Sudah bertahun-tahun kesenian wayang orang tak terdengar lagi. Tak ada lagi penampilannya. Kesenian yang dulu jadi penampilan rutin tiap tujuh-belasan, kini tinggal menunggu kepunahannya.
Oleh : Gatot Aribowo
TUMPUKAN album foto dikeluarkan Sukarti. Album foto itu berisi dokumentasi saat pementasan wayang orang puluhan tahun silam. Masih tersimpan rapi. Walau pencahayaan fotonya tak begitu terang, tapi masih terlihat jelas.
"Ini yang foto-foto kemenakan saya," kata Sukarti, Senin (16/1/2017).
Sukarti adalah istri dari Soewito Parto Atmojo, seorang pensiunan polisi. Soewito adalah salah satu pemain seni wayang orang di Kelurahan Jepon. Werkudoro (Bimo) adalah peran yang dimainkan Soewito. Sosok Soewito yang telah berusia 75 tahun itu memang pas untuk peran yang menggambarkan sosok Werkudoro.
"Karena sosoknya (Werkudoro) yang tinggi besar, itu ada pada diri saya," ucapnya sambil terkekeh.
Seni wayang orang populer di dekade 1980. Bagi mereka yang besar antara tahun 1980-1990 pasti telinganya akrab dengan kesenian ini. Seni wayang orang bagi warga kelurahan Jepon di tahun-tahun itu menjadi tontonan rutin yang bisa dinikmati tiap tahun di acara perayaan kemerdekaan RI, tujuh belasan Agustus. Tempatnya kadang di teras kantor Polsek Jepon, kadang kala di panggung yang didirikan di pasar Jepon.
"Dulu kita rutin tiap tujuh belasan tampil," ujar Soewito.
Keluarga Soewito termasuk pecinta seni wayang orang. Anak-anak mereka juga sering tampil. Ada Ernita Tri Pratiwi, juga Anjar Lestyorini. Sukarti, istri Soewito, walau tidak turut main sering kali ikut dalam pementasan. Maklum, Sukarti aktif juga mengurus administrasi kelompok wayang yang dulu pernah diketuai suaminya itu.
"Saya ikut aktif mengurus administrasi keuangannya," kata Sukarti sambil mengeluarkan kertas-kertas yang berisi catatan keuangan kelompok wayang orang tersebut.
Catatan kertas itu mencatat pengeluaran, aset yang dibeli, maupun donasi-donasi. Ada pula nama-nama pemainnya. Ada juga surat-surat, baik bertuliskan tangan maupun hasil ketikan mesin. Administrasi dan dokumentasi kelompok wayang tersebut masih tersimpan bagus. Begitu pula perlengkapan pakaiannya yang disimpan Margono, salah satu anggota kelompok wayang tersebut.
"Dulu pakaian ini pertama kali yang belikan Baeksu. Oleh Baeksu pernah diwasiatkan jika nantinya sepeninggal dia, biar pakaian itu yang menyimpan saya. Karena saat itu saya termasuk yang termuda," kenang Margono.
Baeksu merupakan salah satu etnis China yang menjadi penggemar berat seni wayang orang. Selain Baeksu, banyak warga keturunan China yang bertinggal di kelurahan Jepon yang jadi penikmat seni wayang orang. Warga keturunan China ini yang 7 tahun silam mendanai penampilan wayang orang di pasar Jepon. Itulah penampilan terakhir seni wayang orang di Jepon, bahkan bisa jadi di Blora.
"Kita tampil terakhir saat Pilbup 2010. Dua kali penampilan di tahun itu. Satunya untuk melestarikan seni wayang orang ini yang ditampilkan di depan (sekarang) pasar rakyat Jepon itu, satunya lagi tanggapan untuk kampanye salah satu paslon," kisah Margono.
Tak hanya sebagai penikmat, salah satu warga keturunan China bahkan ada yang menjadi dalang. Tak cuma wayang kulit yang perlu dalang, wayang orang juga memerlukan dalang. Adalah Hong Siu yang menjadi dalang di kelompok wayang orang Tri Karya Budaya Kelurahan Jepon itu. Hong Siu sekarang tinggal di sebelah kantor Polsek Jiken. Margono bercerita jika Hong Siu merupakan dalang tertua di Jepon. Sebelum berdiri kelompok wayang orang Tri Karya Budaya tersebut, Hong Siu telah jadi dalang wayang kulit.
Kelompok seni wayang orang Tri Karya Budaya berdiri sekitar pertengahan dekade 1980. Merupakan gabungan dari 3 kelompok seni yang ada di kelurahan Jepon. Margono menyebut ada 3 kelompok seni wayang orang waktu itu.
"Dari Ngawen (RW 5) ada, Jepon (RW 1/2) sendiri ada, juga Kidangan (RW 6)," kata Margono.
Margono bergabung di kelompok seni wayang orang ini di awal 1980-an. Saat itu ia masih duduk di STM (sekarang SMK). Selain Margono, banyak anak-anak muda saat itu yang berkesenian wayang orang. Salah satunya Guntur Setyanto, yang kini seorang Kombes di kepolisian.
