Selama 2 hari Bank Jateng Cabang Blora menggelar pelatihan manajerial. Peserta datang dari pelaku usaha di berbagai bidang. Apa saja yang diajarkan?
Oleh : Gatot Aribowo
APA yang akan anda lakukan sebagai pelaku usaha jika dihadapkan pada persoalan pesanan bahan baku produksi yang tidak sesuai dengan kualitas yang diharapkan? Mengembalikannya dan meminta ganti rugi sementara anda harus segera memproduksi barang jadi? Ataukah menunda pengembalian dan ganti rugi dengan segera mencari supplier lain bahan baku untuk segera diproses produksi?
Simulasi pertanyaan tersebut mencuat dalam pelatihan yang digelar Bank Jateng Cabang Blora untuk sedikitnya 14 pelaku usaha mikro dan kecil menengah yang ada di Kabupaten Blora. Pelatihan digelar dua hari, Kamis (10/8/2017) dan Jumat (11/8/2017). Diikuti dari pelaku usaha dari berbagai bidang. Ada yang dari pelaku usaha warung makan, percetakan, permak celana, olahan pangan, peternak kambing, pertanian, juga jasa hiburan anak angkutan odong-odong.
Pelatihan ini kerja sama dengan Akumandiri, asosiasi UMKM yang ada di Kabupaten Blora. Rencananya ada setidaknya 135 pelaku usaha UMKM yang ada dalam asosiasi tersebut yang akan dilatih kemampuan manajerialnya oleh Bank Jateng Cabang Blora. Pelatihan ini akan terbagi dalam 9 kelas yang digelar selama 6 bulan ke depan, dengan setiap kelasnya berlangsung selama 2 hari. Setiap kelasnya diikuti 15 pelaku usaha dari berbagai klaster usaha.
"Pelatihan ini adalah kelas yang pertama," kata Kepala Marketing Bank Jateng Cabang Blora Arie Wijayanti.
Pelatihan ini merupakan peran serta dari Bank Jateng untuk memberdayakan UMKM yang ada di Kabupaten Blora.
Pelatihan ini diampu Fima Martanita, Pemasaran Bank Jateng Cabang Purwodadi. Sebelum memulai kelasnya, Fima mempersilakan peserta memperkenalkan diri.
"Dengan saling mengenal satu sama lain, masing-masing peserta dapat memperluas jaringan pemasarannya. Semakin banyak kenalan, semakin terbuka ases pemasarannya," kata Fima.
Selain dapat memperluas jaringan pemasaran, peserta juga diajari untuk memproses pengambilan keputusan di bidang usahanya.
"Setiap keputusan yang diambil akan memiliki konsekuensi. Misalkan dalam simulasi kami memberikan contoh persoalan pesanan bahan baku produksi yang tidak sesuai dengan kualitas yang diharapkan. Masing-masing pilihan akan memberikan konsekuensi pendapatan yang dihasilkan," jelas Fima saat diwawancara di sela pelatihan.
Setelah mendapat pelatihan pengambilan keputusan ini, peserta diharapkan dapat menyesuaikan dalam bidang usahanya masing-masing.
Dalam pelatihan ini peserta juga diajarkan dalam pengelolaan keuangan. Jasman, salah seorang peserta yang berasal dari Desa Jiworejo, Kecamatan Jiken mengaku mendapat manfaat yang besar dalam mengikuti pelatihan ini.
"Saya sadar selama ini saya tidak mengelola keuangan di usaha saya dengan baik," katanya di sela mengikuti pelatihan.
Jasman adalah pelaku usaha di bidang percetakan. Sepanjang menjalankan usahanya, Jasman mengaku mencampur-adukkan antara keuangan keluarga dengan keuangan usahanya. Padahal tidak demikian mestinya.
Bahkan di pelatihan ini peserta diajarkan untuk tidak mencampurkan modal usaha yang diambil dari kas dengan yang diambil dari kredit perbankan.
"Harus dipisahkan antara uang dari kas dengan uang dari kredit," kata Fima.
Dengan memisahkannya, pelaku usaha diajarkan untuk dapat mengontrol keuangan dari bidang usaha yang digeluti. (*)
Gatot Aribowo