Komunitas Keselamatan Sekolah binaan Astra telah merambah di lebih 40 sekolah di Jawa Tengah. Terinspirasi seorang guru SMK di Cepu, komunitas berkembang untuk turut menekan angka kecelakaan lalu lintas di Provinsi Jawa Tengah yang didominasi pelajar.
Oleh : Gatot Aribowo
SENYUM Achmad Fatoni, guru SMK Muhammadiyah 2 Cepu itu mengembang lebar saat berjabat tangan dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ia baru saja menerima penghargaan sebagai pelopor keselamatan berkendara di Jawa Tengah, Sabtu (26/11/2016) pekan lalu. Penghargaan yang diberikan dalam rangka peringatan Hari Guru Nasional 25 November itu bersamaan dengan penandatanganan nota kesepakatan kerja Astra Motor Jateng dan PT Astra Honda Motor (AHM) dengan Dinas Pendidikan Pemprov Jawa Tengah dan 20 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Binaan Honda di Provinsi Jawa Tengah.
Fatoni—sapaan guru lulusan Sekolah Tinggi Teknik Ronggolawe (STTR) Cepu ini—tak menyangka dirinya akan diundang Astra untuk menerima penghargaan tersebut. Ia merasa apa yang telah dikerjakan dalam setahun terakhir masih belum seberapa. Namun bagi Suko Edi, Instruktur Safety Riding di Main Dealer Honda Jawa Tengah, apa yang telah dikerjakan Fatoni merupakan sumbangan ide terbesar untuk Jawa Tengah, bahkan mungkin Indonesia.
"Terus terang kami mengadopsi ide dan konsep dari beliau, kami bawa ke Semarang, lalu kami sebarkan ke 41 sekolah menengah kejuruan yang menjadi binaan kami," daku Suko Edi yang dihubungi wartablora.com via telepon, Selasa malam (29/11/2016).
Astra, kata Suko Edi, menyebutnya dengan Komunitas Keselamatan Sekolah. Sementara Fatoni menyebutnya dengan Komunitas Safety Riding. Komunitas diorganisir di sekolah. Ada pengurusnya. Mereka yang jadi pengurus adalah siswa yang telah duduk di kelas 2.
"Setiap tahun ada rotasi atau pergantian pengurus. Pengurus yang telah naik ke kelas 3 akan melepas kepengurusannya, untuk fokus di ujian kelulusan sekolah. Sementara adik kelas mereka yang naik ke kelas dua akan menggantikan kepengurusan," tutur Fatoni saat ditemui wartablora.com, Selasa siang (29/11/2016), di sela-sela kesibukannya mempersiapkan pelatihan hidroponik di tempat tinggalnya.
Mereka yang duduk di kepengurusan adalah yang terpilih dengan kemampuan untuk jadi instruktur dalam memberikan kegiatan ekstra kurikuler. Pengurus juga bertanggung jawab untuk memberikan pengetahuan keselamatan berkendara buat siswa baru. Biasanya akan dirangkaikan dengan kegiatan masa orientasi siswa baru.
"Kami juga mengagendakan setiap meeting kelas tahunan ada lomba safety riding. Fokus kami di komunitas adalah memberikan reward, dan tidak memberikan punishment," tandas Fatoni.
Hasil dari komunitas ini adalah anak-anak yang akan menjadi pelopor keselamatan berkendara di lingkungan masing-masing. Mereka tak hanya memberikan contoh, namun berani juga menegur orang dewasa yang tidak tertib dalam keselamatan berkendara.
Suko Edi mengatakan, keberadaan komunitas ini sangat membantu Astra dan pihak kepolisian dalam mengkampanyekan keselamatan berkendara.
"Sumber daya manusia di kami (Astra) dan di kepolisian tidak akan cukup untuk mengkampanyekan keselamatan berkendara. Dengan keberadaan komunitas ini, yang setiap tahun ada transfer ilmu keselamatan berkendara dari kakak kelas ke adik kelas, akan terjadi kampanye yang begitu masif. Akhirnya angka kecelakaan lalu lintas yang khususnya melibatkan pelajar akan mengalami penurunan," jelas Suko Edi.
Di jawa Tengah, seperti disebutkan Kasubdit Pendidikan dan Rekayasa (Dikyasa) Ditlantas Polda Jateng AKBP Indra Kurniawan Mangunsong melalui Radar Solo Jawa Pos, angka kecelakaan lalu lintas didominasi oleh pelajar.
