Mengalami pemugaran hingga 2 kali, rumah masa kecil Pram jadi tempat tinggal adik-adiknya Pram. Dari Kun Maryatun, Prawito, hingga terakhir ditinggali Soesilo bersama anak istrinya.
Oleh : Gatot Aribowo
BANGUNAN rumah seluas tak kurang 300 meter persegi itu berdiri di areal seluas lebih 3.500 meter persegi. Pintu dan jendela bercat hijau, dengan pinggiran bercat kuning. Di sebelah pintu depan rumah terdapat mural yang melukiskan gambar Pramoedya Ananta Toer dengan graffiti bertuliskan, 'Bacalah, bukan Bakarlah'.
Rumah itu dibangun saat Pram lahir di tahun 1925. Oleh Mastoer, ayah Pramoedya, rumah dibangun bertembok dengan lantai semen. Rumah dipugar 30 tahun kemudian dengan berganti dinding.
"Setelah 30 tahun, bangunan tembok mengalami retak-retak. Lalu kami berinisiatif untuk memugarnya dengan mengganti dinding kayu," cerita Soesilo Toer, adik Pramoedya.
Pemugaran di 1955 itu saat Pram dan adik-adiknya telah jadi yatim piatu. Kala itu mereka dapat warisan uang pensiun selama 5 tahun sejak meninggalnya Mastoer di tahun 1950. Warisan uang pensiun cukup besar waktu itu. Ada 5 adik-adik Pram yang dihitung belum berumur, yang mendapat tanggungan dari uang pensiun Mastoer sebagai guru.
Saat dipugar itu, yang menempati adalah Umi Safaatun dan Kun Maryatun, adik-adik Pram yang perempuan. Kun yang telah menjanda kembali ke rumah di pertengahan dekade 1950-an, beberapa waktu setelah suaminya meninggal.
"Jadi setelah meninggalnya Bapak di tahun 1950-an, saya disuruh Pram untuk menyusul ke Jakarta. Pram juga meminta Koesaisah dan Koesalah untuk menemani saya menyusul ke Jakarta. Bertiga kami ke Jakarta, dan di rumah tinggal Umi dan Kun," kata Soesilo.
Umi tinggal di rumah tersebut bersama suaminya, sebelum 1962 memutuskan pindah. Praktis hanya Kun yang menempati rumah tersebut.
"Rumah ini," ujar Soesilo pada suatu siang di hari ulang tahun Pram ke-92, "dulu memang terkenal angker. Bahkan di siang hari juga terdengar bunyi yang aneh-aneh. Tapi Mbak Kun tampaknya sudah terbiasa menghadapinya."
Selama 16 tahun Kun menempati rumah tersebut sendirian, sejak saudara perempuannya, Umi Safaatun memutuskan pindah di tahun 1962. Di awal-awal tahun 1978, Prawito pulang ke Blora setelah bebas dari pembuangannya di Pulau Buru. Prawito dibuang ke Pulau Buru oleh Pemerintahan Presiden Suharto di tahun 1968. Sebelumnya Pram telah dibuang ke pulau tersebut.
"Di keluarga kami ada 4 yang ditahan. Pram, Prawito, saya, dan Koesalah. Saya dan Koesalah beruntung tidak ditahan di Pulau Buru. Kami hanya di tahan di Jakarta," kenang Soesilo.
Mereka ber-empat oleh militer Indonesia dikait-kaitkan dengan PKI.
"Padahal," tegas Soesilo, "tidak ada satupun dari kami yang terlibat dalam partai tersebut. Prawito hanya kebetulan bekerja di Kedutaan Uni Soviet, Pram kebetulan ditokohkan dalam Lekra, Koesalah hanya kebetulan main ke rumah temannya yang disangkutkan dengan PKI. Sementara saya sendiri sepulang dari Rusia di 1973, kebetulan berkuliah di Moskow."
Bebas dari Pulau Buru, Prawito lantas memutuskan untuk menetap di Blora, menempati rumah warisan bersama adiknya, Kun Maryatun yang telah menempati rumah tersebut sebelumnya. Dia lantas buka praktek pengobatan alternatif. Cukup laris, sebelum akhirnya ditangkap militer tanpa alasan jelas.
"Prawito lalu dibawa ke Jakarta. Tapi tak lama kemudian dibebaskan. Prawito lalu tinggal bersama saya di rumah Pram. Saya sendiri dibebaskan di Oktober 1978. Karena rumah terasa sesak, saya putuskan pulang ke Blora. Tapi itu juga tidak lama. Diputuskan bersama untuk Prawito yang pulang ke Blora, dan saya kembali ke Jakarta," cerita Soesilo.
Kembali ke Blora, Prawito lalu menemani Kun menempati rumah warisan. Di tahun 1987 Kun Maryatun meninggal, dan tinggal Prawito yang menempati rumah tersebut.
"Lalu di tahun 2004 saya memutuskan pulang ke Blora setelah rumah saya di Bekasi kena penggusuran," kata Soesilo.
Tinggal bersama dengan kakaknya, Prawito, Soesilo memutuskan untuk melakukan perbaikan rumah di tahun kepulangannya ke Blora. Atap diganti, dan lantai dikeramik. Di tahun sebelumnya, atas biaya dari Pram, dapur dipugar dan dijadikan ruang yang hingga sekarang menjadi tempat menerima tamu, sekaligus ruang perpustakaan Pataba.
Apa itu Pataba, simak tulisan berseri ini di bagian akhir. (bersambung)
Gatot Aribowo/wartablora.com