Pementasan wayang orang yang banyak penontonnya dari mereka yang berusia anak-anak. (foto: Album Keluarga Soewito)"Banyak dulu anak-anak muda yang ikut wayang orang, termasuk Guntur itu. Juga Sri Wahyuni. Mereka pacaran setelah bertemu dan main di wayang orang," cerita Margono.
Jika anak-anak sekarang gemar dengan barongan, anak-anak dulu gemar wayang orang. Dari foto-foto di album milik keluarga Soewito, anak-anak begitu banyaknya yang nonton wayang orang ketika pentas.
"Banyak yang bisa kita ajarkan ke anak-anak dalam pentas seni wayang orang. Salah satunya unggah-ungguh," klaim Margono.
Seni wayang orang beda dengan seni ketoprak. Seni wayang orang kaya dengan tarian. Bahkan peperangan yang ditampilkan dalam seni wayang orang ditampilkan dengan gerakan-gerakan tarian. Beda dengan peperangan yang ditampilkan dalam seni ketoprak.
"Karenanya untuk menarik minat penonton, kami sering menggunakan pemain-pemain ketoprak untuk peperangan antar prajurit. Tapi kalau peperangan antar lakon-lakonnya pakai peperangan wayang orang, biar tidak mengurangi ciri wayang orangnya," kata Margono.
Dalam pementasan wayang orang tak sedikit orang yang dilibatkan. Dari catatan yang dimiliki Sukarti, ada 43 orang yang tergabung dalam kelompok seni wayang orang Tri Karya Budaya Kelurahan Jepon. Sementara Margono menyebut, sedikitnya ada 30 orang yang harus terlibat dalam pementasan wayang orang. Itupun ada beberapa pemain yang merangkap peran-peran yang lain, termasuk peran prajurit untuk tampil perang-perangan ala ketoprak.
"Kalau peperangan ketoprak itu atraktif. Kalau peperangan wayang orang itu tarian. Jadi kita sering mengundang teman-teman yang main ketoprak untuk tampil di perang antar prajurit. Kalau atraktif, minat orang untuk menonton itu besar," ujar Margono.
Lantaran banyaknya yang terlibat dalam pentas, seni wayang orang sulit untuk dijadikan mata pencaharian. Seni ini cocok untuk mereka yang telah memiliki sumber pendapatan tetap. Banyak dari anggota kelompok wayang orang Tri Karya Budaya yang bekerja jadi PNS. Ada pula yang polisi, seperti Soewito. Sementara yang anak-anak, seperti Margono, tak mendapat bayaran pun tak apa-apa.
Anak-anak muda yang tampil dalam pementasan seni wayang orang memiliki kepuasan tersendiri meskipun tak dibayar. (foto: Album Keluarga Soewito)"Sudah bisa tampil (saat itu) saja sudah senangnya bukan main. Jadi kami berkesenian waktu itu untuk kepuasan batin," ucap Margono.
Dalam tahun-tahun terakhir pementasan wayang orang, Margono bersama kelompok wayang orang Tri Karya Budaya yang belakangan diubah menjadi Karya Budaya mematok angka Rp10 juta untuk pementasan. Itu sudah termasuk pengrawit, panggung, dan sound system.
"Di tahun-tahun sebelum 2010 masih tampil. Setahun bisa 3 sampai 4 kali. Tapi sesudah itu sama sekali tidak ada," kata Margono.
Di Blora, Margono menyebut ada setidaknya 4 kelompok seni wayang orang. Di Kajengan, Todanan; di Karangjati, Blora; di Jepon sendiri; juga di Cepu. Dalam pementasan, perlengkapan pakaian milik kelompok Karya Budaya sering dipinjam sama kelompok lainnya.
"Setahu saya yang ada itu. Saya sudah tidak mendengar lagi mereka ada pementasan. Jadi seni wayang orang ini (di Blora) memang sudah mati sama sekali," kata Margono yang kerap didapuk jadi Kresna dalam pementasan.
Untuk menghidupkan seni ini tak mudah lagi. Selain anak-anak sekarang hampir tak mengenal lagi adanya seni wayang orang, ongkos yang dikeluarkan untuk latihan juga tak sedikit. Selain itu pemain-pemain wayang orang yang sudah tua-tua sudah hampir habis. Margono menghitung tinggal 15 orang tersisa. Itupun sebagian sudah berusia lanjut, seperti Soewito.
"Bisa sebenarnya (dihidupkan lagi). Tinggal regenerasi saja dan ada yang mensponsori. Saya berharap pemerintah mau mensponsorinya untuk menghidupkan seni wayang orang ini," harap Margono.
Harapan Margono ini setali tiga uang dengan Soewito.
"Sayang sekali jika seni ini tak dilestarikan. Harapan satu-satunya ada di pemerintah (Kabupaten Blora)," harap Soewito.
Harapan mereka sesungguhnya wajar. Seni wayang orang merupakan salah satu kekayaan budaya yang perlu dikenalkan kembali ke generasi terkini. Jika seni barongan bisa menjadi anak emas dan populer di anak-anak, mengapa membiarkan seni wayang orang menjadi anak yang hilang yang tak dikenal lagi oleh anak-anak? (*)
Gatot Aribowo