Sabtu, 28 April 2012, 12:15 WIB

Hanifa Nur Aprlian

Alami Kejenuhan

Gatot Aribowo Hanifa Nur Aprlian

Lomba demi lomba dia lalui. Lebih sering ikut lomba menyanyi. Pernah menjuarai festival seni tingkat nasional, iseng-iseng ikut lomba karya ilmiah. Meski cukup berat menjalaninya, namun akhirnya dapat juara dua di tingkat provinsi.

SUASANA kelas 8.1 SMP 2 Blora siang itu agak riuh. Jam pelajaran tampaknya sedang kosong. Seorang gadis belasan tahun tengah asyik ngobrol dengan temannya di sudut kelas. Gadis berjilbab itu adalah Hanifa Nur Aprlian.

Di bulan yang ia merayakan ulang tahunnya ke 14, Hanifa menyabet juara 2 lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR) tingkat Jawa Tengah. Tulisan ilmiahnya yang mengupas soal kesuburan tanah hutan jati di Blora mampu menarik perhatian juri.

“Awalnya hanya disuruh oleh guru untuk ikut lomba karya ilmiah ini. Lalu saya disuruh untuk cari bahan-bahan di internet. Jadilah satu tulisan ilmiah yang mengambil materi kesuburan tanah hutan jati di Blora. Saya kirim lewat pos dan di pengumuman dapat juara 2,” cerita Hanifa pada suatu siang di kelasnya di kelas VIII.1 SMP 2 Blora.

Ikut lomba karya ilmiah ini sempat menjadi beban tersendiri buat Hanifa. Maklum, baru pertama kalinya ia ikut lomba ini. Meski berat, Hanifa akhirnya Hanifa mampu mendapat hasil yang memuaskan.

“Berat juga sih. Memang ada beban tersendiri. Alhamdulillah, dapat juga juara 2,” kata penghobi menyanyi ini.

Bungsu dari 3 saudara perempuan semua ini mengaku baru pertama kalinya ikut lomba yang berbau ilmiah-ilmiah. Sebelumnya lomba yang sering diikutinya adalah lomba menyanyi. Bahkan pernah dapat juara 3 untuk lomba grup nasyid di festival seni tingkat nasional.

“Lomba karya ilmiah ini baru pertama kali. Sebelumnya lomba-lomba yang sering saya ikuti hanyalah lomba-lomba menyanyi,” ujar anak pasangan dari Jasmani dan Munarti ini.

Kegemaran menyanyi dari pemilik ukuran sepatu 39 ini muncul ketika duduk di kelas 7. Jauh sebelumnya ia sama sekali tak menyukai menyanyi.

“Waktu itu kan saya mendengar kakak kelas sedang memperdengarkan suaranya di salah satu radio di Blora. Saya mendengarnya kok lagunya enak. Dari situ saya jadi tertarik untuk mendalami seni suara,” kata penyuka warna hijau ini.

Sejak itu gadis kelahiran 29 April 14 tahun silam ini mulai aktif ikut ekstra-kurikuler seni tarik suara di sekolahnya. Dalam seminggu ia bisa latihan sampai 2 kali. Lebih rutin menjelang ada perlombaan. Tak tercatat dengan pasti berapa kali lomba yang ia ikuti.

“Terus terang saya alami kejenuhan. Di kelas 3 nanti saya akan coba menghentikan sementara ikut lomba-lomba. Saya coba akan konsentrasi di pelajaran sekolah,” kata penyuka alat music kibor ini.

Kejenuhan Hanifa bukan tanpa alasan. Sering ia ketinggalan pelajaran saat konsentrasi ikut lomba. Beruntung, Hanifa masih memiliki seorang teman dekat di kelasnya yang membantunya untuk tidak ketinggalan pelajaran.

“Seorang teman dekat bagi saya sangatlah berarti. Selain jadi tempat curhat, saya juga bisa bertanya tentang pelajaran yang ketinggalan saya ikuti,” kata Hanifa sambil menunjuk seorang gadis yang sedang ngobrol di pojok kelas sebagai seorang teman dekatnya.

Gadis itu setiap harinya duduk di bangku belakang Hanifa. Ia penggemar jalan-jalan berkeliling kota Blora dengan sepedanya.

“Sering saya diajak menemani dia untuk jalan-jalan berkeliling sepulang sekolah,” ujar penggemar music Pop ini.

Di kelasnya, Hanifa masuk 10 besar di rangking kelasnya yang dihuni 23 anak.

“Dapat rangking 6. Pengen juga sih bisa masuk 3 besar. Tapi kan kelas kami ini termasuk kelas unggulan. Jadinya kalau rangking 6 di kelas ini bisa rangking 1 di kelas lain yang bukan unggulan,” kata pengagum Agnes Monica ini.

Soal kegiatan belajarnya, Hanifa mengaku sulit belajar di pagi hari. Jadinya selepas bangun jam 4.30 pagi dan menunaikan ibadah sholat subuh, biasanya Hanifa tidur lagi hingga menjelang kesiapannya berangkat sekolah.

“Berangkat sekolah jam setengah 7 gitu. Bersepeda sampai sekolah jam 7 kurang,” kata Hanifa yang belum punya banyangan tentang cita-citanya kelak. (*)



Senin, 26 September 2016

Senin, 13 Februari 2017

Bekas dapur itu kini jadi perpustakaan. Tempat bertamunya pengagum Pram, untuk sekedar mendengar kisah Pram di masa silam.


Selasa, 12 Juni 2018

Rabu, 03 Mei 2017

Sudah sering donor darah, tapi masih takut lihat jarum suntik dan darahnya sendiri. Selalu berdebar saat jarum hendak menusuk lengannya.


Juni 2017

Gencarnya polisi merazia pemakai kendaraan baiknya disikapi lebih arif dari warga negara. Tak perlu curiga bahwa polisi sedang mencari-cari kesalahan.


Back to Top
copyright © wartablora dotcom 2026
All right reserved