Pram menjadikan rumah masa kecilnya sebagai rumah singgah. Beberapa bulan sebelum meninggal, ia bersama anak cucunya sempat singgah saat hendak berlibur ke Bali.
Oleh : Gatot Aribowo
SEBENTAR saja Pramoedya Ananta Toer menjalani hidupnya di Blora, sebuah kota kecil tempat ia dilahirkan. Sejak usia belasan tahun ia telah pergi merantau. Soesilo Toer, adiknya yang nomor 6, coba mengingat-ingat sejak kapan kakaknya itu pergi. "Dia sekolah selama 10 tahun, masuk di tahun 1930. Setelah lulus ia pergi merantau ke Surabaya," kata Soesilo Toer, Sabtu (14/1/2017).
Pram lahir 3 tahun setelah ayahnya, Mastoer pindah ke Blora dari Rembang di tahun 1922. Menamatkan sekolah di Instituut Boedi Oetama selama 10 tahun, Pram merantau ke Surabaya pada 1940-1941.
"Saat ibu meninggal, Pram pulang dari Surabaya. Itu di jaman kedatangan Jepang," kata Soesilo.
Tidak terlalu lama setelah ibunya meninggal, Pram pergi merantau ke Jakarta. Prawito Toer, adik Pram yang telah beranjak dewasa diajaknya. Rumah omnya, Mudigdo, menjadi tempat tujuan. Rencana semula Pram hendak disekolahkan di Sekolah Taman Siswa yang jaraknya tak lebih 100 meter dari rumah Omnya. Namun belakangan Pram dipekerjakan di Kantor Berita Antara, tempat Omnya bekerja.
"Sama Adam Malik lalu Pram ditempatkan di perpustakaan, tidak dipekerjakan jadi wartawan," kisah Soesilo.
Saat di perpustakaan itulah Pram banyak membaca buku. "Hampir semua buku yang ada di perpustakaan Antara waktu itu dibacanya," cerita Soesilo.
Setelah dari perpustakaan itulah Pram tumbuh keberanian. Di tahun 1947 Pram berurusan dengan pemerintahan setelah melakukan propaganda dengan menyebar selebaran.
"Pram di tahun 1947 ditahan dan keluar 2 tahun kemudian. Setahun sesudahnya ia pulang sewaktu Bapak meninggal," kenang Soesilo.
Kepulangan Pram di tahun 1950 ke Blora juga tak terlalu lama. Usai pemakaman Mastoer, ayahnya, tak selang berapa lama Pram kembali ke Jakarta. Kali ini ia mengajak 3 adiknya, salah satunya Soesilo untuk menyusul ke Jakarta.
Sesudah tahun-tahun itu Pram juga masih sering bolak-balik Jakarta Blora. Empat bulan sebelum meninggal, Pram sempat singgah ke rumah masa kecilnya sewaktu hendak berlibur ke Bali bersama keluarga besarnya. Itulah persinggahan terakhir Pram di kota tempat ia dilahirkan.
"Kamar ini," kata Soesilo sambil mengajak masuk ke kamar yang jadi satu dengan ruangan yang dijadikan perpustakaan, "dulu ditiduri Pram saat singgah hendak ke Bali. Anak-anak dan cucu-cucunya tidur di ruangan yang sekarang perpustakaan."
Di Desember 2005 saat hendak ke Bali itu sempat terjadi perselisihan antara Pram dan istrinya yang membuat Pram tak ikut liburan ke Bali, dan memilih kembali pulang ke Jakarta. Pram minta Soesilo menemaninya dalam perjalanan menggunakan bis umum.
"Meski sekedar menjadi tempat persinggahan, tapi Pram sebenarnya ingin matinya dikebumikan di Blora," ungkap Soesilo. (bersambung)
Gatot Aribowo