Dua puluh pelaku usaha menengah ke bawah diberi pelatihan pengelolaan usaha di Kantor Bank Jateng Cabang Blora. Pelatihan selama 2 hari tersebut, selain instruktur internal Bank Jateng, juga didatangkan 2 instruktur konsultan dari Saving Bank For International Cooperation (SBFIC) Germany. Seperti apa pelatihannya?
TABUNG plastik berdiameter selebar koin dan setinggi tak lebih 5 sentimeter berjajar di atas meja. Setiap kelompok dibekali beberapa tabung. Ada satu tabung yang telah diisi dengan koin. Satu tabung yang berisi koin itu adalah modal kerja setiap kelompok. Modal terdiri dari uang tunai, pinjaman kredit, dan investasi. Totalnya ada 500cu. Sementara tabung lain nantinya diisi ketika ada pengeluaran.
Cu ini adalah mata uang dalam permainan dagang di pelatihan untuk pelaku usaha yang mendapat kesempatan berlatih di lantai 2 Kantor Bank Jateng Cabang Blora. Dua puluh peserta dari berbagai klaster bidang usaha yang merupakan pelaku usaha mitra Bank Jateng tersebut dibagi 4 kelompok. Setiap kelompok diberi soal dengan bentuk usaha yang sama tapi dengan permasalahan yang berbeda-beda.
Pelatihan yang digelar selama 2 hari, Kamis (19/1/2017) dan Jumat (20/1/2017), dengan banyak sesi tersebut bukan pelatihan dalam bentuk teori, namun dalam bentuk permainan.
"Teknologi (pelatihan) ini sudah terbukti sukses melatih para pelaku usaha, baik yang sudah mulai berusaha maupun yang baru mau mulai," klaim Massa, salah satu tenaga kontrak dari Saving Bank For International Cooperation (SBFIC) Germany.
SBFIC disebutkan Saptono, tenaga kontrak SBFIC yang lain, merupakan bank pembangunan daerahnya Pemerintah Jerman. Di Indonesia, SBFIC berkantor di Bank Jateng kantor pusat di Semarang dan menjadi konsultan untuk Bank Jateng. SBFIC telah melatih sejumlah 15 karyawan Bank Jateng yang tersebar di berbagai wilayah. Salah satu yang dilatih adalah Angga, karyawan Bank Jateng Cabang Blora yang selama 2 hari ini melatih para pelaku usaha tersebut.
Dalam pelatihan tersebut, Angga menjadi mentor utama, didampingi Massa dan Saptono. Pelatihan yang diberikan tersebut selain melatih peserta untuk cerdas mengambil keputusan dalam permasalahan yang dihadapi secara tiba-tiba, juga melatih peserta untuk tak meninggalkan catatan-catatan akuntansi.
"Karena pencatatan itu penting. Selain dapat mengontrol usaha, pencatatan akuntansi menjadi acuan perbankan dalam keputusan memberikan kredit atau tidak," kata Massa.
Pencatatan akuntansi dalam pelatihan ini dilakukan saat memulai usaha, berjalannya usaha, hingga pengembangan usaha. Seperti dalam permainan usaha yang menggunakan mata uang Cu tersebut, peserta diberikan berbagai alternatif pilihan saat mau mengembangkan usaha.
Adalah usaha jus jeruk yang menjadi bahan dalam simulasi di pelatihan tersebut. Dalam permainan tersebut, peserta diberikan beberapa pilihan dalam pengembangan usaha: menambah produk baru berupa jus nanas ataukah membeli rak penyimpanan baru untuk memperluas stok bahan baku. Ada juga pilihan untuk periode berikutnya: apakah membeli alat yang baru ataukah memperbaiki suasana toko.
"Setiap pilihan ada konsekuensinya. Karenanya di sini perserta kita latih untuk cermat berhitung sebelum mengambil sebuah keputusan," jelas Massa.
Pastinya dalam pengambilan keputusan dihitung untung ruginya. Ini terlihat ketika suatu waktu peserta dalam permainan usaha tersebut diberi soal pembelian bahan baku dari pemasok yang ternyata tak sesuai dengan pesanan. Peserta diberi pilihan: komplain lalu mengembalikan pasokan bahan baku dan meminta uang kembali, ataukah membeli bahan baku yang baru dari pemasok lain.
"Pelatihan ini memberikan soal-soal yang riil terjadi. Misalkan dalam perjalanan usaha ada persoalan kecurian bahan baku. Apakah memecat karyawan yang dicurigai, apakah lapor polisi, ataukah segera beli bahan baku? Mana dulu yang skala prioritas, semua ada hitungan untung ruginya," papar Massa.
Walau usaha yang dijadikan simulasi berbeda dengan peserta yang memiliki klaster usaha tak sama, namun pelatihan tersebut diakui salah satu pesertanya dapat memberikan pemahaman untuk bidang usaha yang dia geluti.
"Saya klaster usaha di pertanian. Tapi dari simulasi ini saya dapat mengerti dan memahaminya untuk persoalan-persoalan yang dihadapi dalam bidang pertanian," kata salah seorang peserta yang berasal dari Desa Turirejo, Kecamatan Jepon.
Salah satu pemahaman tersebut adalah jangan mengambil pembiayaan operasional usaha dari uang yang tidak masuk dalam kas usaha. Dengan kata lain, ujar peserta tersebut, jangan ambil uang dari dompet pribadi untuk biaya listrik di toko.
"Harus dibedakan, mana uang pribadi dan mana uang untuk kas usaha," katanya.
Catatan tambahan lain dalam pelatihan tersebut muncul saat pelatihan tiba di sesi pengeluaran rutin bulanan.
"Prioritas pengeluaran untuk bayar gaji karyawan. Jika anda pemilik usaha yang juga bekerja di usaha anda, masukkan dalam hitungan gaji karyawan. Dalam simulasi ini ada 2 karyawan, termasuk pemilik usahanya. Harus masuk hitungan juga," jelas Massa.
Tertarik untuk mengadakan pelatihan dengan konsep permainan ini? (*)