Indra Utami Tamsir akan konser di 9 kota di bulan September ini, berakhir awal bulan depan. Mengambil start dari kota kelahirannya, Blora, Indra akan mengakhiri konsernya 6 Oktober mendatang di Balai Sarbini, Jakarta.
SENIN malam, (5/9/2016), Indra Utami Tamsir berkesempatan mengundang wartawan untuk wawancara di Studio Radio Gagak Rimang. Jumpa pers lebih dalam suasana penuh kehangatan dan keakraban. Tanpa ditanya lebih dulu, ia pun mengawali dengan bercerita tentang Blora, dirinya, dan dunia seni.
Wanita kelahiran Blora, 16 Juli, 42 tahun silam tersebut akan konser Rabu pekan ini (7/9/2016) di Sasana Bhakti, Blora. Konser ini adalah rangkaian awal IUT (Indra Utami Tamsir) Production dalam mempromosikan album ketiganya yang bertajuk Wanita Indonesia.
Konser ini disebut Indra sebagai konser yang lebih bertujuan pada misi edukasi ketimbang komersialitas.
"Jika mau jujur, konser ini lebih pada pengorbanan saya dan tim untuk melestarikan musik keroncong. Tanpa sponsor, dan hanya beberapa orang yang berdonasi untuk terselenggaranya konser ini," kata lulusan SMA Katolik Wijaya Kusuma tahun 1992 ini.
Apa yang dikatakan Indra ini bukan bualan. Tiket yang dijual di Blora saja hanya seharga Rp25 ribu. Itupun dicetak tak lebih dari 400 lembar.
"Kuncinya di kami adalah kecintaan. Orang kalau sudah cinta itu nothing to lose. Apapun dilakukan. Kami sangat mencintai keroncong. Kami tak ingin musik ini hilang. Kita tidak tahu apa yang terjadi 5 atau 10 tahun mendatang. Jika tidak kami lakukan, bagaimana musik keroncong ini akan lestari?" tanya lulusan SD 2 Kunduran ini.
Walau demikian, ia tak memungkiri keinginan album ketiganya yang berisi 13 lagu tersebut bisa tembus di pasaran, terutama di pemasaran lewat digital.
"Awalnya saya memang ragu. Apalagi industri musik sekarang, tak hanya keroncong, sedang kesulitan dengan adanya perkembangan teknologi. Tapi saya diyakinkan tim, nanti penjualan album tidak hanya offline tapi lewat jalur digital," kata peraih AMI Awards tahun 2013 untuk kategori penyanyi keroncong dan langgam terbaik.
Indra berkeinginan albumnya ini bisa dijadikan acuan buat peminat dan penggiat musik keroncong di seluruh Indonesia. Apalagi, kata Indra, musik keroncong saat ini sudah mulai digemari kalangan muda. Di Bandung, sebut Indra, pemusik jalanan sekarang juga banyak yang membawakan keroncong.
"Di Sawahlunto, Sumatera Barat, penggemar musik keroncong datang dari kalangan muda," sebut Indra.
Sebagai album yang diinginkan sebagai acuan, semisal dalam festival musik keroncong, Indra benar-benar mengerahkan kemampuannya untuk membuat album ketiganya ini.
"Keroncong itu beda. Saya tak mengecilkan genre lain, tapi keroncong itu memang sulit. Tapi bagi saya itu adalah tantangan. Contohnya adalah begini," kata Indra sambil lalu mendendangkan selarik nada.
"Ini," lanjut Indra usai berdendang, "saya kira cengkoknya sudah benar. Tapi ternyata salah. Ini ternyata cengkok ndangdut."
Indra sendiri sudah menggeluti musik keroncong sejak 6 tahun terakhir. Sebelum-sebelumnya, Indra menggeluti berbagai musik. Dari langgam, ndangdut, hingga pop.
"Sejak kecil memang cita-cita saya jadi artis sih," kata pengagum artis Lidya Kandou ini.
SD di Negeri 2 Kunduran, lalu ketika menginjak SMP bersekolah di SMP Ngaringan, Indra beralih jadi peminat musik pop.
"Saya memang berkesenian. Lulus SMA saya ke Jakarta. Hidup saya lebih banyak di Jakarta, selama 25 tahun, dan 18 tahun di Blora," kenangnya.
Walau setahun bisa dua kali pulang ke Blora, ia tak pernah menginap di rumah lamanya yang sekarang ditinggali saudara angkat.
"Rumah masih ada di Kunduran. Tidak pernah menginap, " Indra mendaku, "hanya singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke Semarang atau ke Surabaya."
Sebagai pencinta musik keroncong, Indra mendaku jika musik keroncong memang tak mudah untuk dijadikan sumber penghidupan.
"Saya sendiri ada usaha kecil-kecilan di rumah. Walaupun itu dari hasil konser juga. Saya tak pernah mematok honor. Saya dapat 10 juta juga pernah, 40 juta juga, pernah, 50 juta juga pernah, 100 juta juga pernah. Tapi itu lebih dari penghargaan mereka atas kecintaan mereka akan musik keroncong," katanya.
Dari hasil ini pula, Indra mengakui ada yang sebagian ia korbankan untuk menggregetkan musik keroncong melalui konser di 9 kota tersebut.
"Nothing to lose aja," pungkasnya. (*)