Rabu, 18 Januari 2017, 17:42 WIB

Telah Dikenal, Sandal Organik Butuh Perlindungan Paten

Instagram @SandalOrganik Model-model sandal organik yang beralas dari serpihan-serpihan kayu.

BLORA (wartablora.com)—Ahmad Idris Setyawan, guru pembimbing Anggi Sabrina Putri dan Intan Aprilisa yang memenangkan Toyota Eco Youth berharap pemerintah dapat melindungi nama sandal organik agar tak diambil orang untuk memproduksi sandal sejenis. Meski demikian, Idris tak melarang jika ada pengrajin sandal yang mengambil teknik pembuatan sandal dengan menggunakan alas serpihan kayu.

"Tujuan kami ikut dalam lomba beberapa waktu lalu salah satunya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menggunakan ide-ide kami dalam produksi sandal. Namun kami tak ingin ada orang yang memproduksi sandal lalu menggunakan merk sandal organik," ungkapnya kepada wartablora.com, Selasa (17/1/2017).

Idris sebenarnya telah berpikir untuk mematenkan karya sandal organik dengan hak kekayaan intelektual. Namun atas saran seniornya, ia tak jadi mematenkan nama sandal organik.

"Atas saran guru yang lain, saya tak ingin mempersulit diri," katanya sambil menambahkan jika dirinya juga buta dalam pengurusan hak kekayaan intelektual.

Idris mengaku pernah punya pengalaman buruk saat melakukan riset dalam membuat alas sandal dari serpihan kayu. Pengalaman buruk itu yang membuatnya lebih berhati-hati.

"Ada pengalaman buruk sih, saat uji coba ide tersebut mau diambil sama orang lain hanya untuk berpikir demi uang," ujar Idris.

Meski demikian Idris menyadari jika sandal organik telah memberikan keutungan ekonomi selain telah memenangkan lomba Toyota Eco Youth. Namun dirinya bersama Anggi Sabrina Putri dan Intan Aprilisa belum berpikir jauh untuk menjadikannya sebagai kewirausahaan.

"Kami berpikir untuk kemitraan dalam skala home industry. Kami yang mengurusi penjualannya, sementara produksi kami berikan ke mitra dengan quality control dari kami," kata Idris.

Saat ini pihaknya telah bekerja sama dengan salah satu mitra dari Cepu yang memfinishing sandal. Sementara desain model masih Idris kerjakan sendiri bersama Anggi dan Intan. Sistem penjualan sandal melalui pesanan, baik melalui media sosial maupun dari layanan messenger di gawai mereka.

"Kami menjualnya dengan harga di bawah Rp50 ribu untuk sandal perempuan, dan di atas Rp50 ribu untuk sandal laki-laki," Intan menambahkan.

Untuk pesanan yang kustomisasi ada tambahan biaya tersendiri.

"Pesanan dari mana-mana. Banyak juga yang dari luar Blora," sambung Anggi. (*)



Jumat, 11 Agustus 2017

Selama 2 hari Bank Jateng Cabang Blora menggelar pelatihan manajerial. Peserta datang dari pelaku usaha di berbagai bidang. Apa saja yang diajarkan?


Selasa, 30 Januari 2018

Minggu, 29 Mei 2011

Awal kenekatan yang bermodal Rp 1 juta, kini omzet tahunan bisa mencapai Rp 1 miliar dengan keuntungan bersih sedikitnya 20 persen.


Juni 2017

Gencarnya polisi merazia pemakai kendaraan baiknya disikapi lebih arif dari warga negara. Tak perlu curiga bahwa polisi sedang mencari-cari kesalahan.


Back to Top
copyright © wartablora dotcom 2026
All right reserved