BLORA (wartablora.com)—Operasi pertama Zainudin, korban pengeroyokan massa warga, telah dilakukan Jumat sore (7/4/2017). Operasi yang berlangsung selama 2 jam, dari jam 3 sore hingga 5 sore, merupakan operasi tahap pertama. Untuk operasi lanjutannya akan dilakukan minggu depan, seminggu kemudian.
Kakak ipar Zainudin yang sulung, Bambang, saat dijumpai wartablora.com di RSUD dr. Setijono Blora, Sabtu (8/4/2017), mengatakan adik iparnya itu perlu dua kali operasi.
"Dua kali operasi perlu dilakukan sebabnya bagian kaki bawah sudah pernah di-pen. Waktu dikeroyok kemarin (Rabu, 5/4/2017) pennya pecah," katanya.
Zainudin menderita luka parah di kaki kanannya saat dikeroyok massa warga. Tulang kecil di kakinya, di bawah lutut hingga betis mengalami pecah. Sebelumnya, kaki Zainudin dari bagian betis hingga tumit pernah di-pen. Sewaktu dikeroyok pennya pecah, dan ada bagian tulang di atas tumitnya yang bergeser.
"Operasi kemarin (Jumat, 7/4/2017) barulah mengoperasi luka barunya, dari lutut hingga betis. Ini masih menunggu satu minggu untuk operasi kedua," katanya.
Operasi kedua akan dilakukan secara keseluruhan, dari lutut hingga tumit.
Selain menderita luka di kaki kanannya, Bambang juga mengungkapkan jika memar di kepala bagian belakang Zainudin masih belum sembuh benar.
"Memar itu yang membuat dia seperti menderita gangguan ingatan," kata kakak sulung dari Sugiarti, istri Zainudin.
Sementara terkait dengan biaya operasi, Bambang mengaku belum tahu darimana mendapatkannya. Hendak menggunakan Jamkesmas, namun kartunya diterbitkan oleh provinsi yang berbeda. Zainudin sendiri berasal dari Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Ia beristrikan Sugiarti, warga Desa Bacem, Kecamatan Banjarejo.
"Ini karena tulangnya pecah, jadinya biaya operasinya mahal," keluh Bambang.
Bambang berharap ada keringanan biaya dari rumah sakit, atau dapat bantuan dari pemerintah.
"Ini tadi juga saya hendak konsultasi dengan Kanit (Reskrim Polsek Kunduran), selain perkaranya juga biaya operasi dan perawatannya," kata Bambang.
Zainudin adalah satu dari 4 korban pengeroyokan massa warga yang terjadi Rabu lalu (5/4/2017), di Kunduran. Massa warga membabi buta menghajar Zainudin dan Agus, korban yang lain, yang disangkanya penculik anak. Padahal Zainudin telah coba menyakinkan jika anak-anak yang dibawanya adalah benar anaknya. (*)
Gatot Aribowo