BLORA (wartablora.com)—Ahmad Idris Setyawan, guru pembimbing Anggi Sabrina Putri dan Intan Aprilisa yang memenangkan Toyota Eco Youth berharap pemerintah dapat melindungi nama sandal organik agar tak diambil orang untuk memproduksi sandal sejenis. Meski demikian, Idris tak melarang jika ada pengrajin sandal yang mengambil teknik pembuatan sandal dengan menggunakan alas serpihan kayu.
"Tujuan kami ikut dalam lomba beberapa waktu lalu salah satunya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menggunakan ide-ide kami dalam produksi sandal. Namun kami tak ingin ada orang yang memproduksi sandal lalu menggunakan merk sandal organik," ungkapnya kepada wartablora.com, Selasa (17/1/2017).
Idris sebenarnya telah berpikir untuk mematenkan karya sandal organik dengan hak kekayaan intelektual. Namun atas saran seniornya, ia tak jadi mematenkan nama sandal organik.
"Atas saran guru yang lain, saya tak ingin mempersulit diri," katanya sambil menambahkan jika dirinya juga buta dalam pengurusan hak kekayaan intelektual.
Idris mengaku pernah punya pengalaman buruk saat melakukan riset dalam membuat alas sandal dari serpihan kayu. Pengalaman buruk itu yang membuatnya lebih berhati-hati.
"Ada pengalaman buruk sih, saat uji coba ide tersebut mau diambil sama orang lain hanya untuk berpikir demi uang," ujar Idris.
Meski demikian Idris menyadari jika sandal organik telah memberikan keutungan ekonomi selain telah memenangkan lomba Toyota Eco Youth. Namun dirinya bersama Anggi Sabrina Putri dan Intan Aprilisa belum berpikir jauh untuk menjadikannya sebagai kewirausahaan.
"Kami berpikir untuk kemitraan dalam skala home industry. Kami yang mengurusi penjualannya, sementara produksi kami berikan ke mitra dengan quality control dari kami," kata Idris.
Saat ini pihaknya telah bekerja sama dengan salah satu mitra dari Cepu yang memfinishing sandal. Sementara desain model masih Idris kerjakan sendiri bersama Anggi dan Intan. Sistem penjualan sandal melalui pesanan, baik melalui media sosial maupun dari layanan messenger di gawai mereka.
"Kami menjualnya dengan harga di bawah Rp50 ribu untuk sandal perempuan, dan di atas Rp50 ribu untuk sandal laki-laki," Intan menambahkan.
Untuk pesanan yang kustomisasi ada tambahan biaya tersendiri.
"Pesanan dari mana-mana. Banyak juga yang dari luar Blora," sambung Anggi. (*)
Instagram @SandalOrganik