”Di wilayah kita (Jateng) ini lebih dari 50 persen korban laka lantas adalah remaja atau pelajar,” katanya, Kamis (28/08/2016) silam.
Sementara di Blora, diungkapkan Kasatlantas Polres Blora AKP Febriyani Aer, 40 persen kecelakaan yang terjadi di Blora hingga akhir September tahun ini melibatkan pelajar.
''Dari analisa yang kami lakukan terhadap kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Blora selama ini, 40 persen diantaranya dialami pelajar," katanya kepada wartawan di Blora, Rabu (26/10/2016) lalu.
Dalam data yang dirilis Satlantas Polres Blora pada awal September lalu, jumlah korban lakalantas di wilayah hukum Polres Blora yang berusia di bawah 15 tahun hingga akhir Agustus tahun ini ada sejumlah 50 anak. Bahkan di awal September lalu, dua orang anak SMP tewas akibat ulah ugal-ugalan yang tidak memperhatikan keselamatan berkendara. Tautannya bisa dibaca di sini.
"Karena itu kami di Komunitas Safety Riding sangat concern untuk mengkampanyekan keselamatan berkendara yang didukung Astra ini ke sekolah-sekolah SMP," ujar Fatoni.
Sejak terbentuk pada Agustus 2015, Komunitas Safety Riding SMK Muhammadiyah 2 Cepu telah mengkampanyekan keselamatan berkendara di 4 SMP yang ada di Kabupaten Blora. Antara lain: SMP Negeri 1 Kedungtuban, SMP Negeri 4 Cepu, SMP Negeri 1 Cepu, dan SMP Muhammadiyah Cepu. Fatoni belum berpikiran untuk mengkampanyekannya di SMA lain.
"Mengapa ke anak-anak SMP? Meskipun secara undang-undang mereka belum diijinkan untuk berkendara roda dua, namun kami ingin memberikan pendidikan keselamatan berkendara sejak usia dini untuk nantinya buat bekal saat mereka menginjak usia SMA. Kami tidak mengajari atau menganjurkan ke mereka untuk mengendarai sepeda motor saat ke sekolah. Tapi kami memberikan pengetahuan tentang keselamatan berkendara," jelasnya.
Pelarangan untuk siswa pembawa kendaraan roda dua ke sekolah memang tidak diterapkan di Kabupaten Blora. Minimnya fasilitas transportasi publik bahkan sangat disadari hakim di Pengadilan Negeri Blora, Ahmad Zulpikar, yang belum lama ini menyidangkan ratusan pelanggaran lalu lintas. Dalam wawancaranya dengan wartablora.com, Kamis (24/11/2016) lalu, Ahmad Zulpikar menemukan adanya pelanggar dari anak-anak sekolah.
"Tadi (sidang tilang) ada juga yang dari anak-anak pelanggarnya. Kita melarang, tapi fasilitas publik untuk angkutan anak-anak berangkat sekolah juga belum ada," kata Ahmad Zulpikar.
Minimnya fasilitas angkutan publik atau angkutan anak-anak sekolah bisa jadi menjadi faktor tingginya angka penjualan sepeda motor baru di Kabupaten Blora. Di Samsat Cepu yang melayani 7 kecamatan di Kabupaten Blora, tiap tahun ada pertumbuhan 10 hingga 15 persen kendaraan roda dua baru yang mengaspal.
"Di Oktober kemarin ada 480 unit kendaraan baru yang tercatat di kami. Tiap tahunnya ada 5 ribu hingga 6 ribu kendaraan baru yang tercatat di Kecamatan Jiken, Sambong, Cepu, Kedungtuban, Menden, Randublatung, dan Jati," ungkap Kurniawan DS, Kasubsi Pajak dan BBNKB Samsat Cepu.
Tingginya pertumbuhan pemilik kendaraan roda dua ini akan ditanggapi Fatoni dengan terus mengkampanyekan secara masif keselamatan berkendara.
"Kami di Komunitas Safety Riding telah mendapat dukungan alat-alat untuk pengajaran keselamatan berkendara dari Astra, dan akan kami gunakan untuk mengajarkannya secara masif," ujarnya.
Komunitas safety riding di SMK Muhammadiyah 2 Cepu sebenarnya telah digagas Fatoni sejak 2012, namun baru 3 tahun setelahnya dapat terealisasi.
"Jauh sebelum itu saya sudah berpikir untuk melawan mitos di sekolah ini," kata Fatoni yang telah mengajar di SMK tersebut sejak 2009.
