Rabu, 10 Agustus 2011, 16:34 WIB

Menangguk Untung Dagang Celengan di Trotoar Blora

Gatot Aribowo Celengan-celengan ini diperdagangkan di sepanjang trotoar di salah satu ruas di Jalan Pemuda di Blora.
Oleh : Gatot Aribowo

SUDAH 10 hari ini sepanjang trotoar di Jalan Pemuda Blora, tepatnya di sisi utara deretan kios stasiun bagian barat, dijejali dengan hasil kerajinan tanah. Mulai dari celengan, vas bunga hingga perabotan rumah tangga yang terbuat dari tanah. Celengan pun tak lagi berbentuk hewan celeng (babi hutan) yang awalnya tempat penyimpanan uang tradisional itu disebut.

Celengan yang dijajakan mulai dari hewan piaraan sampai hewan kebun binatang. Ada bebek, ayam, kambing, sapi, kerbau, rusa, harimau, gajah, singa, sampai kura-kura. Ukuran pun bermacam. Dari mungil sampai ukuran seorang bocah 10 tahun.

Untuk ukuran yang terakhir ini, dijamin hasil simpanan uang recehan yang akan diunduh bisa sampai belasan juta. Tak percaya? Sila luangkan waktu untuk membeli celengan ukuran jumbo ini, dan buktikan dengan mengisi recehan sampai penuh.

Dijual antara Rp 75 ribu sampai Rp 80 ribu, Ibu Sina, seorang pedagang dari Mayong yang menggelar lapaknya di ujung paling timur mengatakan, celengan ukuran jumbo ini sudah ada yang laku.

"Tapi yang paling sering laku yang ukuran sedang-sedang," katanya saat dijumpai wartablora.com, Rabu siang, 10 Agustus 2011.

Ukuran sedang ini tingginya sekira 40 sampai 50 cm. Cukup untuk ukuran menyimpan uang selama periode bulanan. Harga pun murah. "Lima belas ribu. Harga pas," sahut ibu tiga anak ini saat ditanya harga celengan yang ukuran sedang.

Sudah sejak dua tahun ini ia menggelar lapak dagangan kerajinan tanah itu di trotoar Blora saat masuk bulan puasa. Ia yang asli Mayong, Jepara datang berdagang ditemani suami dan anak bungsunya.

"Sebagian barang bawa sendiri dari Mayong. Yang celengan-celengan itu kulakan dari Bojonegoro," ujarnya.

Barang kerajinan yang dibawa langsung dari Mayong adalah perabot rumah tangga dari tanah liat. Ada kendil, cangkir tanah, lepek tanah, dan celengan-celengan kecil.

Ia mengaku masih sepi jualan selama 10 hari ini. Tapi ia tetap yakin, hasil yang didapat setidaknya akan seperti tahun sebelumnya.

"Sudah dua tahun ini, setiap mau puasa saya dari Mayong ke Blora ini. Dengan carter truk, suami kulakan kerajinan celengan yang besar-besar ini ke Bojonegoro. Lalu dibawa ke sini. Tahun lalu, selama sebulan saya bisa dapat penghasilan 4 juta," katanya.

Pedagang lain, Anto yang dari Jogja mengatakan, lapak-lapak kerajinan olah tanah ini akan mulai ramai dikunjungi pada pertengahan puasa hingga jelang lebaran.

"Biasa akan ramai nanti pertengahan sampai jelang lebaran," kata pria Jogja yang 5 tahun berturut-turut ini menggelar lapaknya pada bulan puasa di Blora.

Barang kerajinan yang dibawa Anto beragam. Ada vas, celengan, kursi bundar dari tanah, dan macam-macam hasil kerajinan olah tanah. Bahkan ia membawa kendi warna hitam yang sekarang jarang ditemukan.

Sebagai orang yang dibesarkan di kota seni, celengan yang dibawanya pun lain dari yang dikulak Ibu Sina dari Bojonegoro. Corak warnanya sesuai dengan warna asli kulit binatang. Kuning kulit kemerah-merahan. Jika celengan itu sejenis burung atau unggas, tanah pun akan diukir hingga ada yang menyerupai bulu-bulu di bagian leher unggas atau burung. Sementara yang celengan sejenis binatang buas dibuat seseram dengan mulut menganga menyeriangi. Sedang celengan yang sejenis kura-kura, dibuat tegak mendongak dengan mulut terbuka.

"Rp 100 ribu," ujarnya dengan nada cuek saat ditanya harga celengan-celengan yang ia bawa.

Sayangnya, ia enggan mengutarakan hasil yang didapat pada tahun-tahun sebelumnya. (*)



Senin, 24 September 2018

Belasan petani mendatangi DPRD Kabupaten Blora, Senin, 24 September 2018 untuk audiensi. Bertepatan dengan hari tani, mereka menyatakan keinginannya bertani sekaligus bisa mengecerkan pupuk bersubsidi sendiri.


Selasa, 30 Januari 2018

Minggu, 29 Mei 2011

Awal kenekatan yang bermodal Rp 1 juta, kini omzet tahunan bisa mencapai Rp 1 miliar dengan keuntungan bersih sedikitnya 20 persen.


Juni 2017

Gencarnya polisi merazia pemakai kendaraan baiknya disikapi lebih arif dari warga negara. Tak perlu curiga bahwa polisi sedang mencari-cari kesalahan.


Back to Top
copyright © wartablora dotcom 2026
All right reserved