Kendaraan bak terbuka ia sulap jadi warung swike. Bisa dibawa kemana-mana, di tengah hutan pilihannya.
PEMANDANGAN tak biasa akan anda jumpai saat melintas di jalan Raya Blora-Cepu di tengah hutan setelah Cabak. Ada warung swike di pinggir jalan, di tengah hutan dekat dengan pos penjaga hutan, tepatnya di kilometer 20 dari Blora menuju Cepu.
Warung swike itu tidak seperti warung pada umumnya yang menggunakan tenda, ada meja dan kursinya. Warung itu menggunakan kendaraan roda empat. Kendaraan itu sebelumnya bak terbuka. Lalu didesain dengan boks yang dapat di buka di 3 sisinya, samping kanan-kiri dan belakang, dijadikan atap.
Sementara ada meja membujur yang digantungkan di sisi kanan kiri kendaraan. Botol-botol minuman di letakkan di sana. Mulai dari air mineral hingga botolan teh. Bila warung di tutup, meja gantung tinggal dilepas, dan di masukkan ke dalam kendaraan, bercampur dengan semua perlengkapan jualannya.
Adalah Pak Cipto yang dengan ide kreatifnya berjualan di tengah hutan menggunakan kendaraan roda 4. Ide muncul setelah merasa eman dengan kendaraan roda 4 bututnya yang sehari-hari hanya untuk belanja di pasar.
"Punya kendaraan ini sebenarnya sudah lama. Hanya untuk berbelanja di pasar. Selain itu ya hanya teronggok di rumah," katanya di suatu siang di akhir April 2017.
Ia dan istrinya ini spesialis swike. Istrinya berjualan di lokalisasi Kampung Baru di Jepon. Ia hanya membantu-bantu sebelum berpikir untuk membuka "cabang". Sempat terpikir untuk berjualan dengan mencari ruko. Tapi ia berpikir ulang setelah hitung-hitungan dengan biaya sewa yang cukup mahal baginya.
"Sempat sih berpikir sewa di Blok T," katanya dalam bahasa Jawa.
Lalu tiba-tiba saja muncul untuk menggunakan kendaraan bututnya yang bertahun-tahun lalu dibelinya seharga tak lebih Rp15 juta. Lantas ia pun datang ke tukang las, diminta untuk membuat kendaraan bak terbukanya itu jadi bak tertutup yang bisa disulap jadi warung tenda.
"Murah saja sih ongkos ngelas dan membuatnya," katanya.
Seusai urusan membuat warung berjalannya jadi, berlanjut urusan mencari lokasi jualan. Beberapa lokasi sempat terlintas dalam benaknya. Ia pun lantas memilih di tengah hutan. Kebetulan ia kenal dengan salah seorang petugas Perhutani.
"Saya di tawarkan di pos sana itu," katanya sambil menunjuk pos hutan tak jauh dari tempat jualannya.
Tapi kemudian ia minta ijin untuk berjualannya di pinggir jalan. Setelah diijinkan, segeralah ia mempersiapkan segala sesuatnya. Ia siapkan jerigen untuk tempat cuci perabotan makan. Ada 2 jerigen ia bawa. Lalu ada ember-ember cucian, galon untuk memenuhi pesanan minum, kompor, dan segala perlengkapan laiknya warung-warung di pinggir jalan.
Perlengkapan itu ia tumpuk jadi satu dalam bak tertutup itu. Tak lupa 2 kursi panjang ia bawa. Saatnya berjualan.
"Saya buka jam 8, nanti tutup ya jam 5," katanya.
Lumayan juga hasilnya. Dengan menu pilihan tongseng dan swike, dalam sehari ia mampu menjual tak kurang dari 6 kilogram katak yang ia dapat dari para pemburu katak di malam hari. Per kilogram katak ia kulak dengan Rp25 ribu. Sementara jualan tongseng kataknya ia hargai dengan Rp15 ribu per porsi, dan swikenya Rp20 ribu per porsi. (*)
wartablora.com