Surut, Eko Arifianto yang sempat berorasi malah menyinggung kasus tanah milik Kwarcab Blora.

Dalam tanya jawab tersebut, perwakilan pendemo menanyakan proses lelang yang menurut mereka telah ditetapkan pemenangnya, yakni CV Lima Marito. Selain itu mereka menanyakan proyek DAK buku yang tak kunjung dilaksanakan.

Semula, tanya jawab akan digelar di dalam Kantor Disdikpora Blora, melibatkan Kapolres Blora dan beberapa perwakilan LSM, serta Abu Nafi dan Slamet Pamuji. Namun, Eko Arifianto yang terus berorasi dengan pengeras suara membuat urung dialog itu digelar. Akhirnya, dengan mengalah, Abu Nafi dan Slamet Pamuji, didampingi Kapolres Blora keluar ke jalan raya menemui pendemo. (*)



Senin, 13 Februari 2017

Bekas dapur itu kini jadi perpustakaan. Tempat bertamunya pengagum Pram, untuk sekedar mendengar kisah Pram di masa silam.


Selasa, 12 Juni 2018

Senin, 26 September 2016

Bagi Jenny Yudiana, rangking di kelas itu penting. Bermula dari rangking itulah ia akhirnya menyabet juara I Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan tingkat provinsi Jawa Tengah.


Juni 2017

Gencarnya polisi merazia pemakai kendaraan baiknya disikapi lebih arif dari warga negara. Tak perlu curiga bahwa polisi sedang mencari-cari kesalahan.


Back to Top
copyright © wartablora dotcom 2026
All right reserved