Sandal organik yang memenangkan Toyota Eco Youth bisa laku keras. Sempat hendak direbut pemangsa pasar, akankah tim sang juara hanya sekedar terkotak dalam alam pikir orang kantoran?
Laporan : Gatot Aribowo
APA asosiasi yang akan dipikir orang ketika menyebut kata organik? Alami sudah pasti. Melekat pada bahan-bahan pangan atau produksi pangan adalah asosiasi yang sering dipikir orang saat terlintas kata organik. Dua bocah pemenang Toyota Eco Youth, yakni Anggi Sabrina Putri dan Intan Aprilisa mencoba bermain asosiasi organik untuk sebuah sandal saat hendak membuat proposal lomba tahunan yang diadakan Astra di tahun lalu.
Di bulan April 2016, dua bocah ini dibiarkan diskusi berdua. Sementara Ahmad Idris Setyawan, guru pembimbing mereka yang sempat turut dalam diskusi-diskusi sebelumnya memilih sibuk terlebih dulu dengan proposal lain. "Kami lupa siapa di antara kami berdua yang mencetuskan kata organik dalam proposal sandal itu. Yang jelas kami ingin membuat orang penasaran," kata Anggi, Selasa sore (17/1/2017) di rumah Idris di Karangjati, Blora.
Proposal harus berjudul menarik jika tak ingin dibuang ke tempat sampah oleh juri. Judul adalah sebuah brand yang membungkus isi dari proposal. Dibantu Idris, dua bocah asal Randublatung itu menyusun judul yang kelak memang membuat orang penasaran. Judul Sandal Organik dengan Alas dari Limbah Serpihan Kayu dalam proposal yang mereka kirim 2 bulan sebelum pengumuman finalis, mampu membuat penasaran juri di ajang lomba tahunan Toyota Eco Youth.
"Pertanyaan pertama yang dilontarkan juri, juga banyak orang adalah mengapa organik," kata Anggi.
Dalam ilmu marketing modern, brand menjadi salah satu bagian terpenting dalam pemasaran sebuah produk. Brand akan membentuk asosiasi dalam alam pikir pemakainya. Sandal organik sebelum membentuk sebuah persepsi yang lain-lain di pemakainya, di awal akan dipersepsikan sebagai produk olahan yang bebas dari bahan kimiawi. Padahal produk sandal tak akan lepas dari bahan kimia.
"Lem adalah produk kimiawi. Untuk merekatkan serpihan-serpihan kayu itu kami butuh lem. Meski begitu, dalam perjalanan eksperimen, kami menemukan lem Latex yang yang kandungan kimiawinya rendah," kata Anggi.
Lem latex berasal dari getah karet yang diproses. Pohon karet jika dikelupas kulit pohonnya, akan mengeluarkan getah kental yang akan membeku jika terkena udara bebas. Getah ini disebut dengan latex. Lem yang digunakan eksperimen Anggi, Intan, dan Idris berasal dari sini.
"Ada proses panjang dalam riset sebelum kami menemukan formula untuk membuat serbuk-serbuk kayu itu menjadi rekatan-rekatan membentuk alas sandal. Kami gunakan berbagai lem, sampai akhirnya menemukan latex ini. Itupun masih perlu perbandingan-perbandingan," ungkap Idris.
Riset dan percobaan dilakoni mereka bertiga sepanjang Agustus 2016, satu bulan usai diumumkan masuk 25 finalis yang 4 bulan kemudian harus mempresentasikan hasilnya di hadapan dewan juri. Dana Rp15 juta yang digelontorkan Toyota Astra untuk para finalis, sepertiga lebih mereka gunakan untuk riset dan percobaan. Lem latex satu galon dengan berat isi 5 kilogram ludes untuk bahan percobaan.
Tempat percobaan di rumah Idris yang tak jauh dari Waduk Rawa Karangjati. Alat-alat didatangkan, dapat pinjaman dari mitra pemerintah sebelum akhirnya memutuskan untuk beli alat sendiri. Itupun masih belum cukup. Mencari mitra lain yang nyaman diajak kerja sama mewujudkan sandal organik untuk menjadi sebuah produk sandal perlu dilakukan. Belum menjadi sebuah sandal jika baru alasnya saja. Perlu proses finishing untuk menjadi produk sandal.
Tak terhitung berapa kali percobaan. Dari riset perbandingan, ketemulah rasio 1:1,2. Satu gram serpihan kayu membutuhkan 1,2 gram lem latex. Jika lebih akan mudah lentur, jika kurang rekatan akan mudah terkelupas.
Dengan komposisi yang pas ini, asosiasi brand akan meningkat. Sandal organik yang mulanya dipersepsikan bebas kimia beralih ke persepsi kuat dan awet. Nilai tambah sebuah produk jadi diberikan kepada pemakainya. Tapi ini juga masih perlu waktu.
"(Sandal) ini saya pakai sudah 2 bulan ini tak jauh-jauh dari air. Tiap wudhu saya pakai, dan tak masalah," promo Anggi.
Waktu 2 bulan tentu belum cukup untuk membentuk brand image dari sandal yang awet dan tahan lama. Masih butuh waktu untuk membuat pengalaman bermerk dari pemakai dalam menggunakan sandal itu.
Alas sandal itu di bawahnya masih ada lapisan lagi. Idris memberi lapisan karet sebelum dikirim ke mitra untuk proses produksi berikutnya. Kebetulan, D and D Collection di Cepu yang jadi mitra mereka punya kemampuan di finishing sandal.
"Kami sudah punya 6 model untuk sandal perempuan. Untuk yang laki-laki lebih sedikit sih," kata Anggi.
Dengan memiliki model yang bervariasi, asosiasi brand kembali dinaikkan, dari tak sekedar awet tapi juga modis. Asosiasi ini nantinya bisa ditambah lagi dengan menguatkan persepsi organiknya. Kata organik yang disematkan dalam produk tersebut akan menjadi asosiasi sebuah gaya hidup pemakai produk sandalnya. Kembali ke alam, adalah contoh komunikasi massal untuk menguatkan persepsi organik. Tapi ini dibutuhkan ketika sudah masuk dalam industri yang tak sekedar skala rumahan. Sebab untuk menguatkan persepsi branding organik yang sejak awal ditanamkan butuh biaya iklan yang tak sedikit.
Padahal, "Sementara kita masih berpikir untuk home industry dulu," kata Idris. (*)
Gatot Aribowo