Kamis, 06 April 2017, 14:18 WIB

Ini Kejadian Sebenarnya Sebelum Zainudin Dikeroyok

Pewarta : Gatot Aribowo
Gatot Aribowo Henik (tengah) dan Sugiarti (menggendong anaknya, Meisa) saat diwawancara wartawan, Kamis (6/4/2017).

BLORA (wartablora.com)—Malang dialami Zainudin, warga dari Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang beristrikan Sugiarti, warga Desa Bacem, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora. Ia yang semula hanya ingin membawa 2 buah hatinya dari rumah istrinya untuk diajak pulang ke Indramayu, malah dikira menculik anak.

"Kami memang ada konflik keluarga. Tapi itu biasalah, namanya juga hidup berumah tangga," Sugiarti, istri dari Zainudin, mengawali kisahnya kepada wartablora.com di RSUD dr. Soetijono, Kamis (6/4/2017).

Mereka berdua sebelumnya tinggal di Indramayu, tempat asal Zainudin. Hidup berempat dengan 2 anaknya—sementara 1 anaknya yang sulung tinggal bersekolah di Desa Bacem, Kecamatan Banjarejo, Blora—mereka tinggal di kontrakan. Keseharian Zainudin bekerja sebagai tukang bangunan.

"Lalu saya memutuskan untuk pulang ke Blora mengajak anak-anak," kisah Sugiarti.

Kangen dengan 2 anaknya, Sabtu (1/4/2017), Zainudin menyusul ke Blora, ke rumah istrinya di Desa Bacem, Kecamatan Banjarejo. Tak hanya melepaskan rindu, Zainudin berniat membawa 2 anaknya—Meisa (bungsu, 11 bulan) dan Zahra (34 bulan) yang turut jadi korban pengeroyokan—pulang ke Indramayu.

Setelah tak ada titik temu antara keinginan Zainudin yang ingin 2 anaknya ikut bersamanya dengan keinginan Sugiarti yang ingin 2 anaknya tetap berada di Blora, secara diam-diam Zainudin memuluskan keinginannya.

"Semula ia pamit mengajak anak-anak jalan-jalan dengan bersepeda," Sugiarti melanjutkan kisahnya dengan raut sedih.

Setelah sejam tak ada kembali, Henik, kakak kandung dari Sugiarti, mulai curiga. Ia berkali-kali mencoba telepon Zainudin, tapi tak diangkat.

"SMS juga tak dibalas," kata Henik yang bernama lengkap Henik Sulistiyawati.

Henik lalu memtuskan mencari Zainudin. Kecurigaannya semakin menguat tatkala mendapati sepeda yang dipakai Zainudin jalan-jalan ditinggal di jembatan desa. Lantas Henik meneruskan pencarian ke Ngawen. Ia cek satu-satu bis jurusan Jakarta yang mangkal di terminal Ngawen.

Hasilnya nihil. Zainudin dan dua kemenakannya tak ditemukan. Lalu tiba-tiba saja ia dapat kiriman SMS dari adik iparnya itu.

 "Setelah dapat SMS, saya kemudian menghubungi teman saya untuk mengantar saya ke Purwodadi," kata Henik sambil menunjukkan isi SMSnya ke wartablora.com.

SMS itu menyebutkan jika Zainudin telah membawa anak-anaknya ke Semarang, dan memohon doa keselamatan.

"Logika saya jika saya kejar ke Purwodadi, masih bisa dapat," ujar Henik.

Baru saja sampai di Ngaringan, Purwodadi, yang berbatasan dengan Kunduran, Henik menemukan adik iparnya itu berboncengan berempat dengan teman dan dua anaknya. Henik lalu mencoba menghentikan. Namun Zainudin ngotot tak mau berhenti.

"Saya sempat didorong mau jatuh. Beruntung tidak sampai jatuh. Kalau jatuh, saya tidak tahu apa masih hidup atau tidak. Sebabnya dari arah belakang meluncur kendaraan yang melaju kencang," ujarnya.

Dalam keadaan panik dan tegang itulah ia berteriak, "Anakku, anakku, anakku...," saat meminta tolong ke orang-orang yang ada di sekitar. Dikejarlah Zainudin yang membelokkan motornya ke arah Kunduran.

Menurut Henik sempat terjadi kejar-kejaran sebelum akhirnya motor yang dikendarai Zainudin bersama Agus, temannya, dan dua anaknya jatuh. Celakanya, saat jatuh itu tak ada dari massa yang mengejar untuk menolong dan membawanya ke kantor polisi terdekat untuk mencegah terjadinya pengeroyokan.

"Seharusnya ditolong, lalu dibawa ke kantor polisi, jangan dihakimi sendiri," saran Kapolres Blora AKBP Surisman saat dikonfirmasi wartablora.com. (*)



Jumat, 22 Desember 2017

Anggota Bhabinkamtibmas Polsek Jiken memelopori peternak sapi di desanya untuk mengembangkan alat giling pakan ternak. Sebagai bentuk kepedulian polisi terhadap masyarakat yang dibinanya.


Rabu, 03 Mei 2017

Sudah sering donor darah, tapi masih takut lihat jarum suntik dan darahnya sendiri. Selalu berdebar saat jarum hendak menusuk lengannya.


Juni 2017

Gencarnya polisi merazia pemakai kendaraan baiknya disikapi lebih arif dari warga negara. Tak perlu curiga bahwa polisi sedang mencari-cari kesalahan.


Back to Top
copyright © wartablora dotcom 2026
All right reserved