Jumat, 07 April 2017, 14:53 WIB

Rebutan Anak Berujung Pengeroyokan

Keluh Kesah Henik : Sejak Kecil Saya Rawat Adik Saya

Pewarta : Gatot Aribowo
Gatot Aribowo Henik Sulistiyawati, kakak ipar dari Zainudin.

BLORA (wartablora.com)—Hari-hari ini begitu berat bagi Henik Sulistiyawati. Belum lepas 40 hari meninggalnya suami, ia harus menerima cobaan berat lagi. Ia tak pernah menyangka, Rabu (5/4/2017) itu menjadi awal dia harus bersiap menghadapi persoalan hukum. Belum lagi ia turut berpikir keras untuk biaya pengobatan suami dari adiknya.

"Sejak kecil kami telah ditinggal Ibu, dan sejak itu pula saya yang merawat adik saya," kisahnya mengawali saat bercengkerama dengan wartablora.com di teras Ruang Wijaya Kusuma RSUD dr. Soetijono, Jumat (6/4/2017).

Henik Sulistiyawati adalah kakak ipar dari Zainudin, korban pengeroyokan massa warga yang terjadi Rabu (6/4/2017) di Desa Plosorejo, Kecamatan Kunduran. Massa yang menyangka Zainudin adalah pelaku penculikan anak juga menjadikan Agus Dendi Purwanto sebagai korban. Agus yang warga Desa Bakah, Kecamatan Kunduran itu adalah temannya Zainudin yang dimintai tolong Zainudin untuk mengantar ke Purwodadi. Agus, dikabarkan terakhir dirawat di RS di Purwodadi.

"Tadi saya ditelepon dari pihak keluarga Agus, dan meminta saya bertanggung jawab. Jika tidak mereka akan memproses hukum saya. Saya siap bertanggung jawab, tapi saya mohon untuk keringanan," pinta Henik.

Tak pernah ada niat jahat dalam benak Henik terhadap orang lain, lebih-lebih terhadap 2 keponakan dan adik iparnya itu. Henik bahkan berencana untuk menjenguk Agus. Tapi tidak waktu-waktu sekarang.

"Tadi Ibunya Agus telepon saya sambil marah-marah. Dia menuduh saya meneriaki maling-maling. Saya hanya teriak anakku-anakku. Belum sampai saya jawab, telepon sudah dimatikan," kata Bulik dari Meisa dan Zahra itu.

Bukan niat mencampuri urusan rumah tangga adiknya, namun Henik telah menganggap Meisa dan Zahra sebagai darah dagingnya sendiri. Apalagi sejak kecil ia yang selalu merawat ibu dari Meisa dan Zahra. Henik paham adiknya itu termasuk orang yang lemah. Ia hanya membela hak-hak dari adiknya terhadap dua anaknya yang hendak dibawa secara diam-diam oleh ayahnya.

"Kalau saya benci adik ipar saya, apakah saya akan turut menungguinya di sini? Apakah saya masih mau memikirkan bagaimana biaya untuk operasi dan perawatannya?" tanya balik Henik ke wartablora.com.

Bagi janda dengan 3 anak ini yang belum lama ditinggal mati suaminya itu, tanggung jawab juga seharusnya dimintakan ke para pelaku pengeroyokan. 

"Saya berharap polisi bisa menemukan para pelaku pengeroyokan. Hukum jangan hanya ditimpakan pada saya, tapi pada mereka juga yang melakukan kekerasan. Itu baru adil," cetusnya.

Kepada wartablora.com, Henik mengaku tak pernah ada niat untuk minta tolong warga buat bertindak kekerasan terhadap Zainudin, Agus, Meisa, dan Zahra. Ia hanya ingin warga menghentikan Zainudin untuk diajak bicara baik-baik soal Meisa dan Zahra ikut ayahnya atau ibunya.

Jika nantinya ada proses hukum, Henik berharap ada bantuan hukum yang diberikan padanya. Sementara jika dimintai bertanggung jawab terhadap pengobatan Agus, Henik berharap tidak dipermasalahkan jika bisanya membantu sekedarnya.

"Sebab saya juga masih menanggung beban biaya untuk adik ipar saya ini," katanya. (*)



Jumat, 22 Desember 2017

Anggota Bhabinkamtibmas Polsek Jiken memelopori peternak sapi di desanya untuk mengembangkan alat giling pakan ternak. Sebagai bentuk kepedulian polisi terhadap masyarakat yang dibinanya.


Rabu, 03 Mei 2017

Sudah sering donor darah, tapi masih takut lihat jarum suntik dan darahnya sendiri. Selalu berdebar saat jarum hendak menusuk lengannya.


Juni 2017

Gencarnya polisi merazia pemakai kendaraan baiknya disikapi lebih arif dari warga negara. Tak perlu curiga bahwa polisi sedang mencari-cari kesalahan.


Back to Top
copyright © wartablora dotcom 2026
All right reserved