BLORA (wartablora.com) — Terdorong keinginan mempunyai sebuah jembatan yang bisa menghubungkan du desa, yakni antar Desa Rogwobungkul dengan Desa Gedebeg, Kecamatan Ngawen, sudah sekitar sepekan ini, warga dua desa itu tak kenal lelah, melakukan kerja bhakti.
''Semangat dari warga untuk segera merampungkan jembatan penghubung antar dua desa itu luar biasa. Saya sangat mengapresiasi. Beberpa warga justru dengan sukarela secara bergantian mengirim makanan maupun sekedar es teh untuk warga yang sedang bergotong royong,'' ungkap Siswanto Spd, warga Desa Rogwobungkul, yang anggota DPRD Blora.
Menurutnya, sementara penggalian dana masih terus dilakukan, pembangunan jembatan sepanjang 6 meter dengan lebar 2 meter itu ditargetkan bisa rampung selama 3 pekan. Untuk itu, Siswanto berharap semuanya bisa berjalan sesuai rencana.
Sebagaimana diketahui, harapan warga dua desa paling Selatan di Kecamatan Ngawen, Blora, yaitu Desa Rowobungkul dan Desa Gedebeg untuk mempunyai jembatan permanen bakal segera terwujud. Setelah 25 tahun belakang ini jembatan yang pernah ada hanyut terbawa banjir.
Sejak jembatan hanyut terbawa banjir itu, warga dua desa tersebut harus memutar sepanjang 6 Kilometer jika ingin ke sekolah, pergi ke pasar, dan atau untuk keperluan lain. Selama ini warga harus menerima kenyataan, karena berbagai upaya tela dilakukan, semuanya mentok manakala sudah sampai pendanaan.
Melihat kondisi itu, adalah Siswanto Spd, tokoh muda yang ada di Desa Rowobungkul meendorong agar warga secara sukarela mau iuran untuk membeli material, sementara untuk tenaga akan dikerja bhaktikan secara bergiliran. ""Dan Alhamdulillah, terdorong dengan kebutuhan kan adanya jembatan benar-benar mendesak, sehingga warga dengan sukarela mau iuran.
Seperti Mimpi
Mengutip ungkapan sejumlah warga, Siswanto mengemukakan, bagi warga Desa gedebeg dan Desan Rowobungkul, pembangunan jembatan tersebut ibarat seperti mimpi. Hal itu bisa dimaklumi, selama ini anak-anak desa dua desa itu harus rela naik sepeda sejaug 12 Kilometer untuk pulang pergi ke sekolah. Ibu-ibu berjalan
Menurut Kadus Kepitu, Panijan, pembangunan jembatan penghubng dua desa itu diperkirakan akan menelan biaya sekitar Rp 30 juta rupiah. Saat ini meski dana masih kurang, namun berkat adanya iuran dari tiap-tiap warga sebesar Rp 50.000 hingga Rp 100.000, dan saat ini masih berjalan, dirasa cukup membantu kelangsungan pembangunan jembatan itu.
Ditambahkan Siswanto, menginjak hari ke delapan ini, prosentase pengerjaan jembatan sudah sangat signifikan,s ehingga target 3 pekan harus jadi mendekati kenyataan. ''Saya sendiri harus pontang-panting menggali dana dari banyak pihak. Mudah-mudahan mimpi warga Rogwobungkul dan Gedebeg itu benar-enar menjadi kenyataan,'' harap Siswanto, yang Ketua DPD II Golkar Blora itu. (*)
Pewarta : Hendrawan
Warta Blora.Com