Selasa, 13 September 2016, 16:38 WIB

Pemerkosaan Anak di Bawah Umur

Polisi Terus Kejar Pelaku

Dok. wartablora.com AKP Sudarno, Kapolsek Kota Blora.

BLORA (wartablora.com)—Polisi terus memburu 3 pelaku pemerkosaan anak di bawah umur yang terjadi Kamis siang, minggu lalu (8/9/2016). Polisi menghimbau pelaku yang telah melarikan diri untuk menyerahkan diri.

"Sebaiknya menyerahkan diri agar dapat keringanan hukuman nantinya di pengadilan," himbau Ipda Isnaeni, Kanit Reskrim Polsek Kota Blora, mewakili Kapolsek Kota Blora AKP Sudarno, Selasa siang (13/9/2016).

Ipda Isnaeni mengungkapkan jika 3 pelaku pemerkosaan tersebut telah lari ke luar kota.

"Tidak ada di rumah. Informasinya ke luar kota. Tapi kita telah mengawasi rumah mereka jika sewaktu-waktu mereka pulang akan kita tangkap. Tapi sekali lagi sebaiknya segera pulang dan menyerahkan diri, daripada nanti kita DPO," tegas Kanit.

Sementara itu, korban pemerkosaan, sebut saja Bunga, namanya, Selasa pagi ketika disambangi wartablora.com telah terlihat normal. Sebelumnya, diungkapkan ibunya, Bunga sempat mengalami trauma. Bunga terlihat telah ceria bermain dengan adik sepupunya.

Selasa siang Bunga pulang lebih awal.

"Saya mintakan ijin ke sekolah agar bisa pulang lebih awal," kata ibunya Bunga.

Bunga juga sempat bercerita kejadian siang itu yang masih menghantui dirinya.

"Siang itu saya hendak main ke rumahnya Arif," kisah Bunga.

Arif adalah mantan pacar Bunga. Ibunya Bunga mengakui jika dirinya kurang memperhatikan anaknya itu sehingga Bunga yang belum genap usia 12 tahun itu telah berani berpacaran.

"Sejak umur 18 bulan sudah saya tinggal merantau ke Sumatera," cerita Ibu Bunga.

Bunga pun diasuh nenek dan kakeknya. Sementara ayahnya juga turut merantau.

"Saya kembali setelah dia umur 3 tahunan. Lalu saat dia menginjak TK, saya minta cerai," ibunya Bunga bercerita.

Bukan tanpa alasan ibunya Bunga minta cerai.

"Dia sering main tangan kalau lagi marah," ungkap ibunya Bunga.

Ayahnya Bunga lalu menghilang tanpa jejak, tanpa memberikan uang penghidupan buat mantan istrinya atau anak perempuan satu-satunya itu. Jadilah ibunya Bunga kerja keras membanting tulang untuk menghidupi anak satu-satunya itu.

"Mas bisa bayangkan bagaimana saya akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari uang. Saya akui, saya memang kurang memberikan perhatian ke anak," pengakuan ibunya Bunga.

Kurangnya perhatian sejak usia dini karena orang tua merantau akibat terhimpit ekonominya, membuat Bunga tumbuh liar. Bunga pun sering membantah perkataan ibunya.

"Saya cari uang juga untuk dia. Untuk sekolah, untuk les, untuk ini untuk itu. Semuanya saya penuhi. Tapi mungkin salah saya juga karena saking jengkelnya dia pernah menyakiti saya dengan menyebut saya bukan ibunya waktu lebaran lalu, saya keluar kata-kata (doa) tidak baik," pengakuan ibunya Bunga.

Saat lebaran itu Bunga tidak pulang.

"Saya menginap di rumahnya Arif," pengakuan Bunga.

Arif itulah yang siang celaka itu, yang hendak dituju rumahnya oleh Bunga. Celakanya, Arif tidak ada di rumah. Justru adanya Gombloh bersama teman-teman berandalannya. Sebelumnya Bunga telah sempat mengenal Gombloh, seorang residivis yang cukup dikenal di daerah Merah, Medang.

"Saya tanya apakah dia (Gombloh) mau pulang, kalau mau pulang saya menumpang," cerita Bunga.

Gombloh memang akhirnya mengantar Bunga, tapi tidak pulang.

"Saya ditawari minum dan malah diajak ke daerah Ngadipurwo ke utara sana," kenang Bunga.

Walaupun dua hari sebelumnya Bunga pernah sempat masuk cafe karaoke yang ada di sekitar Medang, Bunga tak meladeni ajakan minum minuman beralkohol itu.

Sempat melawan saat diperkosa 3 pemuda berandalan dan seorang Gombloh yang telah beristri itu, Bunga akhirnya tak berdaya.

"Walaupun sedih tapi kami masih bersyukur, cucu kami bisa kembali dengan selamat," ungkapan Kakeknya Bunga yang turut menemani Bunga berkisah tentang kejadian itu ke wartablora.com.

Bunga memang sempat hendak dibunuh oleh salah satu pelaku pemerkosaan.

"Itu cerita dia ke polisi. Sangat jelas sekali dia cerita kalau ada yang mengambil batu besar dan mau melemparkannya ke anak saya, tapi dicegah salah satu dari mereka," ibunya Bunga menambahi cerita.

Setelah kejadian ini, ibunya Bunga berjanji akan lebih memperhatikan anaknya dan tak membiarkan anaknya pergi sendirian. Demikian juga Bunga saat ditanya wartablora.com.

"Saya kapok pergi-pergi sendirian. Saya berjanji akan lebih menurut ke orang tua," janji Bunga. (*)



Jumat, 22 Desember 2017

Anggota Bhabinkamtibmas Polsek Jiken memelopori peternak sapi di desanya untuk mengembangkan alat giling pakan ternak. Sebagai bentuk kepedulian polisi terhadap masyarakat yang dibinanya.


Rabu, 03 Mei 2017

Sudah sering donor darah, tapi masih takut lihat jarum suntik dan darahnya sendiri. Selalu berdebar saat jarum hendak menusuk lengannya.


Juni 2017

Gencarnya polisi merazia pemakai kendaraan baiknya disikapi lebih arif dari warga negara. Tak perlu curiga bahwa polisi sedang mencari-cari kesalahan.


Back to Top
copyright © wartablora dotcom 2026
All right reserved