BLORA (wartablora.com)—Gerakan literasi sekolah (GLS) sedang gencar-gencarnya disosialisasikan untuk anak-anak muda pelajar di Kabupaten Blora. Melalui gerakan ini, siswa dapat mengaktivasi dirinya untuk partisipasi dalam pembelajaran. Aktivasi bisa didapat dari buku, sumber informasi digital, dan perpustakaan sekolah.
Demikian kesimpulan dari sosialisasi GLS di SMA Negeri 1 Blora yang digelar Selasa, 29 Agustus 2017.
"Pengaruh positif GLS paling utama adalah terletak dalam azas partisipatif siswa. Di mana pembelajaran tidaklah dipusatkan ke guru semata, namun juga mengoptimalkan potensi literasi siswa dalam pembelajaran (active learning) melalui buku, sumber informasi (digital), dan perpustakaan sekolah," papar Sulistiyono, tim GLS dari SMAN 1 Blora.
Paparan Sulistiyono ini disampaikan di hadapan 51 orang—termasuk pelajar SMA Negeri 1 Blora—penggiat literasi yang ada di Kabupaten Blora. Mereka antara lain 5 orang koordinator GLS dari 5 sekolah imbas, 8 guru pendamping GLS SMA Negeri 1 Blora, 2 pustakawan SMA Negeri 1 Blora, dan 32 peserta didik SMA Negeri 1 Blora yang merupakan perwakilan dari masing-masing kelas. Lima sekolah imbas—yakni sekolah yang bertetanggaan—tersebut antara lain: SMA Negeri 1 Tunjungan, SMA Negeri 1 Jepon, SMA Negeri 2 Blora, SMA Muhamadyah, dan SMA Katolik Blora.
Sosialisasi juga dihadiri 9 orang tim pengajar dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Blora.
"Melalui aktualisasi GLS sebenarnya sangat banyak perkembangan yang dirasakan, khususnya bagi pengajar dalam pelaksanaan tugas," imbuh Sulistiyono.
Sementara itu Kepala bidang Perpustakaan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Blora, Slamet Widodo yang pertama kali diberikan kesempatan menyampaikan sosialisasi mengatakan, GLS sangat penting untuk dilakukan di era digital sekarang ini.
"Khususnya dalam meningkatkan mutu pendidikan dan menghadapi globalisasi teknologi informasi," katanya.
Menurutnya, GLS haruslah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran warganya secara literat yang sepanjang hayat melalui perlibatan publik.
Literasi sendiri, menurut Mokhammad Farid Rohmawantika—Pustakawan Muda di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Blora, adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas.
"Aktivitas ini antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan atau juga berbicara. Keberadaannya sebagai wujud edukasi dan pemberdayaan budi pekerti yang mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber informasi pengetahuan, baik dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori," jelasnya.
Penunjukkan SMA Negeri 1 Blora, kata Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Blora Slamet Joko Waluyo, oleh Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dikarenakan SMA Negeri 1 Blora telah menjadi sekolah rujukan di Kabupaten Blora untuk gerakan literasi sekolan.
"Selain itu SMAN 1 Blora juga dianggap sudah memenuhi 8 Standar Nasional Pendidikan, serta telah mampu menjadi salah satu rujukan di Blora dalam pelaksanaan gerakan literasi sekolah," katanya dalam rilis yang dikirimkan pada Rabu siang. (*)
Editor : Gatot Aribowo
Humas SMAN 1 Blora