Mitos itu adalah akan ada tumbal nyawa 1 anak setiap tahunnya untuk anak-anak SMK Muhammadiyah 2 Cepu.
"Dan itu memang terjadi. Di tahun awal saya masuk hingga sebelum terbentuk komunitas ini akan ada kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan satu anak meninggal. Tapi kan saya orang yang tidak percaya mitos. Saya terus berpikir tentang keselamatan berkendara untuk anak-anak," kisahnya mengenang awal-awal digagasnya Komunitas Safety Riding.
Pertemuannya dengan Suko Edi dari Astra di awal 2012 membawa gagasan mengajarkan keselamatan berkendara ke siswa dapat diwujudkan. Kala itu Astra mengadakan sosialisasi product knowledge ke guru-guru yang ada di Jawa Tengah.
"Kebetulan," tutur Suko Edi, "SMK Muhammadiyah 2 Cepu ini ada jurusan Teknik Sepeda Motor. Kami (Astra Honda Motor) juga punya kantor di Cepu. Kami berkirim undangan ke SMK tersebut untuk mengirim gurunya ke Semarang."
Di acara tersebut, Suko Edi mendapat giliran untuk mengisi tentang keselamatan berkendara. Gayung pun bersambut. Fatoni dengan antusias mengajak Suko Edi yang mewakili Astra untuk mewujudkan komunitas yang digagasnya.
"Lalu," tutur Fatoni, "di pertengahan 2012 kami mengundang Astra ke sekolah kami untuk memberi paparan keselamatan berkendara, selain untuk paparan buat sekolah kami agar bisa menjadi binaan Astra."
Namun, gagasan membentuk komunitas ini masih belum difokuskan dalam tahun-tahun berikutnya. SMK Muhammadiyah 2 Cepu dengan Astra akan fokus terlebih dulu untuk mewujudkan sekolah binaan. Selama 2 tahun, di 2013 dan 2014, konsentrasi Fatoni dan Astra terpusat di mewujudkan sekolah binaan.
"Baru setelah (sekolah binaan) selesai di 2014, kami longgar untuk memikirkan komunitas safety riding ini. Terbentuklah di Agustus 2015, pengurusnya yang akan mendapat transfer ilmu keselamatan berkendara dari Astra. Sekolah lantas menyediakan lapangan untuk praktek, dan Astra mengirim peralatan untuk pengajaran," cerita Fatoni.
Astra, kata Fatoni, lalu mengirim instruktur. Fatoni pun turut mendapatkan ilmu-ilmunya.
"Salah satunya kami mendapat 4 T dari Astra saat kendaraan keluar dari lorong atau gang yang hendak masuk ke jalan raya. Yakni tunggu sejenak, tengok kanan, tengok kiri, dan tengok kanan lagi. Tengok kanannya 2 kali," kata Fatoni.
Materi lainnya dari Astra adalah bagaimana postur berkendara dengan benar, juga postur berboncengan.
"Seperti berboncengan perempuan itu harus seperti laki-laki. Tidak boleh duduk dengan postur tubuh ke samping. Harus postur tubuh menghadap ke depan. Kalau postur tubuh menghadap kiri, saat belok kanan akan terjadi ketidakseimbangan dan rawan kecelakaan," kata Fatoni.
PT Astra International Tbk-Honda (Astra Motor), seperti dikutip wartablora.com dari Laporan Berkelanjutan 2015 yang bisa diunduh di sini, telah membangun Pusat Pendidikan Keselamatan Berkendara Roda Dua (Safety Riding Center/SRC) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Program utama SRC adalah memberikan kesadaran dan pelatihan tentang berkendara dengan selamat (Safety Riding). Program ini, seperti disadur wartablora.com dari Laporan Tahunan Astra yang dapat diunduh di sini, sejalan dengan misi Yayasan Astra Honda Motor (YAHM) untuk mengedukasi masyarakat tentang keselamatan di jalan.
Sepanjang tahun 2015 lalu, SRC telah memberikan pelatihan keselamatan berkendara kepada 6.928 orang, dimana 2.018 dari mereka langsung melakukan praktik di SRC.
"Harapan kami dengan banyaknya Komunitas Keselamatan Sekolah," ungkap Suko Edi, "pelatihan keselamatan berkendara dapat disebarkan secara masif." (*)
Reporter: Gatot Aribowo
Istimewa